
“Pak.”
“Bos.”Heri jalan ke arah mobil yang jauh banget di parkir,agar orang-orang tidak tahu bahwa Heri orang yang punya.
Heri jalan sembari bersama Regina,Regina hanya diam sembari merasa gugup di mobil Heri. Heri mengenggam tangan Regina dengan erat. Regina melihat tangan Heri. Heri hanya melihat pemadangan.
“Ini rumah gua.”Regina memberi tahu Heri,sembari Heri melihat kanan dan kiri,merasa lingkungan yang tenang nan indah.
“Gua boleh masuk?”Heri menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah Regina,walau Regina takut awalnya akan di tertawain atau di jauhi oleh Heri.
Regina yang mendengar itu sontak diam dan enggak habis pikir dengan pria langka ini,pikirnya. Regina menganggukan kepalanya mereka,turun dari mobil sembari melihat lingkungan sekitar.
“Ini rumah gua.”Regina sembari menunjuk rumah yang tidak pantas untuk ditinggal,Heri hanya diam dan melihat isi dalam.
“Mau masuk Her?”
“Boleh,ayo masuk.”
Heri langsung masuk ke dalam rumah Regina,tanpa basa-basi,setelah masuk Regina merasa tidak enak serta tidak nyaman kepada Heri.
“Re.”
“Iya?”
“Lu mau enggak tinggal dirumah gua? Di sini enggak layak tau untuk lu dan keluarga lu,lu liat itu atap-atapnya udah pada rusak,gua takut kena lu dan keluarga lu.”
Regina hanya tersenyum,dan salah paham kepada Heri,ia pikir Heri tidak akan menjelekanya ternyata sebaliknya.
“Pulang gih!” Regina dengan nada ketusnya kepada Heri,Heri bingung ada apa sembari menarik tangan Regina keluar dari rumah.
Heri melihat Regina dengan tatapan tajam,pak supir hanya diam dan masuk ke dalam mobil sembari menghadap ke arah lain.
“Kenapa lu marah? Gua cuman memberi tahu apa yang gua liat,emang gua salah dan kenapa lu marah?”
“Gua tau,lu mau menghina gua kan? Makanya lu suruh gua pindah! Jahat lu emang! Gua kira lu beda ternyata lu sama aja!”
Regina ingin pergi di tahan oleh Heri,langsung mendekap Regina dari belakang. Regina kaget dan enggak habis pikir dengan otak Heri.
“Lepas enggak! Kalau enggak gua teriak ini!”
“Teriak aja! Gua enggak peduli dan gua juga enggak takut.”
__ADS_1
Regina diam dan mengalah kepada Heri,Heri melihat Regina mengalah membuatnya tersenyum,sembari memutar badan Regina dengan pelan,mendekap kedua tangan Regina dengan erat.
“Gua mau,lu hidup layak dan gua enggak mau lu di sini.”
“Lu ngina gua ya?”
“Hah? Gua? Ngina? Buat apa?”
“Iya,karena lu berada dan gampang bicara gitu,sedangkan gua enggak punya apa-apa.”
Heri merasa kesal dengan perkataan Regina,yang terlalu mengangap Heri tidak berguna tanpa orangtuanya.
“Iyaudah,gua kerja buat lu dan buat keluarga lu gimana?”
“Hah? Buat apa? Lu kalau kerja buat diri lu sendiri lah,lagian kan kita sahabatan emang lu mau sama gua?”
Heri yang mendengar itu mangkin merasa kesal,sontak pergi dari hadapan Regina.Regina yang sadar akan perkataanya membuatnya menyesal,seketika Heri menajdi diam pada dirinya tanpa ada pembicaraan apapun.
“Her.”
Heri sontak pergi dari hadapan Regina,menurut Heri sudah tidak ada kesempatan,untuk apa jadi seorang sahabat,sedangkan Heri berharap lebih dan Regina hanya memikirkan dirinya sendiri.
