
“Kamu ngapain mikirin saya,saya kan udah gede,enggak perlu juga kamu pikirin Re.” bos memang berbeda sikapnya dengan Heri,walau begitu terkadang Regina jadi tidak bisa memilih suami sendiri,apa bos.
Regina hanya diam tertegun,sambil bengong memikirkan kejadian-kejadian yang enggak seharusnya dia pikirkan,bos langsung merangkul Regina masuk ke dalam mobilnya.
Heri yang dari jauh melihat itu merasa sakit hati,karena wanitanya di rangkul oleh pria lain yang lebih ganteng dan juga lebih memiliki segalanya di banding dirinya sekarang.
.
.
“Re.”
“Iya pak.”
“Kamu kenapa sih bengong terus? Benaran enggak apa-apa kan?”
Regina tersenyum,sengaja tidak ingin membuat bos kepikiran akan dirinya,setelah sampai di kediaman Regina,Regina sontak turun di tahan oleh bos.
“Re.”
“Iya bos,kenapa?”
“Kamu jaga diri baik-baik ya,kalau ada apa-apa kasih tau saya,saya enggak mau kamu kenapa-kenapa,paham kan?”
Regina reflek menghelus kepala bos,dirinya mengangap bos seperti Heri suaminya,walau memang berebeda Regina sontak melepaskan helusan tersebut.
“Maaf,bos.”
“Iya enggak apa-apa,saya senang kok kalau bisa kamu lakuin tiap hari,biar saya yakin kamu sayang sama saya.”
“Saya sayang kok sama bos,bos kan bos saya mana mungkin saya gak sayang baik lagi,terus perhatian.”
Bos sontak menepuk jidat mendengar Regina berbicara seperti itu,Regina kaget pegang kedua tangan bos,sembari melihat tepokan di jidat yang memerah di dahi cowo ganteng itu.
“Kenapa si bos,nepok-nepok jidat,pasti sakit ya?” Regina sembari menghelus dan meniup dahi bos,bos hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.
“Re.”
“Diam bos,bentar. Bentar lagi udah mau sembuh.”
Bos hanya diam dan mendengarkan semua perkataan Regina,terkadang bos mikir di sini bosnya dia apa dirinya sih.
.
.
“Regina.”Heri sontak jalan ke hadapan Regina,Regina yang tidak perduli jalan saja ke arah dapur.
“Udah makan belum.”
__ADS_1
“Enggak penting,aku mau jelasin kenapa,tadi kamu ada di kafe pas aku lagi bareng sama Ella?”
Regina langsung mengerutkan dahinya dan menaruh makanan di meja,sembari jalan ke arah Heri yang penuh dengan amarah,seolah-olah hanya dia yang boleh main belok,Regina tidak boleh.
“Terus? Kenapa? Mau marah,enggak suka di ikutin? Lu mau menang sendiri ya.”
Heri yang di marahin Regina hanya bisa diam,menundukan kepalanya Regina yang melihat itu tidak tega. Langsung menghelus kedua wajah Heri dan Heri melihat ke arah Regina.
“Kenapa? Kamu marah aku marahin?”Regina mencoba berbicara dengan nada halus kepada Heri.
“Emang,aku terkesan marah sama kamu? Padahal aku enggak marah,aku cuman diam aja orang,aku takut kalau kamu marah sama aku,makanya aku diam doang.”
Regina yang mendengar itu hanya tersenyum,enggak nyangka pria seperti Heri takut akan Regina marah,disaat mereka ingin bermesraan handphone Regina berdering dari adik-adiknya,sontak Regina tersenyum.
“Halo adik-adik kakak yang cantik.”
“Hi kak,apa kabar kak.”
Regina sembari jalan ke arah kursi meja makan dan duduk. Berkata dengan adik-adiknya Heri yang melihat itu hanya diam dan menumpukan dagu di tanganya sembari,melihat ke arah Regina.
“Baik,kamu apa kabar sayang?”
“Baik juga kak,aku kangen sama kakak,kakak enggak kangen ya sama kita.”
“Mana mungkin,kangen dong,kakak enggak berani aja bilang,takut ganggu makanya kakak enggak pernah bicara hehe.”
