Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
52.Bos,apa saya masih ada kesempatan


__ADS_3

“Re,kenapa?


“Enggak apa-apa ma,aku capek aja mungkin.”


“Makanya kamu jangan kerja terus,kan kamu udah ada Heri,untuk apa kamu nikah kalau masih kerja?”


Mamanya tidak tahu bahwa anaknya dengan Heri,sudah memutuskan untuk berpisah,karena orangtua dari pria tidak terima menantu seperti Regina.


“Enggak ma,enggak apa-apa aku enggak enak,pakai uang Heri. Dia juga capek kerja kok,aku saling bantu aja sama dia ma.”


“Iyaudah,terserah kamu aja,yang jelas mama udah kasih tau kamu,oke sayang.”


“Iya ma,makasih ya ma aku selalu ingat kok,masukan dari mama jadi mama tenang aja ya ma.”


“Iya sayang.”


Akhirnya Regina,kembali main bersama keluarganya,mengajak keluarganya jalan ke mall bersama,sedangkan bos hanya tersenyum melihat Regina bahagia.


“Bos,sebentar lagi ada rapat.”


“Baik.”


Bos sontak bersiap-siap pergi rapat,setelah sampai rapat akhirnya bos dan semuanya,memulai materi untuk dirapatkan,sedangkan Heri di temani oleh Ella.


“Sayang,kamu kenapa sih? Kamu udah cuekin aku loh,selama satu minggu,kamu enggak kasihan apa sama aku?”


“Emang gua minta lu,buat perduli lagian ngapain sih? Lu masih perduli sama gua,enggak jelas banget.”


“Hmm,aneh ya di perduliin salah enggak juga salah,maunya apa si Her.”


Heri hanya diam sembari melihat handphone pintarnya,tidak ada satupun pesanya di balas oleh Regina,sedangkan Regina entah kemana,selesai jalan-jalan Regina melihat ada Heri dan sontak bergegas pergi,agar tidak bertemu dengan Heri. Sampai dirumah orangtua Regina.


“Pft,akhirnya sampai rumah ya ma.”


“Iya sayang,mama senang banget bisa jalan-jalan begini sama kamu,emang suami  kamu Heri,baik sekali dengan kamu.”


Regina hanya bisa dengan tertegun diam karena tidak ada yang bisa ia,lakukan selain dirinya harus bohong sementara dengan orangtuanya,di sisi lain papanya Regina sudah tau bahwa dirinya sudah berakhir dengan Heri.


"Sayang,ada yang mau papa,bicarain sama kamu."


Regina sontak bingung,hal apa yang ingin papanya katakan bersamanya.


Teras depan rumah yang bisa melihat,sekeliling dan juga langit yang indah pagi maupun malam hari.


"Sayang,kenapa kamu bohong sama mama dan papa kamu,soal hubungan kamu sama Heri."


Regina yang mendengar itu sontak,diam dan menundukan kepalanya. Di kala semuanya sudah tidur.


"Papa enggak masalah,kalau kamu enggak bisa jujur sama mama sayang,tapi jangan sama papa,papa tau betul kalau anak papa tidak bahagia dan merasakan sakit yang mendalam."


Regina yang mendengar itu sontak,sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa,karena kenyataan sudah di depan mata.


"Maafin Re,pa. Re terpaksa ngelakuin ini."


"Sepertinya papa mengerti,kenapa kamu bicara seperti itu sayang."


"Makasih karena papa,udah selalu mengerti aku pa,benar kata mama enggak seharusnya aku menikahi,lelaki itu pa."


Regina menanggis dengan tersedu-sedu seakan-akan tidak ada yang bisa,ia lakukan lagi selain menanggis dan mengeluh kepada papanya.


"Menanggislah sayang,karena papa enggak akan melarang kamu,melakukan itu."


"Makasih ya pa,aku sayang papa."


"Papa juga sayang kamu,Regina."


Selesai menanggis akhirnya Regina pulang kerumah,sampai dirumah bos duduk di sofa tamu sembari menunggu Regina.


"Loh bos? Bos tunggu saya?"

__ADS_1


Bos sontak mendekap Regina,tanpa menanya dimama Regina apa yang ia lakukan,tidak seperti Heri yang selalu berpuruk sangka kepadanya.


"Baguslah kalau kami enggak apa-apa sayang,aku senang kamu baik-baik aja."


"Iya bos,saya bisa kok,menjaga diri saya sendiri."


Bos yang mendengar itu tersenyum,sembari merangkul Regina ke arah meja makan.


"Hari ini,kamu enggak usah masak,karena udah aku masak,jadi kamu nikmatin aja makanan yang ada di depan kamu ya."


Regina yang melihat makanan yang hangat,penuh dengan cinta membuatnya merasa nyaman bersama bos.


"Bos."


Bos sontak melihat ke arah Regina,Regina mengecup pipi bos kepeleset ke bibir bos.


"Bos,maaf saya enggak bermaksud bos."


