
“Saya baik-baik aja pak,tenang aja pak,kuat saya mah pak,udah terlatih.”Regina terpaksa bicara seperti itu agar tidak di perdulikan,kepada bosnya tapi sifatnya yang terlalu menonjol membuatnya dirinya jatuh di lubang yang salah.
“Kamu benaran enggak apa-apa,kok saya ngerasa ada yang kamu sembunyiin dari saya,yang enggak bisa kamu jelasin.
Regina merasa jantungnya akan copot di tempat,mendengar bosnya berkata seperti itu,masih mending yang bicara bosnya biasa aja,ini tampannya melebihi ekspetasi Regina yang kadang bikin pangling,sampai lupa udah jadi istri orang.
“Saya enggak apa-apa pak,benaran bapak makasih ya,udah perhatian sama saya.”
“Saya perhatian sama semua karyawan saya kok,jadi tenang aja kamu jangan merasa canggung.”
Regina yang niatnya,mau lebih memuji bosnya,ternyata sifat bosnya sebelah duabelas dengan suami pura-puranya dirumah,kenapa ya Regina selalu luluh dengan sifat pria yang seperti itu.
Apa tipe yang seperti bos dan Heri,kalem-kalem dingin kayak kulkas empat pintu lebih memikat di banding yang perhatian terang-terangan,daripada tertutup.
“Re.”seketika Regina merasa Heri di depan matanya,walau bagaimanapun Regina harus sadar kalau dirinya,sudah memiliki Heri,dirinya tidak boleh rakus dan tamak.
“Iya pak,ada apa?”
Bos tertawa melihat sikap lugu Regina,yang tanpa sadar Regina keluarkan dan perlihatkan kepada bos.
“Iyaudah kalau kamu baik-baik aja,kamu boleh keruangan kamu.”
Regina hanya tersenyum tanpa harus membalas apapun,walau kadang dirinya bingung,harus membalas seperti apa,karena dirinya pribadi merasa,kalau dirinya itu merasa beruntung memiliki pasangan seperti Heri,walau pura-pura serta memiliki bos seperti Sam.
.
.
“Re.”bos menghampiri Regina keruanganya,sontak Regina langsung jalan ke ara bos.
“Iya bos,ada apa?”
“Kamu enggak makan?”
“Nanti bos.”
Bos merasa kesal dengan ucapan Regina yang mementingkan pekerjaan dan lupa akan dirinya juga perlu nutrisi.
“Kamu juga harus makan tau.”
Bos menarik dengan lembut tangan Regina,Heri yang melihat itu hanya diam,merasa bahwa dirinya sudah menjadi orang yang tidak jelas di hidup Regina.
Heri langsung pergi dari situ melihat tangan Regina di genggam oleh,laki-laki lain,sampai di kafe tidak jauh dari perusahaan Regina bekerja.
“Kenapa Re?”bos menanya Regina yang dari tadi merasa tidak nyaman dengan dirinya atau lingkungan sekelilingnya.
Sembari melihat sekeliling ruangan,Regina merasa “Gila ini tempat pasti mahal sih,tunggu kenapa bos gua ajak gua ke sini ya?” Regina selalu merasa dirinya tidak pantas di ajak ke sini,dengan pria seganteng bosnya.
__ADS_1
Bos sontak menyuapi Regina,Regina terdiam dan melihat ke arah sendok serta yang menyuapinya.
“Buruan,pegal ini tangan saya.”bos ingin belajar menjadi pasangan sempurna untuk Regina,walau bos tidak tau Regina sudah ada yang punya apa belum,berusaha tidak akan menghianati hasil.
“Hmm,makasih pak,saya bisa makan sendiri kok..”
Bos hanya tersenyum,sembari itu handphone bos berdering dan di angkat di depan Regina,entah mengapa Regina selalu menyukai pria yang tidak penuh dengan rahasia.
Berbeda dengan Heri yang selalu penuh rahasia,setiap ada telepon Heri selalu menjauh dari Regina,seakan-akan Regina hanya figuran yang tidak penting dirumah.
“Re.”
“Iya pak,ada apa?” bos merapikan sisa makanan yang tertinggal di bibir manis Regina,Regina sontak kaget langsung melotot kepada bos,seraya ingin memakan bosnya sendiri.
