
“Sayang! Lagi apa? Dan dimana aku udah sampai ini,kamu sih gamau pergi sama aku,kan aku jadi enggak ada teman,jahat!”
Regina yang mendengar itu hanya ketawa,serta gak habis pikir ternyata Heri udah punya pacar dan pacarnya sepertinya orang yang sama denganya,Regina langsung pergi Heri yang niat awal mau menahan Regina,malah udah pergi duluan.
“Hmm,apa?”
“Kamu udah makan belum sayang?”
“Udah,kenapa emangnya?”
“Enggak kok nanya aja,aa kangen sama sikap ketus kamu,I love you sayang tunggu aku pulang ya,awas genit matanya aku kecup nanti.”
Heri hanya diam dan mematikan teleponya,setelah selesai makan Heri ke kasir dan membayar makananya.
“Maaf ya,tadi itu-”
“Totalnya 149 ya kak,mau bayar pakai tunai,kartu debit/kredit.”
Heri merasa sifat Regina berubah,ketika dapat telepon dari Ella,Heri langsung bayar tanpa basa-basi,setelah shift kerja Regina selesai,Regina kaget ada Heri.
“Re-”
“Iya ka,kenapa?”
“Ada yang mau aku bicarain sama kamu,penting!”
Regina bingung dan merasa kalau dirinya tidak terlalu dekat dengan Heri,Regina menhampiri Heri dengan senyumnya yang biasa di kerja.
“Mau bicara apa kak?”
“Kamu,marah ya soal tadi di telepo-”
Keduanya diam dan tidak ada yang bicara,seakan-akan topik hilang begitu saja Heri mencoba ingin menjelaskan,tapi bagi Regina sudah tidak perlu dan langsung pergi.
Deg
Sakit.
Heri mencoba mengejar Regina,tapi sepertinya Regina gamau di ganggu,Heri masuk ke dalam mobil dan pergi,sedangkan Regina hanya tersenyum melihat Heri,sampai dirumah.
“Kakak.”
Regina tersenyum menghampiri kedua adiknya,sambil melihat apa yang adik-adiknya lakukan,Regina bingung adik-adiknya lagi ngapain.
“Kakak bingung ya,kita ngapain ya?”
“Iya,kalian ngapain?”
“Ini kita lagi ada tugas kak,aku ada tugas gambar kalau kak Tiara enggak tau,dari tadi kak Tiara sibuk banget sama stik es krim.”
__ADS_1
Regina yang melihat kedua adiknya sibuk,mengingatkan dirinya akan sekolah,setelah itu Regina pergi mandi sebelum mandi mama mendekati Regina.
“Sayang.”
“Iya ma,ada apa?”
“Kamu,gimana kerjanya lancar sayang?”
“Lancar ma,tenang aja ya mama enggak usah pusingin Regina,Regina enggak mau mama pusing karena Regina.”
Mama hanya tersenyum kepada anaknya yang penuh dengan pengertian itu,setelah itu mama peluk Regina karena merasa gak enak memikul beban keluarga yang berat dan membuatnya tumbuh dewasa dengan cepat.
“Maafin mama dan papa ya sayang,udah buat kamu menderita dan memikul beban sendirian.”
“Duh,mama bicara apa sih? Aku enggak merasa gitu kok,aku aja malah senang bisa bantu mama dan papa kapan lagi,mau bantu ma?”
Mama malah tambah merasa bersalah dan gak enak sama Regina,sembari peluk Regina,Regina hanya tersenyum sambil mengusap air mata mamanya.
“Ma,udah ma jangan mikir enggak-enggak,aku enggak apa-apa jadi mama jangan mikir macam-maca ya,aku sayang mama dan aku lakuin ini tulus untuk papa dan mama serta keluarga ini,oke ma.”
Regina hanya tersenyum dan pergi mandi,setelah selesai mandi balik ke kamar adik-adiknya yang sudah tertidur pulas di tempat tidur masing-masing.
Regina juga tidak mau kalah dan tidur di tempat tidurnya,sambil melamun tentang Heri,apa benar itu cewenya dan kalau emang benar enggak apa-apa juga sih,bukan hak Regina juga.
