Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
69.Demikian


__ADS_3

“Kenapa,aku salah? Aku enggak boleh kayak gitu,ada yang larang?”


Bos tersipu malu,sembari mendekap Regina lebih erat dengan perasaan lelah yang tidak bisa di jelaskan.


“Maafin aku ya sayang,udah buat kamu cemburu.”


Bos melihat ke arah Regina,bos merasa malu dan menutup mukanya dengan kedua tangan yang besar nan berurat.


“Ih! Kamu kenapa sayang? Kok malu-malu gitu,ada apa?”


“Enggak,aku baru kali ini begini ke kamu,enggak seharusnya aku jujur sama perasaan aku ya sayang.”


“Loh,emang kenapa?”


“Iya,jadi malu-maluin kan masa aku malu-maluin depan kamu,calon istri aku.”


Regina malah tertawa kecil sembari menghelus kepala bos,bos melihat itu tersenyum kepada Regina.


“Makasih sayang,udah bisa senyum lagi aku suka kalau kamu ketawa,senyum dan bahagia itu yang aku harap untuk kamu,tapi kadang aku malah lebih bisa buat kamu nangis daripada bahagia,maafin aku ya sayang.”


“Hmm,kata siapa? Kebalik kali,aku yang buat kamu nangis haha,udah ah makan ayo,nanti perut kamu bunyi lagi.”


Bos mengaruk kepalanya dengan menahan malu kepada Regina,setelah selesai masak akhirnya Regina menaruh makanan di meja,kuahnya sedikit tumpah di tangan Regina.


“Aww.”


“Kenapa sayang?”


“Enggak kok enggak apa-apa.”


Bos membawa Regina mencuci dengan air mengalir,agar lukanya tidak jadi dan malah sembuh total.


“Makasih ya,kamu cepat banget mengalami hal apapun.”


“Iya dong,semua tentang kamu harus cepat,kalau enggak cepat nanti aku yang merasa,gak guna untuk kamu.”


“Kamu bicara apa sih.”


Selesai di obatin akhirnya bos mengusap tangan Regina,sembari meniup tangan Regina agar tidak perih dan melap tangan Regina.


“Udah sayang,lain kali hati-hati ya jangan sampai ceroboh lagi,kalau kamu ceroboh lagi nanti aku sedih,emang kamu mau liat aku sedih sayang?”


“Enggak dong,kalau kamu sedih aku juga ikut sedih.”


“Udah,kamu istirahat aja,biar aku yang beresin.


“Makasih ya sayang.”


Regina jalan sembari pegang luka yang ada di tanganya,setelah itu Regina sontak melihat ke arah bos yang selesai beberes.


“Tangan kamu ada bekas enggak sayang?”


“Enggak tau sayang,kalau kamu liat gimana?”


“Mau aku pakein salep enggak?”

__ADS_1


“Boleh,tapi aku sendiri aja enggak apa-apa aku enggak mau ngerepotin kamu sayang.”


Bos hanya tersenyum,sembari mengambil salep di kotak obat,setelah ambil akhirnya mengobati luka Regina.


“Sayang.”


“Iya kenapa?”


“Aku aja obatin sendiri,bos aku bisa kok.”


“Enggak usah Re,aku aja aku enggak mau kamu mangkin parah,jadi aku aja oke.”


Regina merasa tidak enak kepada bos,bukan karena rasa sungkan melainkan,bos sudah terlalu baik kepadanya dan juga bos sudah membantu banyak kepadanya.


“Aku senang kok ngobatin kamu,jadi kamu tenang aja sayang,kamu jangan merasa terbebani ya,aku selalu senang ngelakuin hal apapun bersama kamu,jadi kamu tenang aja oke.”


Regina tersenyum sembari mendekap bos,setelah itu bos juga membalas dekapan Regina.


“Sayang,jangan sampai terluka lagi.”


“Iya bos,Regina janji.”


Regina tersenyum sembari mendekap bos,sedangkan Heri dan Ella sedang melihat tanggal pernikahan.


“Kamu benaran hamil kan El.”


“Iya sayang,kenapa? Kamu enggak percaya sama aku?”


“Percaya kok,emang aku ada bilang,aku enggak percaya kamu?”


“Enggak aku cuman memastikan aja.”


“Her.”


“I-iya aku mau nanya,sayang.”


