
"Sayang."
"Iya Re,ada apa?"
"Makan sini ayo,aku lapar."
"Ok."
Bos pesan nasi goreng untuk dirinya dan juga Regina,setelah itu bos masuk ke mobil.
"Kamu kenapa? Mau makan pedas,kesal sama mulut orang kantor."
"Iya kok kamu tau."
"Udahlah jangan masukin dalam hati,kan kamu tau,mereka suka iri."
Regina yang mendengar itu sontak mengecup pipi bos,bos hanya diam sembari melihat Regina.
"Sayang."
"Hmm."
"Hubungan kita apa?"
Bos hanya diam dan tidak bisa menjawab sampai akhirnya,nasi goreng mereka. Tiba setelah tiba mereka makan.
"Makan dulu Re,baru bicara."
Regina yang melihat bos seperti itu,hanya memicingkan matanya. Sembari melihat ke arah bos.
"Kenapa lagi Re? Saya salah terus sama kamu perasaan."
"Hmm enggak kok,saya bingung aja tumben bapak mau makan,biasa bapak enggak mau makan? Kok sekarang mau makan."
"Enggak. Tau,karena kamu kayaknya jadi saya mau,makasih ya udah ngajarin saya banyak makanan enak."
"Hmm sama-sama pak."
Akhirnya mereka berdua lanjut makan,setelah selesai makan bos balikin piring dan membayar.
"Mau kemana lagi?"
"Mau pulang aja bos,capek udah malam."
"Baik."
Bos mengantar Regina pulang,sontak Regina mikir kenapa bos sangat perhatian dan baik kepadanya.
.
.
"Re,kamu masuk duluan aja,saya masih ada urusan."
"Urusan apa sayang?"
Bos yang mendengar itu,hanya diam tidak bisa berkata apa-apa,sembari itu Regina pegang kedua tangan bos.
"Udah,bos ikut saya aja ayo ke dalam,bersih-bersih istirahat."
Bos yang melihat itu merasa dirinya seperti,pasutri yang baru menikah,apa seindah ini ya kalau menjadi pasutri dengan orang hang dicintai.
"Saya ke kamar saya ya bos,bye."
Bos hanya diam tidak bisa berkata apa-apa,sedangkan Regina sudah pergi duluan tanpa bertanya macam-macam dengan Regina.
"Kenapa? Regina perlakuin saya seperti ini ya? Padahal kan saya bukan siapa-siapa dia."gumam bos kepada Regina.
.
.
Heri yang masih diam tidak bisa berkata apa-apa,mama mengetuk pintu kamar Heri tetapi,Heri tidak perduli kepada mamanya.
"Sayang makan ayo."
"Kalau mama sayang aku panggil Regina sekarang ma."
Mama bingung mengapa anaknya sudah tercantol,sekali dengan Regina padahal Regina sudah pergi dari hidupnya.
Sembari mama pergi dari hadapan Heri,Heri terus memandangi foto Regina sembari air matanya keluar.
__ADS_1
.
.
"Pagi bos."
"Pagi Re."
Regina yang sedang masak di dapur,membuat bos bingung,mengapa dirinya serajin itu.
"Re,kalau kamu enggak mau masak enggak apa-apa kok saya enggak maksa kamu,lagian kamu itu bukan pembantu kan kamu calon istri saya."
Regina tersenyum sembari,selesai masak,memindahkan lauk ke piring-piring di bantu bos.
"Iya saya tau bos."
"Hmm terus? Kenapa rajin banget."
"Iya,kalau saya enggak bisa masak,kasian dong bos beli makanan di luar terus?"
Bos hanya tersenyum saat Regina berkata demikian.
"Ayo makan bos."
"Iya ini mau makan kok."
"Wangi ya."
Regina sontak tersenyum,senang saat makananya di puji oleh bosnya.
"Bos,hari ini pulangnya telat ya?"
"Iya kok,kamu tau."
"Saya liat jadwal bos kemarin."
"Hmm,kamu enggak sedih kan kalau saya pulang telat?"
Regina sontak mendekap bos dengan erat,sembari bos diam dan tidak tau harus, berkata apa.
"Yah hati-hati ya bos,kalau capek pakai supir aja,jangan di paksa untuk pulang sendiri."
Bos yang mendengar itu dari Regina,membuat dirinya bangga memiliki,calon istri seperti Regina.
Regina senyum dan lanjut makan,seketika Regina lupa kalau dirinya sudah punya suami,karena terlalu sering di sakiti oleh keluarga cowo.
"Ayo berangkat Re."
"Iya sayang."
Mereka naik ke mobil yang sama,orang rumah bos senang melihat bos,memiliki calon istri membuat mereka merasa berbeda dengan bos sendiri.
