Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
35.Berantam terus,karena dia


__ADS_3

“Akhirnya sampai juga bos,ke sekolah.”pak supir yang terlihat biasa aja,tetap membuat tanda tanya kepada Heri.


Heri keluar dengan muka datar,setelah itu di tunggu Regina di depan balkon dekat sekolah,sembari melambaikan tanganya ke arah Heri. Heri tersenyum melihat itu.


“Re.”


“Iya Her,ada apa?”


“Hmm,aku mau nanya.”


“Nanya apa?”


Bel sekolah berdering,dan membongkam mulut Heri untuk bertanya lebih lanjut,dalam hati Heri merasa kesal.Regina melihat ke arah Heri dengan tatapan manisnya.


“Mau nanya apa Her?”


“Nanti aja Re,dirumah lu baru gua nanya,kalau sekarang udah bel,gua enggak mau lu di hukum gara-gara gua.”


Regina hanya tersenyum dan Heri bingung,mengapa Regina tersenyum ketika Heri berkata seperti itu kepadanya,apa dari perkataan Heri ada yang salah.


“Kenapa Re? Gua salah bicara lagi ya,maaf ya gua salah bicara terus. Gua kan baru mengenal lu kalau gua sering salah. Maaf.”


“Enggak kok,gua senang malah.”


“Hah? Senang kenapa?”


“Lu perhatian sama gua,enggak banyak orang yang perhatian sama gua,udah ah! Ayo masuk ke kelas bicara sama lu asik sih,tapi nanti kita telat.”


Heri yang mendengar Regina bicara seperti itu membuatnya bahagia,melainkan kok dirinya bisa ya ketemu orang seunik Regina,walau dirinya belum tau pasti,tapi dirinya sayang banget sama Regina.


.


.


“Yes! Kita enggak telat Her,ayo duduk bareng.”


Regina mengenggam tangan Heri dengan erat. Heri merasa andai waktu bisa berhenti di saat begini bersama Regina,mungkin jauh lebih baik.


“Akhirnya duduk juga.”


“Kenapa di belakang.”


Regina melihat ke arah sekeliling yang kosong,hanya bangku belakang,sedangkan bangku depan kosong tapi pas banget depan guru.

__ADS_1


“Iya,lu mau duduk mana? Liat aja sendiri enggak ada tempat duduk,kalau ada pasti gua enggak milih sini,mata lu minus berapa sih? Ada selinder ya? Mana sini coba gua pakai.”


“Jangan!”


Regina sontak kaget melihat ke arah Heri,semua anak-anak di kelas juga melihat ke arah Heri,Heri merasa tidak enak dan menundukan kepalanya sembari Regina tersenyum kepadanya.


“Maaf,gua jadi marah sama lu.”


“Iya enggak apa-apa,emang kenapa? Gua enggak boleh pakai? Lu takut banget,kacamata lu ternodai sama gua ya?”


“Enggak,bukan gua enggak mau mata lu rusak,mata lu udah cantik,kalau rusak kan sayang banget,mata itu aset lu tapi semua di lu aset sih.”


Regina yang mendengar pertama kali dari pria  yang dia kenal,itu Heri membuatnya sudah jatuh cinta akan Heri. Walau sebenarnya Regina tau kalau dirinya emang tidak pantas bersama Heri.


“Re,dengar enggak sih gua bicara daritadi,gua serasa di cuekin sama lu tau gak.”


“Hmm,enggak kok gua enggak cuekin lu tenang aja,gua dengar kok.”


Mereka bicara sampai guru datang ke kelas,akhirnya kelas di mulai dan pembicaraan mereka berakhir sampai situ aja,setelah mulai mereka fokus ke depan.


“Ngerti enggak sama pelajaran tadi?”Heri yang mencoba membuka topik kepada Regina.


Regina tersenyum kepada Heri,tiba-tiba ada cowo yang menarik tangan Regina dengan kasar,Heri yang melihat itu langsung menepis tangan cowo itu.


