
"Kak."
Regina masih diam dan tidak menjawab perkataan kedua adiknya,kedua adiknya sontak bingung ada apa dengan kakaknya,tidak seperti biasanya.
"Kak!"
Regina sontak menoleh dengan kaget sambil melihat ke arah adiknya,tersenyum lemas mau marah enggak tega,Regina langsung peluk kedua adiknya.
"Duh,kalian ini ya buat kakak kaget aja,senang ya liat kakak jantungan."
"Habis,kakak kebanyakan bengong,ada apa sih kak?"
"Hmm,gini kakak mau nanya sama kalian."
"Nanya apa kak?"
Regina bingung ingin memulai dari mana,karena takut adik-adiknya salah paham,akhirnya Regina menghela nafas sambil dengan mata yang berbinar-binar.
"Kalau,andai kakak nikah,kalian sedih gak?" tanya Regina kepada dua adiknya.
"Enggak,kalau kakak bahagia,kenapa harus sedih?"sahut Tiara dengan senyum semengeringai yang ada arti.
"Hmm,kok kalian enggak sedih,kok kakak kecewa ya?"Regina yang merasa bingung sekaligus sedih.
"Kak,semua akan ada pertemuan dan perpisahan,menurut aku kalau kakak udah nikah,kita tetap akan ketemu kak,terus apa yang harus buat kita sedih."
Regina yang mendengar ucapan adik-adiknya seketika menjadi orang baru dan kuat,seraya tidak ada yang terjadi sampai Regina juga ikutan tersenyum.
.
.
"Kak."
"Iya sayang."
"Kakak,hari ini jadi ke sekolah aku kan?"
"Hah? di sekolah kamu? ada apa sayang."
Selly langsung menghampiri kakaknya dan pegang kedua tangan kakanya,dengan muka melas yang membuat Regina melemah lalu berlutut di depan Selly.
"Apa sayang? maaf kakak lupa ya? apa-apa."
"Acara orangtua kak,aku ikut baca puisi loh,puisi buatan aku sendiri."
"Hah? serius sayang,ok ayo."
"Semoga aku menang ya kak."
__ADS_1
"Sayang,dengarin kakak menang atau kalah terakhir,yang penting kamu udah mempersiapkan yang terbaik ok sayang,menang dan kalah tetap ada hadiah itu yang penting."
Regina langsung bergegas pergi bersama Selly,sampai di sekolah Selly. Regina terus melihat ke arah Selly dan juga semangatin Selly.
"Regina."
Regina mendengar suara tidak asing,yang membuatnya bingung sekaligus,penasaran apakah orang yang di pikirkan,benaran orang itu. saat menoleh.
"Regina!"
"E-eh iya pak,ada apa?"
"Gimana jawabanya?"
"Saya,belum bisa putuskan pak,karena saya punya orangtua,dan orangtua saya berhak tau."
"Iyaudah kalau gitu,lagian ini pura-pura kok,bukan seriusan lagian saya pakai kamu,kalau lagi ada urusan aja kalau enggak ada yah gak usah."
"Iya tetap aja pak saya gamau jadi bicara oranglain."
Heri hanya menghela nafas,seraya dia salah pilih wanita walau sebenarnya wanita ini juga,wanita yang di cintainya setelah itu Heri pergi,dari hadapan Regina.
Regina merasa senang karena Heri pergi,dari acara Selly bagi Regina,adanya Heri di sini akan menimbulkan salah paham dan membuat Selly tidak fokus akan lomba puisinya.
"Mari kita sambut lomba baca puisi,Selly! ayo di persilahkan naik ke panggung."
Selly terlihat sangat takut dan demam panggung,tapi arah matanya menuju ke arah kakaknya yang selalu mendukungnya,di tambah kakaknya juga sudah berpesan menang dan kalah tidak jadi masalah,yang penting sudah melakukan yang terbaik.