Sembari bos pegang tangan Regina,di dalam mobil Regina hanya tersenyum sembari melihat ke arah bos.
"Bos."
"Iya sayang."
"Kenapa bos pegang tangan saya."
"Oh ya,maaf ya."
Saat bos ingin melepas dekapan tangan Regina,ditahan oleh Regina di liat dengan bos dan tersenyum.
"Saya nanya doang kok bos,bukan berarti saya enggak suka."
"Kamu enggak bisa ya? Panggil saya nama."
Regina bingung dan sontak melihat ke arah bos,dengan menaruh kepalanya di pundak bos.
"Bos mau saya panggil apa?"
"Sayang."
"Sayang kan emang saya panggil itu."
Bos tersenyum seketika semangatnya berubah menjadi 100%,melihat tingkah Regina yang mengemaskan.
Sampai di kantor mereka pisah,seperti biasa,walau sebenarnya bos mau,memberi tahu bahwa Regina adalah calon istrinya.
"Eh,lu pada tau enggak sih? Regina udah ada suami loh! Ckck gila ya! Tapi masih main gila aja sama suami orang,heran deh."
__ADS_1
Bos yang mendengar itu,sontak kaget dan jalan ke arah kantornya,sembari memanggil Regina ke kantornya.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu dari arah luar.
"Iya masuk."
Regina masuk ke dalam sembari jalan ke hadapan,bos dengan muka bingung dan banyak tanda tanya.
"Bos,panggil saya? Ada apa bos?"
"Iya saya panggil kamu,duduk."
Bos hanya diam dengan pandangan,yang kosong seperti tidak ada artinya.
"Ada apa bos?"
"Saya mau nanya tapi,kamu jawab jujur ya."
Regina menganggukan kepalanya,dalam diam dengan muka takutnya,bos yang melihat mukanya merasa tidak adil untuknya,setelah itu bos jalan ke arah Regina. Mendekap Regina dengan erat.
"Re,apa benar? Kamu udah ada suami?"
"H-hah? Bos tau darimana?"
Regina yang tau itu,sontak kaget tanpa bingung harus berkata apa lagi.
"Kamu jawab aja dari pertanyaan saya,saya enggak minta kamu untuk balik bertanya ke saya,jawaban nya ya atau enggak."
Regina menganggukan kepala,sembari bos melihat ke arahnya,pegang kedua wajah Regina.
"Re,enggak apa-apa,kamu bilang aja lagian saya enggak akan marah sama kamu,kamu jujur juga saya akan selalu sayang kamu Re!"
"Iya bos,saya udah ada suami."
Bos melemah mendengar itu,setelah itu Regina membantu bos untuk berdiri,bos melepaskan dengan pelan tangan Regina.
"Udah Re,cukup! Jangan sakitin saya lagi,saya butuh ruang,kamu bisa tinggalin saya sendiri."
Regina yang tidak mau pergi,akhirnya dicuekin oleh bos,Regina merasa terpukul,melihat sikap bos seperti itu kepadanya.
Regina menanggis dan berlari tidak tau arah,walau sebenarnya dirinya ingin jujur pada bos,tapi enggak taunya udah ketawan duluan.
"Kenapa ya,liat bos sakit aku juga sakit." Gumam Regina kepada dirinya.
Handphone Regina berdering dari suaminya,Heri. Regina sendiri udah malas mengangkat telepon Heri,mereka juga sudah bercerai dari pihak suami,sudah memutuskan jadi untuk apa lagi,Regina menjawab telepon Heri.
.
.
Sore hari,bos tidak ada di kantor saat Regina dirudung oleh orang kantor,bawahan bos menyelmatkan Regina dan di bawa kerumah bos.
"Makasih ya."
"Baik bu,kami permisi dulu."
Regina merasa takut sekaligus,terauma melihat orang kantor yang berani begitu jahat kepada dirinya.
Bos pulang dengan bingung harus berbuat apa dengan Regina,saat bos mau masuk kamar Regina. Bos menahan dirinya dan pergi dari situ.
"Re! Kamu ngapain? Kok belum tidur."
"Iya ini mau tidur bos."
Bos melihat ada luka di pipi Regina,bos langsung mengompres pipi Regina.
"Re,kamu kenapa sih? Kok bisa begini mukanya."
"Hmm enggak apa-apa kok bos."
"Enggak usah bohong,bisa enggak belajar jujur gitu."
Regina tertawa,mendengar bos begitu perhatian kepada dirinya,sontak bos pegang kedua wajah Regina.
"Kamu kenapa sayang?"
"Aku dirudung orang kantor."
"Hah? Siapa? Kasih tau aku,biar aku pecat mereka."
__ADS_1
Regina hanya mengeleng kepala dan senyum,ketika bos berkata demikian terhadapnya.