Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
60.Tak biasa


__ADS_3

“Kenapa sih,enggak ada kapok-kapoknya,capek banget beneran.”


“Siapa sayang?”


“Heri,capek sama dia.”


“Hmm,dia kenapa?”


Bos menghampiri Regina yang sedang kesal dengan mantan suaminya yang kayak orang gila,kadang terasa terhantui olehnya.


“Udah,kamu tenang aja atau kamu mau dirumah orangtua kamu?”


“Enggak ah,nanti malah dia tambah sengaja kerumah gimana? Aku yang bingung,harus berkata apa sama si gila itu.”


“Haha,yaudah kalau gitu kamu di sini aja sayang? Gimana?”


“Hmm,makasih ya sayang.”


“Iya sayang sama-sama.”


Setelah itu bos kembali mendekap Regina,Regina yang merasa di dekap oleh bos,merasa hangat dan tidak ingin di lepas.


“Bos.”


“Iya sayang.”


“Kadang? Aku nyusahin bos enggak sih?”


“Kata siapa? Enggak kok,malah saya senang kalau kamu bergantung sama saya.”


Saat ingin bicara,tiba-tiba handphone Regina berdering,dari Heri kembali. Bos melihat ke arah Regina sembari mendekap kedua tangan Regina.


“Sayang,angkat aja semangkin kamu menjauh dari dia,bukan semangkin dia kapok,justru semangkin dia ingin dekat sama kamu,kamu tenang aja kan ada aku,kalau dia bicara macam-macam aku bakal marahin dia,kamu percaya sama aku kan sayang?”


Regina tersenyum,sembari menganggukan kepalanya di depan bos,setelah mengangkat Regina menghela nafas.


“Apa?”


“Kamu lagi apa?”


“Lagi mau tidur,kenapa?”


“Hmm,aku mau bicara boleh.”


Regina langsung mendecik,padahal dirinya ingin tidur tetap aja di ganggu,sembari melihat bos tersenyum kepada Regina.


“Apa?”

__ADS_1


“Kamu sayang aku?”


“Enggak! Mau berapa kali gua bilang! Lu itu enggak pernah sadar ya? Gua itu enggak pernah sayang lu,ngerti lu aja enggak pernah apalagi sayang.”


Bos yang mendengar itu sontak kaget,dan enggak pernah melihat Regina,sampai semarah itu dengan oranglain.


“Maaf,enggak bermaksud bikin kamu kesal,cuman mau jujur aja kalau aku,masih sayang ka-”


Regina mematikan telepon,sembari itu Regina pegang kedua kepala nya dan di dekap oleh bos.


“Udah ya,maafin aku terlalu maksa kamu,untuk berkomunikasi sama dia,jelas-jelas kamu enggak suka dia,tapi tetap aku paksa,maaf sayang,aku enggak mau kamu berlarut-larut lari dalam masalah,itu aja kok enggak ada maksud apa-apa.”


Regina hanya senyum,sembari ke kamarnya dan mengunci dirinya di kamar sendirian,bos hanya diam sembari menunggu Regina di depan pintu.


“Re,kalau kamu butuh aku,panggil aku ya,pasti aku selalu ada kok buat kamu.”


Regina tersenyum,sembari mengelus pintu,dirinya tahu hanya bos yang sayang pada dirinya dengan tulus,namun bagaimana Heri yang terus menghantui dirinya.


.


.


“Pagi Heri sayang.”


“Apalagi sih? Enggak capek apa ganggu gua terus?”


“Enggaklah,kenapa harus capek orang gua sayang sama lu.”


Heri sontak pergi dari hadapan Ella,kedua orangtuanya maju dan Heri tetap pergi tetap tidak perduli,orangtua Ella hanya melihat dengan sinis.


“Kalau anak saya enggak suka sama anak situ! Saya enggak bakal rela,liat anak saya di perlakukan seperti itu.”


“Maaf ya bu,Heri emang lagi banyak pikiran nanti akan saya coba,bicarakan pada Heri,sekali lagi saya minta maaf bu.”


“Minta maaf mah gampang,ngelakuinya yang susah,makanya saya agak ragu kalau anak saya,sama anak ibu karena anak ibu,enggak pernah menghargai anak saya,saya sebagai orangtua juga tega enggak tega gitu.”