“Oh ya adik.”
“Iya kak,kenapa?”
“Mama,apa kabar.”
Selly dan Tiara melihat ke arah mamanya,menandakan kakaknya Regina merindukan kedua orangtuanya,mamanya menanggis dalam hati sedangkan papanya menjawab.
“Baik Re,kamu apa kabar?”
Regina yang mendengar suara papanya langsung menanggis dengan bahagia,Heri yang melihat itu sontak mengambil tisu dan mengelap air mata di pipi Regina.
“Baguslah pa,kalau papa baik-baik aja,kapan-kapan Regina main kerumah? Boleh enggak pa?”
“Boleh sayang,main aja,papa enggak pernah melarang kamu main,malah papa senang kalau kamu kesini,papa tunggu kehadiran kamu sayang,bareng Heri juga boleh.”
Mama sontak memicingkan matanya ke arah papa,papa hanya diam sedangkan Regina merasa senang,kalau papanya menerima Heri sebagai suami Regina. Walau mereka tidak datang ke pernikahan Regina,di dalam hati mereka. Mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk Regina.
“Iyaudah pa,aku makan dulu ya malam pa,bye sampai jumpa.”
“Bye,makan yang benar Re,jangan suka makan malam-malam enggak baik.”
“Makasih ya pa,sayang papa.”
__ADS_1
Regina yang mendengar itu hanya diam dan merasa terharu dengan perasaan papanya terhadapnya,walau papanya cuek ternyata papanya lebih mengenal Regina di bandingkan mamanya,telepon berakhir begitu saja.
“Re,kenapa nangis? Lu bicara apa aja sama adik lu?”
Regina mangkin kuat menanggisnya dan Heri bingung,ada apa dengan Regina,Heri mendekap Regina begitu juga dengan Regina,mendekap Heri dengan erat.
“Gua senang.”
“Senang kenapa?”
“Papa gua enggak marah sama gua dan dia sayang sama kita.”
Heri yang mendengar kata “Kita” membuatnya jadi bingung “Kita” siapa yang di maksud.
“Maksudnya gua sama lu,kan kita.”
Heri sontak diam dan melihat ke arah Regina,dengan bingung Regina merasa kesal langsung melepas pelukanya kepada Heri dan makan,bersama Heri karena Heri orangnya,gak sadar jadi Regina tidak peduli.
“Re.”
“Apa?”
“Lu masih marah sama gua?”
Regina memicingkan matanya sembari makan lauk-lauk yang ada di meja,Heri yang merasa akan di marahi oleh Regina memilih diam daripada menanya lebih lanjut kepada Regina.
“Udah makan,jangan mikir enggak-enggak.”
Heri yang mendengar itu hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa,kalau Regina sudah berkata seperti itu,perasaan senang dan sedih menjadi campur aduk,walau bagaimanapun Heri juga tau dirinya salah.
“Gua bantuin ya cuci piringnya.”
Regina melihat dengan bingung,ada apa dengan Heri,mengapa tiba-tiba ingin membantu apa karena kejadian tadi pagi bersama Ella,padahal Regina belum melupakan hal itu,kadang mata sendu Heri membuatnya tidak tega.
“Enggak usah,temanin aja gak usah ngapa-ngapain.”
“Iyaudah kalau gitu,apa daya kalau emang gaboleh bantu.”
“Lu marah enggak gua izinin bantu.”
Heri hanya mengeleng kepala dan Regina tersenyum kepada Heri,walau sebenarnya bagi Regina itu sangat lucu,dan ia ingin berkata kepada Heri bahwa Heri lucu,hanya saja mulutnya terbungkam karena kejadian tadi pagi.
“Gua mau jujur sesuatu,Re.”
“Hmm.”
“Gua minta maaf untuk pagi ini,gua tau gua salah walau perbuatan gua enggak bisa di maafkan,tapi gua harap lu maafin gua,karena gua tau gua enggak seharusnya terima aja di perlakukan seperti itu pada Ella.”
Regina tertawa dalam hati,mendengar Heri berkata seperti itu,seraya tidak mungkin tapi itu kenyataannya yang kadang membuatnya ingin selalu mendekap Heri.
__ADS_1