Pada saat itu,Regina berkata seperti itu bukan atas kemaunya,melainkan ia ingin Heri hidup lebih bahagia dari sekarang,ia tidak ingin membebani orang yang di cintainya.
Paska kelulusan,mereka saling diam-diaman sampai suatu ketika,Heri memberi kado perpisahan kepada Regina.
“Re,gua mau bicara ketemu gua di lorong ya.”
Regina yang membaca surat itu di atas mejanya,sontak pergi ke sana melihat Heri di gangguin kakak kelas waktu itu,membuat Regina tidak tinggal diam dan ternyata malah itu adalah sahabat Heri.
Regina sontak kaget langsung menampar Heri,kakak kelas pergi setelah ada perkelahian antara pasangan tanpa status itu,Regina memutuskan untuk pergi dari hadapan Heri.
“Re,tunggu!”
Regina menampar Heri kesekian kalinya,Heri langsung mengambil kedua tangan Regina dan mendekap Regina dengan erat,walau Regina memang kalah tenaganya dengan Heri. Regina selalu mengunakan berbagai cara.
“Gua ke sini cuman mau bicara,kita udah lulus enggak perlu dendam-dendaman,selama ini apa yang lu bicara tentang gua itu benar,tanpa oragtua gua,gua emang bukan apa-apa tapi gua akan buktiin ke lu,suatu saat nanti ketika gua jadi orang.”
Heri memberi kado yang sudah ia janjikan pada dirinya,kepada Regina. Regina terdiam melihat kado yang diberikan dari Heri untuknya.
“Iya,gua tau lu belum ulangtahun,tapi memberi lu kado enggak perlu pas lu ulangtahun kok,liat lu bahagia aja udah cukup buat gua.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Iya,gua tau lu anggap gua teman,gua mau lu terima kado ini sebagai perpisahan teman,gua tau kita akan ada kehidupan masing-masing,tapi gua harap hal-hal kecil dari gua selalu lu jaga,biar gua juga tau kalau lu selalu jaga gua.”
Regina yang mendengar itu terasa ia,akan jauh dari Heri. Walau semuanya awalnya salah dirinya,ia juga bingung harus berbuat apa Heri mengecup pipi kanan Regina.
“Her.”
“Terakhir,enggak akan gua ulang lagi kok,kecuali lu mau di sebelah kiri.”
Regina menepuk lengan Heri,Heri hanya tertawa sembari menghelus kepala Regina. Selesai kelulusan mereka berdua menjadi orang asing,tidak seperti dulu yang sering ketemu sekarang mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing.
.
.
“Kalau di ingat-ingat dulu,lucu juga ya.”Regina melihat ke arah Heri,yang kini suaminya bukan seorang teman atau sahabat.
“Iya,di titik ini juga butuh proses kan,kalau enggak ada proses gimana bisa ketemu?”
“Kok,lu bisa ketemu gua lagi? Caranya gimana?”
Heri hanya diam dan tidak mau menjawab,pura-pura sibuk dengan perkerjaanya,hanya saja Regina terus memaksa agar Heri ingin memberi tahunya.
“Her,kasih tau aku mau dengar.”
“Pengen banget dengar? Apa enggak.”
Regina spontan mengecup kening Heri,Heri hanya diam dan melihat ke arah Regina,sembari Regina tersenyum semeringai kepada Heri.
“Apa!”
“Udah berani ya sekarang,siapa yang ngajarin?”
Regina dengan ringan tangan menunjuk ke arah Heri,Heri langsung mengecup jari Regina.
“Ih!”
Heri hanya tertawa sembari menghelus kepala Regina,handphone Regina berdering dari bos. Tetapi Regina tidak peduli dan membuang jauh handphonenya,sembari itu Heri hanya melihat ke arah Regina.
“Jawab dong sayang,teleponya itu handphone kamu berdering.”
__ADS_1
“Enggak mau,mau manja sama kamu aja.”
Heri yang melihat sisi manis dari Regina langsung mencubit kecil hidung Regina yang mancung itu,sembari Regina dalam dekapan Heri.