Kedua orangtua hanya diam,sedangkan Regina hanya bingung bagaimana,cara berkata kepada mantan suaminya,agar tidak menganggu dirinya lagi.


“Re.”


“Iya sayang.”


“Mau jalan enggak?”


“Lah? Emang kamu enggak pergi ke kantor.”


Bos tersenyum,sembari jalan ke arah Regina dan juga mendekap Regina dengan erat.

__ADS_1


“Ada sih,tapi siang,soalnya gak terlalu penting juga kalau di kantor,paling rapat biasa aja.”


“Hmm,gitu yaudah deh terserah kamu aja,kamu mau kemana?”


“Aku kemana aja senang kok,asal sama kamu.”


Regina hanya mengerutkan dahinya dan bingung,ingin kemana,karena dirinya pribadi juga selalu bahagia pergi bersama bos.


“Udah siap bos,mau jalan sekarang.”


“Iya ayo,tapi mau kemana?”


“Kemana ajalah bos,keluar kota juga boleh beli oleh-oleh,untuk keluarga dan kita juga daripada aku masak terus,pasti bos bosen kan sama masakan aku.”


“Enggak kok,kata siapa? Sok tau kamu mana pernah saya bosan sama masakan kamu,aneh-aneh aja kamu.”


Regina berpikir lagi,kok bisa ya bos enggak bosan dengan makanan dia,padahal kan Regina hampir masak yang sama tiap harinya.


“Jadi,bos selalu suka sama masakan saya? Walau masakan saya gitu-gitu aja.”


“Enggak sayang,enggak pernah sedikitpun jadi kamu itu jangan suka ngambil kesimpulan sendiri,ngerti enggak kamu?”


“Iya sayang ngerti,ayo jalan.”


Akhirnya mereka jalan bersama,di saat mau jalan ada Heri yang datang kerumah bos,bos bingung Heri tau darimana rumahnya.


“Mau ngapain kamu sama istri saya?” bos yang memicingkan matanya ke arah Heri.


“Ingat! Sebelum sama lu,dia sama gua dan gua sama dia udah banyak pengalaman,di banding sama lu! Ngerti jadi minggir.”


Akhirnya bos hanya diam dan terdorong oleh Heri,setelah itu Regina melihat dengan tatapan sinis,seraya tidak suka dengan Heri.


“Mau ngapain lu ke sini! Enggak punya rumah? Terus lu tau darimana rumah gua? Kayaknya gua enggak pernah kasih tau lu.”


“Sayang,kamu udah kenal aku lamakan,enggak butuh waktu lama,untuk aku tau dimana kamu berada sayang.”


Regina yang mendengar itu merasa jijik,sampai akhirnya Heri pegang kedua tangan Regina.


“Sayang,aku mau kita balik kayak dulu,kamu mau kan balikan sama aku?”


“Enggak! Kalau aku bilang enggak ya enggak,jangan maksa bisa enggak.”


Bos hanya diam dari jauh melihat mereka,selagi belum terlalu parah bos tidak mau,terlalu ikut campur terlalu dalam,takutnya masalah mereka enggak selesai-selesai,dan semangkin merebet.


“Enggak mau Her! Ih apaan sih! Asli gua muak sama lu,lu sama Ella aja kan Ella suka sama lu,kenapa lu harus maksa gua sama lu? Aneh tau enggak.”


“Gua enggak suka dia,gua sukanya sama lu,lu juga aneh ngapain lu jodoh-jodohin gua sama dia,kalau enggak suka emang bisa di paksa? Enggakkan?”

__ADS_1


“Iyaudah,kalau lu enggak suka lu enggak usah ganggu gua sama suami gua dong,gua udah bahagia sama dia,kenapa lu ganggu gua sama dia lagi,lu mau buat gua nangis lagi,gitu maksudnya? Enggak ngerti sama otak lu sendiri.”


Bos yang mendengar itu bingung harus senang apa sedih,atau bersamaan karena sebenarnya dirinya pribadi juga,bahagia melihat Regina berkata demikian,walau dia tidak pernah tau apa isi hati Regina,tapi ia berharap itu kenyataan dan bukan hanya omongan belaka.


__ADS_2