Andai Aku Lebih Dulu

Andai Aku Lebih Dulu
20.Kisah Suami istri


__ADS_3

“Cobain ya,gua mau tau pendapat lu kalau lu yang coba.”kata Heri yang menyodorkan makananya kepada Regina


“Hah? Gua yang coba Heri,kenapa enggak lu dulu? kenapa harus gua.”ucap Regina dengan spontan.


"Kan gua yang masak,wajar dong kalau gua yang minta."


Heri tersenyum,sontak Regina kaget dan tidak merasa ternyata orang pertama yang mencoba makananya,tak lain yaitu Regina.


“Duh,takut sakit perut.”


“Ih,itu kamu yang ngajarin loh,bukan aku sendiri.”kata Heri yang seperti anak kecil di depan Regina.


“Iya-iya gua coba.”


Regina mencoba makanan Heri masak barusan,Heri tidak sabar menunggu respone Regina tentang makanannya.


“Gimana,Regina? Enak enggak? Kalau enggak enak buang aja enggak apa-apa,jangan di paksa daripada nanti kamu kenapa-kenapa.”


“Enak.”


Heri kaget dan langsung mengsantap makanan tersebut,Heri juga kaget dengan rasanya sambil melihat ke arah Regina.


“Iya-ya kok enak ya?”


“Hmm,kamu yang masak mana aku tau,kamu udah ada perkembangan berarti,selamat ya harus diingat jangan lupa.”


“Makasih ya.”


“Makasih kenapa?”


“Karena kamu,aku jadi bisa masak makasih Regina,sayang banget sama kamu.”


Heri langsung mendekap Regina dengan erat,sedangkan Regina hanya diam dan menganggap ini mungkin hanya pelukan sahabat enggak lebih.


“Iya sama-sama tapi jangan puas juga,nanti di latih terus sampai hafal ok.”


“Hmm.”


“Emangnya,kenapa sih lu mau masak?”


“Gua mau selalu kasih lu makan enak dan enggak beli terus.”


Regina yang mendengar itu sontak bingung,ada apa dengan pria ini,pria yang sempurna sampai mau mengotori tanganya masak demi orang yang hanya pura-pura seperti Regina.


“Gua ngerasa,lu terlalu istimewa buat gua Re.”


Regina yang mendengar itu hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa,walau sebenarnya Regina juga masih mikir,apa yang dia lakuin ini benar atau tidaknya.


“Re.”


“Hmm.”


“Kalau gua jahat sama lu,atau gua enggak peduli sama lu,lu boleh marahin gua,kok.”


Regina hanya tersenyum sambil menghelus kepala Heri,Heri bingung ada apa dan Regina langsung menatap mata Heri dengan tulus.


“Gua itu bukan siapa-siapa jadi lu enggak perlu bersikap begitu sama gua,gua juga enggak tau apa-apa tentang lu dan kita ini cuman simulasi jadi enggak masalah.”


Heri langsung diam dan merasa tidak enak,membuat simulasi pura-pura walau sebanarnya dalam hatinya dia ingin sekali Regina mencintainya setulus hatinya.

__ADS_1


Handphone Regina berdering dari salah satu perusahaan utama yang besar dan Regina bingung ini telepon siapa.


“Halo.”kata Regina dengan nada takut dan juga bingung.”


“Benar ini no ibu Regina.”


“Iya benar,dengan saya sendiri,ada apa ya?”


Heri yang melihat itu hanya diam dan merasa marah,kepada orang yang menelpon Regina menganggu,dirinya lagi berdua aja sama Regina.


“Baik pak,makasih ya pak.”


“Sampai jumpa besok.”


Setelah berarkhir,telepon tersebut Regina sangat senang sampai jingkrak-jingkrak dan mendekap Heri dengan erat,Heri bingung ada apa.


“Kenapa Regina?”


“Aku senang banget.”


“Kenapa senang.”


Regina sambil melihat ke arah Heri dan pegang kedua wajah Heri dengan semangat,Heri bingung sontak kaget sekaligus senang.


“Kenap sih? Jadi takut.”