“Kamu gimana sih,udah gede makan masih berantakan,malu tau sama orang.”
“Iya pak,makasih ya.”
“Balik ke kantor ayo,saya ada rapat,kamu udah siapin belum,ruangan rapat saya.”
“Sudah pak.”
.
.
Regina sambil menghalu,kalau dirinya di ruangan ini hanya berdua dengan bosnya Sam,walau ia tau dirinya sudah memiliki suami bernama Heri,entah kenapa kadang mata dan hati sulit menolak liat yang bening-bening.
“Regina! Mungkin kamu ada pertanyaa.”
Regina sontak diam sambil mencari bahan yang ingin di cari,Sam yang melihat itu tersenyum dalam hati dan mengeleng kepala.
“Re,lain kali kalau saya jelasin di perhatiin ya,jangan kemana-mana mikirnya,nanti ada waktunya bukan sekarang,paham.”
Regina menganggukan kepalanya,setelah itu Sam,mencoba untuk membahas soal presntasi hari ini,sekian sudah presentasi hari ini.
“Pak,maaf ya tadi saya melamun,saya lagi memikirkan sesuatu aja pak,sekali lagi saya minta maaf.”Regina merasa malu,keliatan haluin bos sendiri,walau sebenarnya bosnya juga tau hanya sengaja aja.
Bos membalikan badan melihat ke arah Regina,Regina juga melihat ke arah bos,bos hanya tersenyum.
“Hmm,enggak apa-apa,kamu melamunin apa sih?”bos langsung membereskan file sendiri sembari di bantu oleh Regina.
“Enggak penting kok pak,cuman saya rindu aja sama adik saya.”
Bos langsung berhenti membereskan sambil melihat ke arah Regina,dengan bingung dan ada yang di sembunyikan dari dirinya.
“Maksudnya? Kamu enggak tinggal serumah sama keluarga kamu? Emang keluarga kamu dimana?”
__ADS_1
“Ada,cuman mereka semua sibuk udah ada urusan masing-masing.”
“Oh,saya kira kamu sama keluarga kamu jauh,mau saya temanin ketemu mereka tapi bentar ya,saya liat dulu jadwal kosong saya.”
Regina langsung menahan bos untuk pegang tabletnya,bos melihat ke arah Regina,Regina tersenyum kepada bos.
“Enggak usah bos enggak apa-apa,saya bisa pergi sendiri kok,cuman saya mau kasih tau bos aja.”
“Kasih tau soal adik kamu?”
“Iya.”
“Oh yaudah kalau gitu,sesekali saya mau ketemu sama mereka.”
Regina sontak kaget langsung melihat ke arah bos,bos hanya tertawa dengan terkekeh sembari pegang kedua tangan Regina.
“Bercanda kok,tenang aja ya saya cuman enggak mau kamu,terlalu serius sama saya,kamu boleh banget kok panggil saya Sam,tapi ingat senyaman kamu aja.”
Regina sontak pergi dengan senyum yang takut,takut untuk jatuh cinta kepada oranglain dan tidak memikirkan perasaan suaminya.
“Sayang banget,padahal dikit lagi.”Sam yang juga ingin mencoba peluk Regina,walau bagaimanapun Sam juga laki-laki tulen,tidak mungkin dia tidak mempunyai hal yang diingkan kepada wanita idamanya.
.
.
“Re.”
“Iya Her,ada apa?”
“Kamu mau makan apa?”
Regina langsung tidur di lengan Heri,Heri hanya senyum sembari mengecup kepala Regina.
“Gimana di kantor Re? Capek enggak?”
“Capek.”
“Hmm,kenapa?”
“Soalnya enggak ada kamu di kantor.”
Heri yang mendengar itu tersenyum,sembari bingung Regina belajar dariman,kata-kata seperti itu rasanya Regina bukan wanita yang tipe berani seperti yang Heri kenal dulu.
“Sampai.”
Akhirnya mereka berdua makan,dan menyantap makanan yang sudah di pesan,dengan pemadangan pantai yang menghiasai malam mereka,Regina tersenyum dengan leluasa saat bersama Heri.
__ADS_1