Bos hanyan tersenyum,seraya juga mengharpkan itu dari Regina.


"Loh? Bos kok enggak marah sih? Kan saya tadi engga-"


"Udah sering juga,buat apa kamu minta maaf?"


Regina memikirkan perkataan bos yang membuatnya yakin,perkataan bos ada benar juga sih. Lanjut makan Regina melihat ke arah bos.


"Bos,kenapa mukanya ditekuk? Ada masalah? Kalau ada cerita aja bos,siapa tau saya bisa bantu."


"Enggaklah Re,saya enggak mau ngerepotin kamu,justru saya enggak mau kamu terlibat dalam urusan saya."


Regina semangkin penasaran,apa yang disembunyikan bos,mengapa dirinya tidak boleh tau.


"Bos,bos boleh simpan semuanya sendiri,tapi bos jangan lupa ada saya yang bisa membantu bos,tanpa bos minta."


Bos yang mendengar itu hanya tersipu malu,sedangkan Regina malah merasa jengkel dengan sikap bos yang acuh tak acuh.


"Bos,dengar aku bicara sih?"


Selesai makan bos langsung membereskan piring,dibantu oleh Regina dan bos tersemyum kepada Regina.


"Kamu mau ngapain sayang?"


"Mau bantu kamu,emang enggak boleh?"


"Enggak usah kamu tidur aja,aku bisa kok aman."


Regina merasa kesal karena,dirinya tidak boleh kerja apa-apa dengan bos,akhirnya Regina mengambil alih dan bos tersenyum,sembari menghelus kepala Regina.


"Iyaudah yaya boleh,gitu aja marah."


Bos meninggalkan Regina yang,tengah cuci piring sedangkan bos hanya tersenyum sembari menaruh bokongnya di bangku makan.


"Bos."


"Hmm."


"Hari ini aku pergi sama keluarga aku."


Bos yang mendengar itu merasa bahagia karena kesukaan orang yang,disukanya tercapai sendiri.


"Hmm baguslah aku ikut senang,oh ya aku mau nyinggung dikit boleh."


"Boleh,tentang apa?"


"Mantan suami kamu enggak pernah kasih kamu ketemu dengan keluarga kamu emangnya?"


Regina hanya tersenyum,sembari mengelap piring dan setelah selesai,jalan ke arah bos dan duduk di depan bos.


"Ada kok."

__ADS_1


"Terus."


"Terus apa?"


"Kok kamu lebih beda pas saya kasih,ketemu di banding sama mantan suami kamu."


Regina mendekap tangan bos dan menaruh tanganya di,pipinya sedangkan bos hanya diam melihat Regina.


"Enggak tau kenapa,tapi emang beda aja,perasaanya bos sekali lagi makasih ya bos."


"Hmm sama-sama saya senang kok,bisa membantu walau gak bantu banyak."


"Kata siapa? Bos bantu banyak kok."


Bos hanya diam dan tersenyum melihat Regina juga senang,setelah itu bos mendekap Regina.


"Saya senang kok,kalau kamu senang jadi tenang aja ya."


"Iya bos,makasih ya bos."


"Kenapa sih kamu selalu panggil saya bos? Sayang gitu."


"S-sayang."


"Iyaudah kalau enggak mau enggak apa-apa,aku pergi dulu."


Bos pergi dari hadapan Regina,Regina menahan tangan bos sembari mengecup pipi bos.


"Udah jangan marah lagi,aku kebiasaan."


"Hmm."


"Yey gitu dong jangan marah,kalau kamu marah aku jadi bingung harus gimana."


Bos sontak menghelus kepala Regina dan pergi dari hadapan Regina sembari,mengepakan jasnya.


Sembari di kamar Regina berpikir,kenapa dulunya memutuskan pernikahan terlalu cepat,sampai dirinya tidak bisa merasakan sebahagia ini.


.


.


"Baik pak,kalau gitu saya jalan sekarang."


Regina bingung bos berbicra dengan siapa,setelah menghampiri bos dengan senyum.


"Sayang,kamu telepon sama siapa?"


"Oh klien biasa,kenapa sayang?"


"Kamu mau sarapan."


"Mau dong,masa enggak."


Setelah selesai makan,Regina merasa kesepian walau bos sudah mengecup keningnya,tetap saja ada yang kurang.


.


.


"Malam sayang,maaf ya aku telat pulangnya."


"Hmm iya enggak apa-apa."


"Hmm kamu kenapa? Marah? Maaf ya,aku emang rapatnya sampai malam,aku juga rindu kamu kok."


Regina yang mendengar itu hanya diam dan tidak bisa berbicara apapun,walau sebenarnya dirinya juga sayang dengan bos.


"Iyaudah bos,mau gimana lagi,yang penting bos enggak apa-apa udah lebih dari cukup kok."

__ADS_1


Bos tersenyum sembari pegang kedua tangan Regina,memperhatikan Regina dengan tulus.


__ADS_2