
Karena kesal,Heri membeli semua makanan sampai habis dan di bawa untuk yang punya keluarga,untuk nominal pemesanan tidak sedikit dan Heri senang bisa membantu Regina,dari jauh Regina melihat ke arah Heri.
“Makasih ya.”
Senyum Regina yang membuat jantung Heri enggak aman,Heri melihat ke arah lain,sedangkan Regina tetap profesional walau pesananya banyak dan aneh-aneh sedangkan Ibu Restauran sangat bahagia karena tutup dengan hasil yang sempurna.
“Coba aja semua pekerja Ibu,kayak kamu pasti tiap hari Ibu laku,susah sih dapat yang kayak kamu.”
“Ah! Ibu bisa aja,enggaklah ibu emang makanan ibu juga enak makanya cepat laku.”
“Tapi Ibu heran ya,itu kenalan kamu apa gimana?”
“Enggak kok Ibu,saya gak kenal kebetulan kakak itu sering makan di sini,saya juga enggak tau kalau dia orang penting.”
“Oh begitu,yaudah deh semoga bahan baku ibu cukup dan ini bonus untuk kamu Re.”
Regina menolak karena tau,kebutuhan Ibu Restauran lebih banyak darinya,Ibu Restauran hanya senyum,enggak lama sampai dirumah Regina membawakan barang yang layak untuk Tiara.
“Ti,maafin kakak ya kakak enggak tau,apa yang kamu mau tapi semoga kado dari kakak bisa menghibur kamu Ti,I love you adik kakak.”
Regina menahan tangis dan rasa lelah,begitu juga dengan Tiara yang tidur sambil mengeluarkan air mata,kebesokan paginya Regina di buatkan sarapan oleh Tiara dan secarik kertas.
“Kak,maaf ya kalau Tiara udah jadi adik yang selalu bikin kakak sedih,ini Tiara buatin sarapan untuk kakak,maaf kak kalau aku masih gak mengerti kakak gimana? Tapi kemarin aku bukan benci kakak,dan makasih kak sama barang yang kakak beliin,aku suka banget I love you too ka.”
Regina yang membaca secarik kertas itu hanya tersenyum dan merasa terharu sambil peluk secarik kertas,makan enggak lama mama memanggil Regina.
“Sayang.”
“Iya ma,ada apa?”
“Sini bentar,ada yang mau mama bicarakan sama kamu sayang.”
Mama memberi gelang satu-satunya untuk anak sulungnya,Regina bingung sambil melihat ke arah mamanya.
“Ini apa ma?”
“Untuk kamu sayang,di jaga ya mama mau kamu,simpan dan mama percaya pasti kamu bisa jaganya.”
“Loh? Kenapa mama,kasih aku benda berharga seperti ini ma.”
Mama tersenyum sambil mendekap anak sulungnya yang dengan kebingungan,mama pegang kedua tangan Regina.
“Sayang,kamu sama pentingnya untuk mama jadi wajar dong kalau mama kasih kamu benda yang sangat penting,bagi mama untuk kamu.”
Regina dengan tidak enak hati,bingung gimana ingin menerimanya akhirnya,mama memakaikan gelang itu di tangan manis anaknya.
__ADS_1
“Cantik,emang anak mama udah cantik sih,pakai ini tambah cantik lagi.”
“Makasih ma,aku enggak enak terima barang mama.”
“Enggak apa-apa sayang,mama udah simpan lama untuk kamu,ketika kamu besar nanti mama kasih dan sekarang udah saatnya bagi mama,untuk kasih kamu.”
Regina langsung merasa terharu dan peluk mamanya,langsung mengantar Selly ke sekolah sambil melihat ke arah gelangnya.
.
.
“Pagi semuanya.”
“Pagi Regina.”
“Stok udah pada di hitung belum?”
“Belum.”
“Iyaudah kalau gitu aku hitung stok,yang lain hitung apa yang kurang bisa di pesan ya.”