"Apa dia enggak suka gua ya? masa sih kok bisa? kan gua yang dulu sama sekarang,okean sekarang kenapa dia kayak cuek banget ya?" gumam Heri dalam hatinya yang bingung akan Regina.
Selly memulai baca puisinya yang,membuat Regina tersentuh sontak berlinang air mata di pipinya,Heri yang melihat itu langsung mengusap dengan sapu tanganya,Regina bingung dan melihat ke arah yang memberi sapu tangan.
"Jangan nangis,udah jelek juga tambah jelek nanti."
"Ih,apaan sih pak! saya sedih tau adik saya bisa sehebat itu saya gak nyangka aja,saya kira saya gagal mengajari adik saya,enggak taunya dia lebih hebat dari saya."
"Terus?"
"Saya bangga pak."
Heri sontak peluk Regina,Regina hanya diam dan tidak membalas apa-apa,sedangkan Heri yang sadar langsung mendorong Regina yang terjatuh dari bangku.
"Duh pak,pelan-pelan dong sakit tau."
"E-eh kamu enggak apa-apa."
Heri bergegas membantu Regina,dengan bingung dan harus berbuat apa.
"Kamu makanya jangan suka ngagetin dong."
__ADS_1
"Siapa yang ngagetin? aku kan habis nangis kamu aja yang gak jelas."
Heri tersenyum dengan lepas,sedangkan Regina jarang melihat Heri seperti itu.
"Eh jangan gitu,semua orang pada liatin kamu itu,emang kamu itu suka ya jadi pusat perhatian."
"Emang kalau aku,jadi pusat perhatian kenapa?"
Regina hanya diam dan selesai Selly membaca puisi,Regina harap Selly menang agar Regina bahagia dengan Selly.
"Kak."
"Hai sayang,tadi penampilan kamu bagus banget kakak,sampai takjub liat kamu sayang."
"Serius kak? aku jadi senang kakak bilang gitu tapi aku menang gak ya kak?"
"Enggak apa-apa sayang,yang penting prosesnya udah baik sini,peluk kakak."
Selly peluk Regina,sontak Heri melihat hal itu berkode,ingin di peluk juga dengan Regina tapi Regina enggak peduli.
"Sini sayang duduk,kamu lapar gak? makan dulu ayo baru ke sini lagi."
"Enggak deh kak,aku di sini aja aku mau tunggu hasilnya."
Regina senyum dan gak lama Regina keluar dari aula lalu disusul oleh Heri.
"Loh pak? ngapain ikutin saya?"
"Lah,emang ini jalan punya kamu,bebas dong saya mau ke mana aja."
"Iyaudah pak,kalau begitu saya duluan,mari pak."
Heri yang dengan gengsi sebenarnya,mau ikut Regina tapi gak berani berkata,takut Regina merasa risih atau terganggu.
.
.
"Pak,sebenarnya bapak mau ke mana sih? dari tadi celingak-celinguk gak jelas,bapak kan enggak tau jalan sini"
"Saya mau ke-ke mana ya? bingung saya juga,yah suka-suka sayalah,kamu kenapa sih? bingung saya sama kamu."
"Mau makan pak? yaampun saya nanya baik-baik malah di marahin,hmm yaudah deh pak,iya-iya"
"Enggak,kata siapa? maaf saya tadi kebawa emosi."
Regina masih gak ngerti,apa maunya Heri setelah jalan Heri di dorong anak-anak dan Regina spontan menolong Heri.
"Pak,enggak apa-apa. pak? ada yang luka enggak pak saya bawa kerumah sakit ya,takut ada luka nanti kalau di diamin,infeksi loh pak."
__ADS_1
"Enggak apa-apa,lagian kamu ngapain bantuin saya,saya bisa sendiri dan saya juga enggak ada luka,lagian saya ini cowo masa hal kecil aja buat saya lemah."
Regina hanya mengeleng kepala dan pergi dari hadpan Heri,selesai makan Regina beli makan untuk adiknya Selly lalu balik ke aula.