
Regina terus melihat ke arah meja makan,sembari Sam minum kopi buatanya,Regina bingung harus buat sarapan atau enggak,sampai akhirnya Regina buat dan Sam pergi.
.
.
“Pft,masih marah dia sama gua,padahal gua enggak apa-apain,tapi doyan banget marah,dasar pria aneh?”
Sam yang di kantor hanya diam,dan enggak banyak bicara,mau bicara apa juga,terlihat dingin padahal masih berharap di perduliin Regina,Regina juga enggak telepon.
Regina kerumah orangtuanya,tanpa berpamitan dengan Sam,Sam yang diam tidak tau apa-apa tetap bekerja tanpa mengenal lelah.
“Iyaudah ma,Regina pulang ya,kalau ada apa-apa,kasih tau Regina ya ma.”
“Iya sayang.”
Regina tersenyum kepada mamanya,enggak lama saat keluar rumah ada Heri,Heri sontak mendekap Regina.Regina kaget.
“Heri,ngapain di sini? Ada apa maksud gua?”
“Hmm enggak ada apa-apa kok,cuman mau sapa aja? Kenapa enggak boleh ya,pasti di larang sama si suami lu yang cemburu akut itu,tapi wajar sih kalau dia cemburu sama lu,lu kan cantik Re.”
“Lu bicara apa sih,dulu lu jangan suami gua tapi sekarang udah jadi mantan,tapi dulu lu cemburu akut juga enggak sih kayak dia.”
“Iyalah,lu gila ya pakai nanya lagi,padahal itu mah enggak perlu nanya,tapi kenapa lu nanya?”
Regina terkekeh dengan perkataan Heri,enggak lama Heri menunjuk ke arah mobilnya,Regina masuk ke dalam mobilnya Heri.
“Kita mau kemana Her? Emang lu enggak ada janjian sama Ella.”
“Untuk hari ini enggak ada sih,tapi enggak tau hari nanti,ada apa emang Re?”
“Gua enggak enak aja,kan gua tau gimana cemburuan Ella jadi kayak malas gitu loh,kalau berurusan sama orang yang cemburuan,apalagi dia suka ngejar-ngejar Sam,gua bingung sama dia kenapa dia gitu,apa kehadiran lu kurang ya buat dia,makanya dia begitu?”
"Kalau gua sih gak perduli,dia cemburu atau enggak,gatau kenapa gua udah capek sama dia,gua rasa juga dia gak suka gua,gua gatau kayaknya gua gak pernah ada di mata dia."
Regina yang mendengar itu gak kaget,karena ia tau gimana Ella dan mungkin,ada benarnya kata Heri barusan tapi,mengapa Heri sepasrah itu kepada Ella.
__ADS_1
"Tapi,Her lu suka sama Ella?"
"Menurut lu? kalau gua gak suka kenapa gua jalanin sama dia,jujur semenjak lu tinggalin gua,gua lebih sadar harusnya dari dulu gua jadi orang,tapi gua emang tetap pencundang yang selalu berlindung di belakang lu."
Regina mendengar itu sontak kaget dan berpikir,apa ia benaran Heri yang dulu selalu menjadi sahabat serta orang yang ia suka walau pencundang.
"Tunggu,dulu kita satu sekolah ,lu Heri yang?"
"Iya,kenapa? beda ya gua tau kok,kalau gua kayak dulu pasti gak ada yang suka sama gua,lagian siapa juga yang suka sama cowo culun kayak gua,hanya orang yang aneh suka cowo culun kayak gua."
"Eh? kok lu bicaranya gitu sih,berarti maksud lu. gua juga aneh dong suka sama lu?"
"Iya maksud gua,eh tunggu apa? lu suka sama gua? kok bisa kapan? kenapa ? kok lu gak pernah bilang ke gua."
Regina tersenyum mendengar kalimat dari Heri,sontak Regina mendekap Heri dan Heri diam aja tanpa membalas atau berakta apapun.
