
“Luka kamu enggak apa-apa kok,jadi kamu masih bisa kerja.”
Heri pergi dari hadapan Regina,Regina merasa semenjak kejadian kemarin Heri lebih dingin dari biasanya,walau dirinya juga bingung harus berbuat apa sama Heri.
“Her,makan ayo.”
Regina ingin mencoba jujur dengan Heri,tentang perasaanya tapi kenapa semuanya jadi berat,karena kejadian kemarin,apa semuaya murni salah atau memang keinginan Regina pribadi.
“Iya,bentar ya kerjaan aku masih banyak,duluan aja.”
Regina merasa kesal dan langsung membawa piring Heri,ke arahnya. Makan bersama di sofa dengan muka cemberut.
“Iyaudah ya aku makan,gitu aja marah.”Heri sembari makan dan juga kerja,Regina yang terus memandangi Heri,membuat Heri tidak nyaman sontak melihat Regina.
“Kamu kenapa sih? Terus liat aku? Ada yang aneh ya sama muka aku?”
Regina hanya diam dan mencoba untuk suapin Heri makan,Heri bingung ada apa menurut saja kepada Regina.
“Her.”
“Hmm.”
Regina selalu mencoba ingin membicarakan soal hubunganya kepada Heri,ia sadar ini semua pura-pura tapi mengapa Regina merasa berbeda,seperti memiliki hati yang sama hanya terhalang dengan orang di sekeliling mereka.
“Enggak jadi Her.”
“Ok.”
Heri langsung menghelus kepala Regina,Regina diam aja tanpa perlawanan apapun,Handphone Heri berdering dari Ella.
“Halo.”
“Kamu lagi apa sayang?”
“Lagi sama istri gua,kenapa!”
Regina yang mendengar itu senyum semeringai,walau menjadi pura-pura akan lebih indah menjadi istri benaran.
.
.
Sampai di kantor Regina,terus tersenyum walau seketika dia lupa bagaimana hubunganya kepada bosnya kemarin,bertabarakan dengan bos.
“Pagi pak.”
“P-pagi Re.”
Bos merasa salah tingkah,saat berduaan di lift bersama Regina,bos bingung ingin memulai bicara bagaimana dengan Regina.
“Re.”
__ADS_1
“Iya pak,ada apa?”
Bos terhenti ingin bicara apa dengan Regina,sampai akhirnya pembicaraan itu tak tersampaikan Regina bingung,ada apa dengan bos. Padahal dirinya tidak melakukan kesalahan.
Sampai diruangan Regina baru sadar kalau kemarin,tanpa sadar dirinya mengecup pipi bos. Regina merasa tidak enak dan mengintip ke arah ruangan bos. Bos sedari tadi mukanya merah.
.
.
“Masuk.”
Regina masuk keruangan bos,setelah masuk keruangan bos,Regina melihat ke arah bos menghampiri bos,seraya dirinya tidak melakukan kesalahan.
“Bos,kenapa? Kok mukanya merah? Bos sakit?” Regina tanpa sadar pegang dahi bos,bos yang hanya merasa jantungnya berdebar-debar tidak bisa berkata apa-apa,kepada Regina.
“Re,saya bisa sendiri.”
Regina sontak mendekap bos,bos sembari membantu bos dengan dirinya yang terlihat lemah.
“Udah bos,sini saya bantu aja,biar bos cepat sembuh.”
Regina tampak yang seperti khawatir dengan bos,membuat bos merasa menjadi tidak bisa tanpa Regina.
Regina membantu bos untuk tidur di sofa,selama di sofa sesekali Regina memantau keadaan bos,sore hari tak terasa akhirnya Regina mengecek dahi bos.
“Untung aja bos udah turun panasnya,syukurlah bos bisa bekerja seperti biasa lagi.”
Regina yang baru mau pergi di tahan oleh bos,lenganya di jadikan guling dengan bos,setelah itu Regina hanya diam tidak bisa berkata apa-apa.
.
.
“Iya Her,ada apa?”
“Enggak apa-apa kok,cuman lagi banyak kerjaan aja,maaf ya.”
