Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
44.Kamu lucu dan aku suka


__ADS_3

“Her! Kamu kenapa?”Regina yang tiba-tiba di dekap,jadi bingung ingin berkata apa kepada Heri,di salah satu dirinya senang di salah satu sisi lagi,persaanya mengebu-gebu terhadap Heri.


“Aku enggak mau kamu tinggalin aku.”Heri mengecup pundak Regina,Regina yang mendengar itu merasa Heri tidak pernah manja seperti ini,ada apa dengan Heri.


“Re.”


“Hmm.”


Regina sontak melihat ke arah Heri,Heri hanya diam dan menundukan kepalanya ke bawah Regina pegang kedua wajah Heri.


“Kenapa harus nunduk sayang?”


“Aku takut aja.”


“Hmm,enggak usah takut,justru aku senang kalau kamu jujur,malah aku enggak tau harus bilang apa,kalau kamu bicara begitu sayang.”


Heri mendekap Regina dengan erat,setelah itu Regina diam dan gak lama Regina tersenyum karena sikap Heri yang lucu.


.


.


“Her,makan ayo.”


“Iya.”


Handphone Heri berdering dari Ella,karena merasa kesal akhirnya Regina sontak menjawab telepon tersebut,Heri yang melihat itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa.


“Halo,ada apa?”


“Heri mana? Kok kamu yang jawab?”


“Heri lagi mandi,kenapa?”


Ella sontak mematikan telepon tersebut,setelah itu Regina menghela nafas karena menahan kesal dengan Ella.


“Kenapa sayang?”


“Mantan kamu itu ngeselin ya orangnya,heran aku. Kamu bisa-bisanya betah sama orang kayak gitu.”


“Sebenarnya bukan betah sih,namanya juga di jodohin,mau gimana lagi?”


“Hmm iya sih,kedua orangtua kamu kan keras ya sifatnya wajar aja kalau kamu keikut juga sama mereka.”


“Yah,habis mau gimana lagi? Kalau aku mau bantah si bisa aja,tapi kayakanya susah deh.”


Regina merasa kasian kepada Heri,setelah itu Regina mendekap kedua tangan Heri dan mengecup pungung tangan Heri.


“Maaf ya,kalau aku kebawa emosi.”


“Enggak kok,aku gak ngerasa gitu jadi kamu enggak usah marah juga sama apa yang aku bicarain,sayang.”


“Hmm yaudah kalau gitu sarapan ayo,habis sarapan kita langsung kerja lagi deh,kayak biasa.”

__ADS_1


Heri hanya tersenyum dan melihat Regina seperti cerminan kerja terus,tapi enggak pernah mikir ke depan walau kadang,sekelibat Heri sering berpikir,kalau dirinya memiliki anak bersama Regina,apa yang akan terjadi ya.


“Her,kamu kenapa sayang?”


“Hah? Enggak apa-apa,ini makanan kamu enak sayang,makanya aku suka.”


“Hmm,benaran enak? Apa bohong doang?”


“Benaranlah,masa bohongan.”


Regina sontak tersenyum kepada Heri,serta berpikir gimana cara kasih tau kepada Regina kalau dirinya,ingin memiliki benih bersama Regina.


.


.


“Heri kenapa ya,melamun aja? Harusnya kalau ada apa-apa,dia bisa sampaikan tapi,kenapa diam aja,apa aku ada salah bicara ya.”


Bos menepuk pundak Regina,Regina kaget spontan mengeluarkan jurus silatnya kepada bos,bos ketawa terkekeh Regina merasa malu.


“E-eh maaf bos,ada apa?”


“Kamu kenapa? Kok melamun aja,ada yang menganggu pikiran kamu ya? Sampai kamu melamun begitu.”


Regina terdiam sambil tersenyum,agar masalahnya cepat selesai,karena Regina harus profesional,karena ia lagi di tempat kerja harus bisa bedain tempat dimana,harus serius dan harus tidak serius.


“Maaf ya pak,saya enggak akan mengulang lagi.”


.


.


“Re.”


“Iya bos,ada apa?”