Ibu Restauran baru datang dan langsung duduk sambil di bawain es kopi sama Regina,dengan senyum manis Ibu itu melihat ke arah Regina.
“Oh,dari mama saya Ibu,ada apa Ibu.”
Heri yang baru datang langsung memicingkan matanya ke ara Ibu Restauran,yang selalu membudak Regina dengan tidak tahu malunya.
“Kalau Ibu gak punya uang,ibu pinjam gelang kamu ya.”
“Ah,maaf gimana ibu.”
Heri yang melihat tidak tahan,langsung menelpon semua klienya dan mengajak makan di Restauran itu,membuat obrolan itu menjadi lupa sedangkan Regina sudah tau ini adalah ulahnya Heri.
.
.
Makanan Heri datang dan langsung di antar oleh Regina,setelah itu Regina hanya diam sambil melihat ke arah Heri yang merasa gak enak.
“Kamu kenapa Regina,ada yang mau kamu bicarakan sama saya?”
“Ini semua ulah kamu ya?”
“Hmm,maksud kamu apa? Aku tidak ngerti?”
__ADS_1
Regina menunjuk semua tamu yang tiba-tiba datang kalau bukan karena ulah Heri,karena ulah siapa lagi Regina langsung menyerah akan kebaikan Heri,sambil duduk di sebela Heri.
“Kenapa sih,kamu baik terus sama aku,aku bingung mau gimana balas kamu.”
“Kamu tidak perlu balas,liat kamu tertolong aja aku udah senang.”
“Sayang tau,uang kamu.”
Heri hanya tersenyum dan merasa senang,karena mengenal wanita seperti Regina,yang peduli dengan keuangan Heri,setelah itu Ibu Restauran panggil Regina kembali.
.
.
"Ini makanan saya mana ya? Kok tidak keluar-keluar.”
Regina terlihat sibuk sampai-sampai Heri merasa tidak tega kepada Regina,tidak sengaja Regina menumpahkan air pada tamu dan makananya juga ada rambut.
Heri yang melihat itu tidak tahan dan langsung membawa Regina,Ibu Restauran merasa kesal kepada Regina,karena tidak bertangung jawab.
“Regina! Kalau kamu berani melangkahkan kaki kamu lagi,sampai di depan pintu jangan sampai,kamu bisa kerja di sini lagi.”
Heri tidak peduli dengan Ibu Restauran tidak jelas dan tidak tau malu itu,setelah itu Heri membawa Regina jauh dari sanah sambil berderai air mata di pantai yang sepi,nan sejuk sambil mendengar suara derai ombak.
“Kamu enggak apa-apa.”
“Kamu yang kenapa! Ngapain bawa aku pergi,kalau aku enggak ada perkerjaan gimana? Aku bukan kamu orang yang hebat yang gak perlu kerja,ada uang aku itu susah harus hidupin keluarga aku,termasuk aku jangan mengampangkan gitu dong.”
Heri yang mendengar itu hanya diam dan langsung memberi kartu namanya,kepada Regina,Regina yang awalnya menangis langsung berhenti lalu melihat.
“Ini,apa?”
“Ini kantor aku,kalau kamu mau besok pagi kamu datang,langsung di terima kok sesuai sama jabatanya nanti,kalau kamu enggak ngerti aku langsung yang turun tangan dan ajarin kamu? Mau kan.”
“Ini benaran? Kamu gak bohong kan,ini enggak mimpi kan? Kok kayak mimpi ya.”
Heri yang mendengar itu tersenyum sambil mengusap air mata Regina dan tersenyum kepada Regina,agar Regina tidak kepikiran lagi.
“Lagian,aku perhatiin Ibu Restauran itu aneh sama kamu.”
“Hmm,aneh kenapa?”
“Iya,aku ngeliatin kok sifat dia ke kamu.”
Regina merasa bingung dengan sikap Heri,setelah itu melihat dengan jelas sambil mendekatkan mukanya ke Heri,saat Heri berbelok ke arah Regina tidak sengaja Heri mengecup pipi Regina,keduanya diam tanpa suara.
__ADS_1