“Hmm,nanya apa?”


“Kamu masih sayang Regina?”


Heri yang mendengar itu sontak kaget melihat ke arah Ella,Ella hanya diam sembari membuang muka kepada Ella.


“Sayang! Jawab dulu,aku nanya kenapa sih? Kamu selalu mengelak,setiap aku tanya Regina? Kalau emang enggak suka kan tinggal bilang,kenapa enggak bisa jawab?”


“Iya,emang kalau suka kenapa? Kalau enggak kenapa?”


“Iya! Aku mau tau! Kenapa kamu enggak jawab!


Heri membuang muka,seolah-olah dirinya membenci calon istrinya sendiri,walau begitu Ella tetap berusah dan mendekap Heri dari belakang.


“Sayang,maafin aku ya aku tau,kamu marah,aku cuman mau tau kamu sayang aku,sepenuhnya atau enggak.”


Heri yang mendengar itu hanya diam dan menepis tangan Ella,Ella merasa tersakiti oleh sikap Heri,enggak lama Heri pergi dari hadapan Ella.


“Heri! Kenapa sih! Dia selalu aja,berusaha untuk pergi,padahal urusan aku dengannya belum selesai,ugh! Bikin naik darah aja.”

__ADS_1


Heri merasa kesal dengan Ella,mama dan papa melihat ke arah Heri,sembari itu Heri juga melihat ke arah mama dan papanya.


“Her? Kamu kenapa?”papa yang merasa kasihan kepada Heri.


“Enggak apa-apa pa,Heri pergi dulu cari angin.”


Heri keluar dari rumah,mama hanya mengeluh kesah kepada papa,yang melihati sikap anaknya.


“Duh pa! Aku capek sama Heri,dia itu enggak ngerti ya,kalau dia nikah sama Ella akan banyak keuntunganya,kenapa si dia tetap memikirkan cewe murahan itu,secantik apa cewe itu sampai ia susah untuk lupa.”


“Mama enggak akan mengerti gimana perasaanya,jadi percuma kalau papa jelasin ke mama.”


Papa pergi dari hadapan mama,sedangkan mama merasa kesal dan bingung dengan sikap papa yang sok tegas,sebenarnya ada apa dengan kedua pria yang suka bingung.


“Re,gua rindu sama lu,pengen banget rasanya peluk lu sekarang.”


Handphone Regina berdering,dari Heri. Regina sontak menjawab telepon tersebut.


“Halo Her,ada apa?”


“Re,sibuk enggak?”


“Enggak,kenapa?”


“Gua mau ketemu lu dong,di depan rumah lu aja,enggak perlu jauh-jauh.”


Regina mematikan telepon itu dan sontak menemui Heri,setelah bertemu Regina masuk ke dalam mobil Heri.


“Ada apa Her?”


“Re.”


“Iya.”


“Gua mau minta izin peluk lu boleh?”


Regina sontak mendekap Heri,sebagai sahabat,sedangkan Heri menanggis dan mendekap Regina lebih erat.


“Lu kenapa Her? Ada yang menganggu pikiran lu.”


“Enggak,cuman capek aja  kadang,menjadi oranglain itu lelah ya,emang paling enak jadi diri sendiri,cuman mau gimana ya,gua juga enggak bisa sesuka gua sih.”


“Lu bicara apa sih? Gua enggak ngerti.”


“Enggak kok,abaikan aja sama apa yang gua bicarain.”


Regina sontak pegang kedua wajah Heri dan Heri tidak tahan mengecup pipi Regina dan Regina terkejut.


“Her.”


“Maaf Re,cuman lu yang bisa tenang.”


Heri menjauh seketika saat melihat Regina,menjauhinya mereka hanya diam-diaman dengan rasa salah,Regina pegang tangan Heri. Heri melihat Regina.


“Lu enggak marah sama gua?”

__ADS_1


“Mana mungkin gua tega marah sama lu,lu kalau lagi gini pasti banyak pikiran yang,enggak bisa lu selesain sendiri kan,gua emang udah bukan siapa-siapa lu tapi kita,tetap sahabat kan?”


Heri yang mendengar itu hanya diam dan mengeluarkan air mata,sedangkan Regina mengeusap air mata Heri,bos yang dari jauh melihat itu mengepalkan tangan dan benci berat dengan Heri.


__ADS_2