“Diam culun! Ini enggak ada urusan sama lu,jadi diam aja! Enggak usah ikut campur.”


Heri tidak medengarkan pria itu dan langsung mengenggam tangan Regina dengan lembut,sembari melihat pria itu masih mengejar mereka atau tidak,dengan nafas terengah-engah Regina mengelap keringat Heri.


“Re,kamu enggak apa-apa.”


“Enggak,makasih ya udah tolongin aku,aku senang banget ada kamu.”


“Sama-sama Re,aku juga senang karena kamu udah tolongin aku juga,waktu itu.”


Regina sadar ternyata Heri membantunya,karena tidak ingin memiliki hutang budi dengan Regina. Regina melepas tangan Heri,Heri bingung ada apa dan menghampiri Regina.


“Kenapa Re?”


“Enggak,lu udah boleh tinggalin gua kok,makasih ya sekali lagi dan lu enggak punya hutang sama gua kok,jadi tenang aja oke.”


Heri yang tau sepertinya Regina marah,hanya diam dan menunggu Regina sembari Regina ingin balik kelas.Regina bingung mengapa Heri enggak mau balik ke kelas.


“Loh?! kenapa enggak mau balik,baliklah nanti lu telat loh,gua juga enggak minta lu temanin kok.”

__ADS_1


“Hmm,lu kenapa sih? Yaudah gua minta maaf.”


“Kenapa minta maaf? Kalau enggak tau salahny apa.”


“Justru karena tau,makanya minta maaf.”


Regina hanya diam dan tidak mau membalas perkataan Heri yang semangkin,membuatnya sakit hati. Setelah penantian panjang akhirnya Regina pergi ke kelas di temanin Heri.


“Asli lu enggak ada kegiatan ya Her,sampai harus ikutin gua terus.”Regina merasa kesal karena di ikutin terus oleh Heri.


Heri hanya diam dan tidak mau membalas perkataan Regina,baginya semangkin membalas perkataan Regina akan membuat Regina semangkin marah dan merasa kesal dan dirinya tidak mau melihat Regina merasa kesal sama sekali.


“Lu dengar enggak si apa yang gua bicarain,kalau enggak dengar mending jauh-jauh deh dari gua,gua kesal tau enggak liatnya!”


“Gua lebih milih lu ngomel-ngomel ke gua,daripada lu ngomel-ngomel ke orang gua enggak mau,lu sakit hati karena oranglain karena gua sayang sama lu.”


Regina yang mendengar itu terasa mimpi,walau dia tau sebenarnya Heri tidak bersungguh-sungguh berkata seperti itu kepadanya.


“Apaan sih! Enggak jelas banget! Kalau bicara yang benar,jangan buat orang salah paham,nanti kalau orang dengar maksudnya beda gimana? Emang lu mau tanggung jawab?”


Regina sembari senyum dalam batinya,Heri langsug salah tingkah dan bingung harus melakukan apa,agar Regina tidak marah lagi.


“Oh ya Re.”


“Ck! Apa lagi.”


“Nanti gua antar pulang ya.”


Sontak Regina terdiam,saat Heri berkata seperti itu walau sebenarnya mereka udah janjian kemarin,tapi entah mengapa rasanya agar berbeda aja,saat di bicarain langsung saat sedang marah.


“Hmm.”


“Mau enggak? Kalau enggak mau enggak apa-apa,gua bisa ganti hari lain.”


“Iyaudah antar aja,tapi nanti kalau setelah lu antar gua,pasti lu enggak mau jadi teman gua.”


Heri bingung dari perkataan Regina,yang sedari kemarin membuat teka teki,yang tidak jelas untuknya.


“Alasan gua enggak jadi teman lu apa?”


“Iya,biasa orang kalau udah liat rumah gua enggak mau jadi teman gua,emang pak supir enggak kasih tau rumah gua kayak gimana?”


Heri yang mendengar itu diam tertegun,sembari bunyi bel yang menerpa untuk memulai kelas terakhir,setelah itu pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2