Heri hanya diam saja tidak mau terlalu ikut campur urusan Regina,karena bagi Heri,selama Regina tidak mau cerita,untuk apa di bahas daripada nanti malah memberatkan Regina saja,kasian Regina menjadi merasa berat.
“Her,belum tidur?”
“Belum,kerjaan gua masih banyak duluan aja.”
“Loh? Kenapa?”
“Hmm,enggak apa-apa.”
Heri sembari meregangkan badanya,Regina melihat ke arah Heri yang dingin,serta merasa rindu dengan adik-adiknya yang udah lama tidak bertemu.
“Oh ya Re,gimana kabar Selly sama Tiara?”
__ADS_1
“Mereka baik-baik aja kok,cuman aku rindu mereka aja tiap hari.”
“Hmm,kamu enggak mau ketemu mereka?”
Regina hanya tersenyum,sembari melihat muka Heri,Heri langsung mengambil minum dan juga menepuk pundak Regina dengan senyuman manisnya.
“Sabar ya,aku yakin bisa ketemu lagi kok nanti.”
Regina hanya tersenyum kepada Heri,setelah itu Regina pergi ke kamar duluan untuk tidur.
.
.
“Re.”
“Iya Her,ada apa?”
“Aku rasa,hubungan kita sampai sini aja deh?”
Regina bingung pagi-pagi udah bicara sesuatu yang berat,Regina mendekap kedua tangan Heri sembari melihat ke arah Heri yang serius dalam bicaranya kepada Regina.
“Maksud kamu bicara gitu apa sih? Bingung aku,masih enggak ngerti.”
“Aku ngerasa kita udah enggak bisa lanjutin,aku juga enggak mau kalau kamu sama aku terkesan terpaksa,mungkin aku harus balik sama Ella. Selama ini proses kerja aku enggak berjalan dengan baik,aku juga enggak bisa ngebiayain hidup kamu terus,aku minta maaf ya Regina.”
Regina merasa tidak enak kepada Heri,karena terus mengorbankan dirinya dalam urusan keluarganya,Regina langsung mendekap Heri dengan erat sedangkan Heri,menerima dengan lapang dada.
“Aku ngerti kamu sulit,aku enggak mau kalau sampai pisah sama kamu Her.”
“Hmm,kenapa gitu? Bukannya kamu udah ada orang yang kamu cintain? Kenapa harus bertahan sama aku orang,yang enggak kamu suka kan buang-buang waktu,emang kamu enggak merasa begitu?”
Regina langsung menampar Heri dengan tatapan tajam dan penuh kesal dengan Heri,Heri bingung ada apa. Regina sontak pergi tidak sarapan,karena sudah terlalu kesal dengan perkataan Heri.
.
.
“Pagi,Regina.”Bos melihat Regina yang sedang sedih,membuatnya langsung merangkul Regina,di depan keramaian orang yang tidak peduli akan mereka.
Selesai dari lift keduanya berpisah dan masuk keruangan masing-masing,bos bingung ada apa dengan Regina mengapa,Regina terlihat sedih,ada apa dengan Regina seharusnya kalau ada apa-apa cerita dong.
“Re,keruangan saya sekarang.” bos telepon lewat telepon kantor,Regina masuk dengan muka yang sama pas saat di lift.
Saat duduk di bangku yang di sediakan diruang bos,Regina hampir jatuh dan di tangkap oleh bos.
“Re,kamu kenapa sih? Kamu kalau begini terus,saya yang khawatir sama kamu tau,emang kamu mau saya khawatir sama kamu.”
Regina yang mendengar itu hanya tersnyum dan tidak berkata apa-apa,bos semangkin curiga sepertinya Regina ada masalah serius yang tidak bisa di ceritakan.
“Ada apa pak? Panggil saya?”
__ADS_1
“Kamu kenapa? Kalau ada apa-apa cerita sama saya,saya mau kok kalau kamu mau berbagi cerita kamu ke saya,karena saya senang kalau kamu terbuka sama saya Re.”
Regina menghela nafas dan berderai air mata,bos bingung ada apa dengan Regina,akhirnya Regina mendekap bos dengan erat. Bos hanya diam saja tidak bisa berbuat apa-apa selagi bisa membuat Regina tenang,kenapa tidak.