Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
67.Kalau enggak ada kamu


__ADS_3

“Kamu ngapain sih sayang?”


“Enggak kok,emang aku kenapa?”


“Iya,habis kamu kayak enggak mau aku bantu.”


Bos hanya diam,sembari mengambil makanan setelah itu,makan di meja makan di depan Regina.


“Sayang,sadar enggak sih makanan kamu enak semua.”


“Enggak,kalau sadar pasti aku akan masak terus,untuk kamu benar enggak?”


“Iya makanan kamu enak seriusan,enak banget kadang kalau makan,makanan kamu rasanya kurang aja.”


Regina tersenyum mendengar perkataan bos,setelah melihat bos makan banyak,Regina enggak nyadar kalau dirinya.


"Sayang."


"Ada apa kamu manggil aku?"


"Aku ada sesuatu tahu buat kamu, kamu mau nggak tapi nanti ya bisa aku makan."


"Kebiasaan deh, selalu dia penasaran dulu baru dikasih tahu."


Bos hanya senyum cengir kuda kepada Regina,setelah itu selesai makan.


"Sayang kamu tutup mata dulu boleh nggak."


"Kalau aku nggak tutup mata kenapa?"


"Iya aku nggak ngasih kamu kadonya."


"Kok kamu gitu sih masa kalau aku nggak tutup mata nggak dikasih kadonya jahat banget."


Bos hanya diam dan akhirnya Regina mengalah kepada bos.


"Awas ya ngasihnya  macam-macam, Aku bakal marah sih kalau kamu ngasih aku macem-macem."


Setelah selesai akhirnya, Regina membuka matanya dan sontak kaget.


"Sayang,ini serius enggak sih?"


Regina melihat kalung yang berinsial nama dirinya,setelah itu bos tersenyum sembari ingin memakaikan kepada Regina.


"Semoga kamu suka ya sayang."


"Iya aku pasti sukalah sayang,makasih ya."


"Iya sayang sama-sama."


"Iyaudah kalau gitu,aku pergi ke kerjaan aku ya,masih banyak pekerjaan aku yang belum selesai sayang."


"Iya sayang."


Regina pegang kalungnya,sembari tersenyum semeringai dengan kalungnya tersebut.


.


.


"Sayang,ayo makan."


"Iya sayang."

__ADS_1


Bos sembari membenarkan dasinya setelah itu,di bantu oleh Regina.


"Sayang kalau mau pakai dasi itu diam,jangan gerak-gerak kan jadi mencong kanan dan kiri,kamu gimana sih?"


Bos tersenyum sembari pegang kedua wajah Regina,yang membuatnya semangkin sayang dengan wanita ini.


"Kamu sadar enggak sih? Kehadiran kamu itu,sangat penting untuk aku."


"Kenapa kamu bisa bilang begitu sayang?"


"Enggak tau,kadang aku suka merasa kalau kamu istri aku,tapi enggak tau kamu anggap aku suami apa hanya orang asing."


Selesai memperbaiki dasi bos,Regina pegang kedua tangan bos.


"Kamu bicara apa sih sayang,kadang aku kesal deh sama cara bicara kamu,padahal aku enggak ngapa-ngapain."


"Hmm emangnya aku enggak boleh ya,ngerasa kalau kadang aku gak gitu penting,untuk kamu yang bisa segalanya."


"Mana ada sih sayang,aku juga kadang lemah jadi kamu jangan ngerasa aku kuat banget deh,sayang."


Regina tersenyum,sembari itu mereka berdua hanya diam dan makan,sarapan yang di siapkan.


"Enak gak sayang?" Regina yang melihat ke arah bos.


"Enak kok sayang,makasih ya setiap hari,udah kasih aku makanan yang enak." Bos selalu bersyukur di kasih makanan enak dengan Regina.


Selesai makan akhirnya mereka hanya diam,setelah diam handphone bos berdering.


"Bentar ya sayang."


"Iya sayang."


Akhirnya bos menjauh sebentar setelah itu,akhirnya bos balik ke Regina.


"Sayang,aku udah harus jalan ya,maaf ya sayang."


"Iya sayang aku."


Akhirnya Regina menemami,bos sampai ke depan setelah sudah selesai akhirnya Regina masuk ke dalam.


"Kan sendiri lagi deh,sekarang suka bingung mau apa."


Regina melihat, ada foto Heri dan juga Ella, Regina ikut bahagia melihat mereka berdua akhirnya bisa rukun dan dekat seperti, hubungan dirinya dengan bos.