"Gua punya alasan,kenapa gua enggak mau kasih tau lu kok."
"Alasanya apa? kenapa gak kasih tau gua?"
"Gua gamau lu kepikiran soal perasaan gua dan gua juga gamau lu jauh dari gua,maaf ya kalau gua egois,begitulah gua ,gua gak bermaksud apa-apa hanya aja di dekat lu itu buat gua nyaman Heri."
"Iyaudah kalau gitu Re,gua antar pulang ya bahaya wanita pulang sendirian,udah mau malam."
"Iya,makasih ya Heri."
Sampai dirumah Regina,Regina hanya diam sembari tersenyum kepada Heri,enggak lama Regina mendekap Heri kembali.
"Sayang ya Her,hubungan kita berhenti tanpa kepastian,tapi mau gimana? orangtua lu enggak suka gua dan gua juga gak bisa meyakinkan mereka untuk suka gua."
"Bukan salah lu kok,mungkin lu emang layak hidup bahagia bukan sama gua,tapi sama si cowo posesif itu,gua tau kok dia sayang lu tapi gua harap jangan terlalu posesif takutnya lu gak bebas,ngalamin apapun kalau dia posesif begitu,benar enggak?"
"Haha bisa aja lu,yaudah kalau gitu gua turun ya bye,hati-hati."
Regina turun dari mobil Heri,Heri tersenyum dari dalam enggak lama,Regina masuk kerumah dan Sam tetap marah kepadanya,tanpa alasan apapun.
"Sam,kamu mau sampai kapan marahan sama aku,kayak gini?"
__ADS_1
Sam tetap tidak perduli dengan Regina,enggak lama Sam pesan makan dari luar makan di ruang tv,sembari kerja Regina jalan ke arah Sam melihat Sam dari dekat dan suapin Regina.
"Kamu udah gak marah?"
Regina makan suapin Sam,enggak lama Sam selesai kerja dan Regina tidur di pundak Sam,Sam mengendong Regina ke kamarnya,sampai di kamarnya Sam mengecup kening Regina.
.
.
"Sam!"
Sam tidak bicara apa-apa,Regina merasa kesal sampai akhirnya mendekap Sam dari belakang,Sam mencoba melepaskan dekapan tersebut.
"Sam,kamu kenapa sih? gak enak banget loh di cuekin kamu kayak gini."
Sam tetap diam dan tidak mau berbicara apapun dengan Regina,Regina yang lelah dengan sikap Sam,akhirnya melepaskan Sam mencoba untuk pergi,Sam melihat ke arah Regina. Sam mendekap Regina dari belakang.
"Sekarang udah anggap aku ada,tadi kemana aja?"
"Siapa suruh kamu ngeselin."
"Hmm,kalau aku ngeselin di diamin gitu."
"Iya biar tau rasa,gimana di diamin."
Regina ingin menoleh ke belakang di tahan oleh Sam,Sam hanya mengecup kepala belakang Regina sontak melepaskan dekapan tersebut.
"Aku mau ikut kamu ke kantor Sam."
Sam bingung dan memberhentinkan langkah kakinya,sembari menoleh ke arah Regina,Regina tersenyum sembari jalan ke arah Sam.
"Boleh kan? apa gak boleh? kalau gak boleh gapapa,aku di rumah aja,emang kalau kamu gak mau kasih."
"Terserah,tapi aku sibuk kamu bakal bosan sih,tapi yaudah kalau emang kamu mau,aku gak bakal ngelarang."
"Ok,aku siap-siap."
__ADS_1
Sam hanya diam dan menunggu di mobil,gak lama Regina datang dengan pakaian kantor,Sam hanya diam di dalam mobil mereka hanya diam,Regina terus mengenggam erat lengan Sam sembari,tidur di pundak Sam. Sam yang melihat itu hanya diam dan menikmati saja.