“Kamu enggak ada kerjaan kan?”


“Enggak bos,ada apa?”


“Bagus,ikut saya.”


Regina bingung ingin ke mana bersama bos,sedangkan dirinya sendiri masih tidak tau,harus ngapain dan ada janji untuk pulang cepat menemani Heri di apartemen.


“Bos,kita mau kemana?”


“Mau rapat,emang kamu kira mau kemana?”


“Oh.”


Regina tampak sedih,kira bos tapi sebenarnya bos,hanya alasan aja agar bisa melihat Regina di kala rapat,entah mengapa kehadiran Regina justru membuat bos fokus akan dirinya dan tidak bisa berpaling dari yang lain.


“Bos,saya pulang ya kan rapatnya udah selesai.”

__ADS_1


“Kamu enggak mau makan dulu? Makan dulu dong,biar saya enggak menjadi bos yang jahat.”


“Bos baik kok,karena baik makanya saya milih mau pulang aja bos.”


Bos tetap tidak mendengarkan Regina dan memesan makan untuk dirinya dan juga Regina.Regina yang merasa tidak enak harus menikmati semua itu mau tidak  mau.


“Bos,kan saya udah bilang enggak usah,kenapa masih di pesanin bos.”


“Kamu mau makan sendiri apa saya yang suapin kamu?”


Regina merasa kesal kepada bos yang apa-apa maksa kenapa bos,nya selalu memaksa dirinya padahal dirinya sudah bilang,kalau tidak ingin merepotkan tetap saja bosnya teramat baik kepadanya.


“Kenapa Re? Kamu marah.”


“Iya,karena bos selalu baik sama saya,buat saya enggak nyaman sama sikap bos.”


Bos yang mendengar itu sontak diam dan tidak lama makanan mereka datang,setelah datang mereka benar-benar diam aja,tanpa ada berkata sepatahpun.


“Bos.”


“Hmm.”


“Makasih ya atas makan malamnya,tapi lain kali kalau saya bilang jangan ya jangan,saya enggak mau bos buang-buang waktu untuk orang seperti saya.”


Bos hanya diam dan tidak mau menjawab perkataan Regina,yang semangkin di dengar membuatnya semangkin sakit hati,setelah mengantar Regina di apartemenya Regina merasa bos lebih diam.


“Bos.”


“Iya.”


“Bos kenapa? Marah sama saya?”


“Iya.”


Regina bingung dan baru kali ini ketemu orang kalau lagi marah jujur,setelah itu Regina mencoba tersenyum terkekeh membuat bos tetap diam. Tidak bereaksi apa-apa.


“Bos marah,kenapa?”


“Enggak apa-apa,emang sepenting itu saya marah sama kamu,sampai kamu mau tau.”


“Penting,karena saya karyawan bos,kalau bosnya marah sama karyawan,karyawanya harus intropeksi bukan diam.”


Bos yang tau bahwa dirinya di anggap sebagai bos aja,hanya bisa membuatnya diam tanpa bicara apa-apa,sembari menghela nafas bos melihat ke arah Regina.


“Udah,masuk gih,udah malam percuma saya bicara sama kamu,kamu enggak akan mengerti,kalau saya bicara yang gimana-gimana kan kamu enggak akan paham juga,maksud saya gimana.”


Bos hanya diam begitu juga dengan Regina,Regina ingin melanjutkan perkataanya,tapi sebenarnya bos benar-benar marah akan dirinya dan dirinya sendiri pun tidak bisa berkata apa-apa kalau bos sudah marah.


“Iyaudah,kalau bos marah saya minta maaf,saya janji enggak akan mengulang lagi dan saya minta maaf,kalau saya ada salah.”


“Hmm,sampai jumpa besok selamat malam.”


Regina sontak keluar dari mobil bos,tanpa ada yang menghambat,tapi Regina yang melihat itu merasa kesal dan mendekap bos dengan erat. Bos hanya diam tidak bisa berkata apa-apa sedangkan Regina,terus mendekap bos sampai bos ingin berbicara denganya.

__ADS_1


__ADS_2