
“Kamu,udah sarapan Regina?”
Regina menoleh ke arah Heri,Heri yang measa cangung jadi merasa takut salah bicara,kepada Regina dan Regina hanya tersenyum.
“Udah,kamu udah?”
“Udah kok,baru aja.”
Regina hanya tersipu malu,saat di perhatiin sama bos barunya,setelah sampai di kantor mereka berpisah,Regina masuk dari lobi sedangkan Heri dari belakang gedung yang mengarah ke kantornya.
“Permisi kak,aku mau interview kerja,ruangan pak Heri di sebelah mana ya?”
“Maaf kakak ini siapa namanya,terus mau lamar bagian apa ya?”
Heri langsung datang dan setelah itu membawa Regina ke ruanganya,sedangkan bagian resepsionis tadi tidak enak dan langsung menundukan kepala,diruangan Heri.
“Kamu enggak usah interview,langsung kerja aja aku yakin kamu yang aku cari.”
Regina hanya dia dan shok,lalu Heri melihat ke Regina dan sambil senyum ke arah Regina,yang membuat Regina tidak habis pikir.
“Kenapa? Kamu mau tau ruangan kamu dimana?”
Regina langsung menganggukan kepalanya kepada Heri,setelah itu Heri telepon bagian sekertarisnya untuk mengajak Regina keliling.
“Kak.”
Sekertaris Heri penasaran kenapa,tiba-tiba Heri cepat mendapat kan orang dan dia turun tangan sendiri untuk mencari bagian ini.
“Iya,ada apa kak?”
“Kakak kenalan pak Heri ya? Kok bisa masuk di sini,setau saya ya susah banget loh standart pak Heri.”
Regina ngerasa sekertarisnya membuatnya risih dan setelah itu Regina hanya bisa tersenyum,agar tidak menyakitinya akhirnya sampai juga mejanya di ruang sebelah tepat di sebelah Heri.
“Hai,ketemu lagi kita.”
Regina kaget dan masih gak ngerti kenapa mejanya harus bersebelahan ruangan bersama Heri,setelah itu Regina menjalankan tugasnya selagi tidak mengerti dia langsung mengetuk pintu ruangan Heri.
“Masuk.”
Regina langsung menghampiri Heri dan jalan ke arah Heri untuk menanyai hal-hal yang tidak dia mengerti dan membuatnya bingung.
“Permisi pak.”
“Iya,ada apa?”
“Ini maksudnya apa ya pak? Saya gak ngerti.”
“Mana? Coba saya liat.”
Regina mendekatkan dirinya ke dekat bosnya Heri,Heri merasa jantungnya berdegub kencang tanpa di minta,setelah itu mukanya merah merona.
“Ini pak,gimana ya? Ajarin saya dong pak,saya gak ngerti.”
“Iya,bentar saya pelajarin dulu saya agak lupa,tapi bentar ya saya liat dulu.”
Heri mencoba fokus kepada kerjaanya bersama Regina dan jangan memikirkan perasaanya terhadap Regina,Heri harus bisa membedakan dimana harus profersional serta pribadi,walau kadang sebenarnya kehadiran Regina di perusahaanya adalah kesalahan,tapi mau gimanapun semua ini salah Heri,sampai Regina di pecat paksa dari perkerjaan lamannya.
__ADS_1
“Oh,ini kamu buka aja file yang nanti saya kirim di email,kamu cek ya.”
“Baik pak.”
“Oh ya satu lagi,kalau kamu masih enggak ngerti tanya ke saya ya.”
“Baik pak,makasih ya pak. Saya balik lagi keruangan saya pak.”
Regina bergegas pergi keruangnya,sambil mengerjakan laporan yang di beri bosnya Heri dan setelah selesai,Regina mengirim ke email dan banyak yang harus di revisi.
“Pft,lelah malah lapar.”
Heri yang melihat dari jendela langsung telepon ob dan pesan makanan,untuk Regina,Regina merasa senang sekaligus bingung siapa yang pesan makan.
Saat melihat ke arah Heri,terasa tak mungkin apalagi Heri adalah bos yang kejam dan tidak peduli dengan karyawan,setelah itu Heri pergi dari ruanganya Regina mengerjakan dengan serius,sampai akhirnya selesai tepat waktu.