.
.
“Pagi sayang.”
Regina langsung pergi mandi,Tiara yang sedang cari barang langsung di hampiri oleh Regina sambil pegang kepala adiknya.
“Tiara,kamu cari apa?”
“Ini kak lagi cari tempat kosong yang tidak kepake,ada gak ka?”
“Sini kakak bantuin cari,kamu sarapan dulu deh.”
“Ok ka,makasih ya ka.”
Regina menemukan tempat biasa yang tidak kepakai,setelah itu memberi kepada Tiara,Tiara asik makan sedangkan Regina pergi mandi,selesai mandi Tiara marah-marah.
“Tiara,kamu kenapa?”
Tanya Regina yang bingung,ada apa dengan adiknya,setelah itu Tiara marah kepada kakaknya,sambil buang-buang barang.
“Tiara,kamu kenapa?”
“Kakak yang kenapa,aku udah bilang bukan ini kak,kenapa kakak ambil ini.”
__ADS_1
“Yah,kakak enggak tau,kamu mau yang kayak gimana? Kalau kakak salah ya kakak minta maaf dan kamu jangan marah-marah dong sama kakak,kan kakak udah berusaha bantu kamu.”
Tiara gamau mendengar alasan kakaknya,Regina langsung pergi begitu saja dan Regina harus membereskan semua barang sebelum pergi kerja,Selly menghampiri kakaknya.
“Sini ka,aku bantu,maafin kak Tiara ya ka.”
Regina hanya senyum sambil menghelus kepala adiknya dan peluk adiknya,setelah selesai berberes akhirnya Regina mengantar Selly,Heri yang melihat Regina sedih bingung ada apa,apa masih karena kejadian kemarin.
“Regina,tunggu.”
“Eh,kak ada apa?”
“Kamu mau ke Restauran kan? Saya antarin ya.”
“Enggak usah kak,enggak apa-apa saya bisa sendiri kok,nanti pacarnya marah lagi.”
Regina menolak dengan halus,sambil berjalan dengan langkah tertatih bingung harus gimana,lalu Heri menyeletuk kepada Regina.
“Dia bukan pacar saya,tapi dia tunangan saya.”
Regina tersenyum tambah merasa hancur hatinya,Regina melanjutkan langkah kakinya yang mangkin tidak semangat mendengar apa yang di ucapkan oleh Heri.
“Tapi saya enggak cinta sama dia,saya punya orang yang saya cintai.”
Regina yang mendengar itu hanya diam dan awalnya berpikir itu dia,tapi siapa dia juga sampai Heri menyukai dirinya melanjutkan langkah kakinya yang bentar lagi menuju angkot.
“Orang yang saya suka itu ka- yah pergi.”
Regina sudah naik angkot dan mendengar apa yang di bicarakan Heri,membuatnya tersenyum sampai di Restauran.
“Loh? Re,kenapa telat.”
“Maaf ibu tadi di rumah saya ada masalah dan maaf juga saya enggak kabarin.”
“Duh,kamu itu ada-ada aja.”
Heri yang baru sampai di Restauran tempat Regina bekerja,karena kasian kepada Regina akhirnya Heri memutuskan untuk membawa semua pegawainya untuk makan siang bersama dan di bayar oleh Heri.
“Wah banyak banget tamunya,bisa ini buat beli bahan baku besok.”
Regina bingung kenapa Ibu Restauran berkata seperti itu,karena itu masalah pribadi enggak mungkin dong Regina tanya,Regina hanya diam saja tanpa bertanya apa-apapun.
“Jadi gini Re.”
“Iya,Ibu ada apa?”
“Kamu beberapa hari ini,bisa gak bawa tamu sebanyak ini.”
“Ada apa ya ibu?”
__ADS_1
Heri yang dari jauh melihat Ibu Restauran memanfaatkan Regina,membuat Heri kesal seraya Regina seperti kacung bukan pekerja,Regina membalas dengan senyum dan membuat Heri berpikir.
“Kok bisa ada ya,cewe seperti dia udah tau di jadiin kacung,masih aja bisa tersenyum.”Heri bergumam sambil mengeleng kepalanya.