"Akhirnya ini anak, bisa juga dekat sama pasangannya, berarti usaha gua enggak sia-sia untuk ngedeketin mereka baguslah."


Tidak lama handphone Regina berdering dari adiknya.


"Halo dik kenapa?"


"Kakak lagi apa kak? Sibuk nggak kak, kalau nggak sibuk aku mau aja kakak pergi ke cafe dekat rumah kita mau nggak?"


"Oke sebentar lagi kakak siap-siap ya nanti kalau udah sampai, kakak kasih tahu kalian."


"Baik kak."


Akhirnya Regina pergi ke sana,setelah sampai di kafe,Regina mendekap kedua adiknya dengan erat.


“Ada apa sih adik-adik kakak ngajak ketemu terus.”


“Enggak apa-apa kita tau,kakak pasti bosan makannya kita ajak ketemu.”


Regina sontak tersenyum mendengarkan perkataan adik-adiknya,sembari duduk di bangku yang kosong.

__ADS_1


“Kalian udah pada makan?”


“Belum kak,kita tunggu kakak.”


“Iyaudah pesan aja,nanti biar kakak yang bayar terserah kalian mau pesan apa,tapi jangan lupa untuk mama dan papa juga ya.”


“Iya ka siap.”


Handphone Regina berdering dari bos,Regina tersenyum semeringai,enggak lama adik-adiknya sadar.


“Kak,dari siapa sih? Senang banget,kak Heri ya?”


“Hmm,bukan kok kalian apa sih anak kecil,mau tau aja urusan orang dewasa.”


“Emang enggak boleh kak? Kan kita juga udah dewasa.


Regina hanya tersenyum,sembari menghelus kepala adiknya,selesai pesan makan akhirnya menunggu makanan datang.


“Kalian emang udah dewasa tapi kakak senang,anggap kalian adik kecil kakak,paham kalian?”


“Loh kenapa gitu kak? Bukannya kalau udah gede,bisa bantu kakak ya emang,kakak enggak mau di bantu?”


“Bantu? Untuk apa?”


“Iya untuk apa aja kak,kenapa enggak ya kan?”


“Hmm,ada-ada aja kalian udah ah enggak usah di pikirin,kakak cuman mau kalian mikir belajar aja selain itu,jangan paham adik-adik kakak yang cantik.”


Kedua adiknya hanya menganggukan kepala,enggak lama makanan mereka datang dan makan,seketika Heri memikirkan Regina.


“Lagi apa ya Regina,kadang rindu sama dia.”gumam Heri yang masih akan rindu kepada Regina.


Ella datang dan mendekap Heri dari belakang,Heri sontak kaget melihat ke arah Ella tersenyum.


“Kenapa? Kagetin aja,mau bikin jantungan apa?”


“Gitu aja kaget,dasar lemah.”


“Dih,lemah darimana? Kaget beneran tau.”


Ella sembari mengajak Heri duduk,di atas kasur Heri tersenyum melihat ke arah Ella.


“Ada apa sayang?”


“Yang harusnya nanya aku,bukan kamu gimana sih?”


“Hmm,aku baik-baik aja kok sayang,emang aku kenapa?”


“Masa? Kok kalau baik-baik aja kenapa melamun,hayo melamun apa?”


“Hm,aku lagi mikirin nanti konsep pernikahan kita gimana ya?”


Ella tersenyum,sembari mendekap lengan Heri,begitu juga dengan Heri yang mengecup pucuk kepala Ella.


“Kamu kenapa sih sayang? Pemikirnya jahat terus ke aku,aku mikirin hal tentang nikah kamu pasti mikir,aku mau jahatin kamu ya?”


“Iya,kok kamu tau si,sadar aja.”


Ella tersenyum,sembari melihat ke arah Heri,Heri walau masih menyayangi Regina,untuk melupakan Regina dirinya mampu,untuk menepuh hidup baru dan memulai dari awal.


“Bentar ya sayang,aku ke kantor dulu.”


“Iya Heri,hati-hati ya.”

__ADS_1


Heri sontak pergi dari hadapan Ella,mama dan papa Heri yang melihat itu merasa bahagia akhirnya Heri bisa lepas dari Ella.


Sesampai Heri di mobil,Heri terus memikirkan Regina,ke kafe dekat rumah lamanya,dari jauh saja sudah membuat Heri bahagia melihat Regina.


__ADS_2