.
.
“Akhirnya selesai juga pft,senang banget.”
Tiara langsung telepon kakanya dan Regina senang banget melihat adiknya Tiara telepon dirinya,dengan senyum yang manis.
“Iya dek,ada apa?”
“Kakak lagi apa?”
“Lagi mau pulang ini,ada apa dek?”
“Oh hati-hati ya kak.”
Regina yang mendengar Tiara semangkin perhatian kepadanya,membuatnya mangkin semangat berkerja dan mencari uang untuk adik-adiknya.
.
.
“Regina!”
Suara yang dari jauh sanah,membuat Regina menoleh di hari hujan,dengan ditutup oleh payung dan mengikuti langkah suara itu.
.
.
“Loh pak,bukanya bapak udah pulang ya tadi?”
“Belum,saya ada yang ketinggalan kamu sendiri kenapa? Enggak pulang?”
“Iya,soalnya saya mau selesain revisi pak,saya gak enak takut bapak mau pakai.”
“Udah di luar jam kantor kali,boleh kali panggil nama aja.”
“Heri? Mana enak sih pak,ada-ada aja.”
“Dih,biasa juga kamu panggil saya Heri,kenapa jadi enggak enak.”
__ADS_1
“Iya enggak enaklah pak,kan bapak atasan saya gimana sih bapak?”
Heri yang mendengar itu kesal dan gemas dengan perlakuan Regina kepadanya,sepanjang jalan mereka berdua hanya diam lalu perut Regina bunyi berasa di ajak ribut.
“Reg.”
“Iya pak.”
“Perut kamu lapar?”
“Hmm,iya ini pak eh maksud saya,Heri tapi enggak apa-apa kok aku makan dirumah aja.”
“Emang dirumah kamu ada makanan?”
Handphone Regina bunyi,spontan Regina langsung mengambil handphonenya dan melihat dari siapa ternyata Selly.
“Kak,beli makanan ya dirumah enggak ada makanan,terus gak ada uang mau beli beras sama telur,maaf kak.”
“Ok sayang.”
Heri langsung mengajak Regina pergi belanja bulanan dan juga makan untuk perutanya,tapi sebelum belanja bulanan mereka makan dulu biar ada tenaga.
“Pak.”
“Hmm.”
“Yakin mau makan pinggir jalan lagi? Emang perutnya bisa terima?”
“Bisa kok aman.”
Heri tersenyum kepada Regina,Regina hanya senyum terkekeh-kekeh melihat tingkah lucu dari Heri,mereka beli nasi goreng tek-tek paling enak di sana.
“Lapar juga pak?”
“Enggak kok saya temanin kamu aja,kan kamu lapar jadi saya temanin makan gitu.”
Perut Heri bunyi dan mengajak perang juga seperti perut Regina awalnya,Regina hanya tersenyum sambil mengeleng kepalanya.
“Iyaudah kalau lapar mah,ngaku aja pak enggak usah pura-pura saya juga gak bakal gimana-gimana kok pak.”
Heri merasa malu telah sok tegar di depan Regina,ternyata malah perutnya ikut bunyi karena seharian Heri menunggu Regina keluar dari kantor,sampai enggak sempat makan untuk dirinya sendiri anggapannya yang penting,Regina udah makan dia lebih tenang.
.
.
“Ini makananya mas 2 nasi goreng ya.”
“Makasih mas.”
Heri makan dengan lahap,sedangkan Regina makan dengan biasa aja,anggapan Regina melihat Heri yang makannya sampai lahap membuatnya,secara langsung merasa kenyang.
“Kenapa kamu liatin saya terus?”
Heri bertanya karena bingung dengan Regina yang terus melihat ke arahnya,Regina hanya tersenyum dan gak nyangka kalau Heri termasuk pria yang peka dia pernah kenal.
“Kamu lapar banget kayaknya,makanya aku kaget liat kamu makan gitu.”
__ADS_1
“Hmm,jahat pasti kamu mau ngeledek aku ya?”
“Lah? Mana ada gak berani aku sama kamu,kan kamu bos aku.”