“Aku keterima kerja di perusahaan gede,aaa senang banget.”


“Iya? Selamat ya.”


Regina bingung,kenapa nampaknya Heri terlihat tidak senang mendengar kabar itu dari Regina.


“Loh? Kenapa kok kamu kayak enggak senang? Ada apa?”


Heri langsung pergi dari hadapan Regina untuk bersih-bersih,Regina bingung ada apa lalu kedua adiknya menelpon Regina.


“Hai kak.”


“Hai sayang,kalian apa kabar?”


“Baik kakak sendiri gimana?”


Mama melihat ke arah kamar dan langsung menutup kamar,raut wajah mereka berubah dan Regina tetap senyum.


“Tadi siapa yang ke kamar? Kok raut wajah kalian berubah? Ada apa?”


“Itu mama kak.”


“Oh mama,apa kabar?”


“Baik,kakak mau bicara sama mama.”


Terdengar suara teriak dari luar yang mengatakan “Enggak,mama mau tidur dia udah bukan anak mama lagi.” membuat Regina sedih mendengarnya.


“Iyaudah enggak apa-apa,kalian sendiri belum ngantuk?”


“Kak,yang kuat ya kita selalu sayang kakak kok,kakak jangan pernah patah semangat ya ka,kalau kakak kangen kita,kita pasti ada kok untuk kakak.”


“Makasih ya kalau gitu,bye.”

__ADS_1


“Bye ka.”


Regina mematikan teleponya dan menanggis,Heri yang selesai mandi langsung teriak.


“Re,kamar mandinya udah gua pakai,pakai aja ya.”


Regina langsung mengusap air matanya,agar Heri tidak nanya atau khawatir akan dirinya.


Heri bingung apa yang terjadi pada Regina,apa yang Regina tutupin padanya,sampai sebegitunya.


.


.


“Re.”


“Iya Her,ada apa?”


“Sini duduk,mau bicara.”


Regina bingung ada apa dan kenapa tiba-tiba Heri langsung serius,enggak pernah-pernahnya dirinya serius.


“Mau bicara apa Her?” kata Regina dengan suara lembut nan takut.


“Lu kenapa? Tadi nangis? Ada yang lu sembunyiin ya dari gua?”


Regina sontak diam dan mengapa hal itu di bahas lagi,setelah diam Heri merasa kesal kenapa tidak dijawab,ternyata Regina balik menanggis.


“Re,ada apa?”


Heri langsung berlutut di depan Regina,Regina langsung membantu Heri duduk sambil mengusap air matanya yang tak berhenti bercucur dari mata indahnya.


“Tadi gua telepon adik-adik gua.”


“Terus.”


“Mama gua masih benci gua,karena gua tetap milih nikah sama lu,dan kata adik gua uang yang lu kasih ke gua,enggak pernah dipakai hanya dia pakai buat adik-adik gua aja.”


Saat Regina kembali ingin menjelaskan,tak bisa karena terlalu sedih untuk diceritakan,Heri yang mengerti langsung mendekap Regina dengan erat.


“Maaf ya Re,gua enggak tau kalau hal ini benar-benar buat lu sensitif banget,gua janji enggak akan ikut campur lagi.”


“Enggak kok,malah gua senang lu udah mau nanya makasih ya,lu udah peduli.”


“Gua selalu peduli sama lu,Re. Kapanpun lu butuh gua,gua akan jawab semuanya sebisa gua dan semampu gua.”


Regina kembali mendekap erat Heri,sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan Regina kembali menenagkan dirinya.


.


.


“Re? Udah baikan belum? Apa masih sedih?”


Regina tidak mau menjawab dan Heri mengerti kenapa Regina tidak mau menjawab,sampai akhirnya Heri pesan makanan yang jarang dia makan selama di rumah Heri.


“Ini apa Her.”


“Makanan.”

__ADS_1


“Iya tau,tapi enggak pernah kita makan ini,tumben banget,ada apa?”


Heri tersenyum saat Regina menanyai hal kenapa,Heri hari ini membeli makanan yang berbeda saat ingin menjelaskan,telepon Heri berdering dari mamanya.


__ADS_2