
"Halo sayang aku,Heri."
Saat Regina ingin mengecup Heri,Heri sontak menghindar dan membuat Regina bertanya-tanya.
"Sayang,kamu kenapa?"
"Enggak,aku lelah aja, maaf."
Regina menghampiri Heri sembari,pegang lengan Heri yang gagah dan penuh dengan otot.
"Sayang,kalau aku ada salah bicara dong jangan diam dan milih menghindar."
"Aku enggak apa-apa Re,bisa enggak sih kamu enggak maksa aku terus?"
Regina curiga apa Heri melihat dirinya bersama bos,sehingga Heri marah besar kepadanya.
"He-"
Handphone Regina berdering dari adik-adiknya,setelah itu Heri menghempaskan pintu kamarnya dengan kencang.
"Halo a-adik,ada apa?"
"Lagi rindu kakak,kakak lagi apa?"
"Duh dek,maaf banget kakak ada urusan bentar,boleh enggak kalau kakak telepon kamu nanti bentar aja ya,maaf ya."
"Baik ka."
Regina sontak mematikan telepon tersebut dan mengetuk pintu kamar Heri,Heri tidak perduli dengan apa yang di lakukan Regina.
"Sayang,udah dong jangan marah aku bingung kamu,kenapa? Udah makan belum?"
"Enggak usah nanya aku! Tanya aja bos kamu!"
Regina sontak tersenyum mengetahuin Heri cemburu,setelah tau Regina sengaja memasak makanan kesukaan Heri.
Heri bingung mengapa dirinya sudah tidak mendengar suara Regina lagi,setelah itu menghirup bau masakan kesukaan Heri. Heri keluar dari kamarnya.
"Akhirnya sayangnya aku,keluar juga dari kamarnya,duduk."
Heri memicingkan matanya kepada Regina,Regina hanya senyum dalam hati.
"Enggak usah senyum! Aku tau kamu senyum dalam hati."
Regina mengeleng kepala untuk meyakinkan Heri,bahwa dirinya tidak melakukan itu,selesai masak.
"Ini dia makanan kesukaan suami aku tercinta."
"Yah elah telor goreng doang,terus apa yang aku suka coba."
Regina tersenyum sembari mengeluarkan lauk yang lain,Heri sontak kaget melihat Regina yang banyak masak.
"Kamu gila ya! Ngapain coba masak banyak-banyak."
"Biar suami aku yang ganteng ini enggak marah dan tetap sayang,sama aku paham ganteng,sekarang ayo makan."
Heri hanya diam sembari melihat lauknya,Regina yang paham mengambil nasi dan lauk untuk Heri.
"Buset manja banget,jarang banget ini liat kamu manja kayak gini."
"Kan berawal dari kamu,aku manja siapa suruh selalu memberi aku kecemburuan."
Regina tertawa terbahak-bahak melihat sikap Heri,yang acuh tak acuh malah menjadi imut.
"Udah ah! Apaan sih enggak ada apa-apa juga,kenapa di cemburuin,enggak capek apa?"
"Yah capek,tapi kamu terus mengulang,aku capek kamu kalau liat aku,sama Ella juga marah kan."
"Jelas aku marahlah,kalau kamu enggak apa-apain,kalau aku sama bos cuman rekan kerja enggak ada maksud,apa-apa."
Heri hanya menganggukan kepala,seolah percaya dengan Regina.Regina sontak diam.
"Ini makan,aku suapin."
"Enggak,bisa makan sendiri."
__ADS_1
"Yakin? Suapin aku enak loh,wooyeng wooyeng wooyeng pesawat mau terbang ini."
Heri sontak menangkap makanan pesawat,yang membuat Regina tersenyum sembari merapikan sisa makanan,di mulut Heri.
"Pelan-pelan kali sayang,aku pasti suapinin kamu kok,tenang aja." Regina yang memberi senyuman manis kepada Heri.
Membuat Heri ingin mengecup bibirnya yang,sedang lengah tanpa ada perlawanan.
"Kok kamu enggak marah Re?"
"Buat apa aku marah sama suami aku sendiri,kurang kerjaan banget,enggak seharusnya,aku marah sama kamu sayang."
"Hmm i loveyou Re."
Regina yang mendengar itu,langsung menaruh sendok mendekap Heri dengan kuat.
"Sayang kamu juga."
"Masa?"
"Iya,enggak percayaan banget si,nyebelin tau enggak."
Regina tertawa melihat sikap Heri yang suka berubah,kepadanya dan sampai akhirnya selesai makan.
"Udah malam sayang tidur ayo."
"Re."
"Iya."
"Malam ini aku mau tidur di kamar kamu,boleh?"
Regina yang mendengar itu sontak,menganggukan kepalanya menandakan dirinya setuju akan perbuatan Heri.
.
.
"Pagi sayang."
Heri sembari merapikan rambut Regina yang berantakan,Regina sontak kaget melihat Heri mengingat kejadian semalam,membuatnya tersenyum.
"Hmm itu benaran kan? Bukan mimpi."
"Berarti kita harus tidur lagi ya."
"Hih! Apaan sih udah ah! Mau pergi kerja,bye."
Saat Regina ingin bergegas mandi di tahan oleh Heri,Regina diam dan tidak bisa melawan.
"Kenapa kamu enggak pernah mau,ngelawan aku."
"Aku mana mungkin ngelawan kamu,orang aku sayang banget sama kamu."
Regina pegang kedua wajah Heri dengan balutan,selimut di badan mungilnya di tahan oleh Heri.
"Sayang,bisa nikahin kamu aja senang banget,walau awalnya kontrak tapi,setelah menjadi kenyataan ternyata lebih indah,makasih ya."
Heri yang mendengar itu sontak mendekap Regina dengan erat,sembari mengecup pipi Regina.
"Makasih ya sayang,selalu ada di samping aku,di kala aku senang dan susah.”
“Gunanya istri seperti itu sayang.”
"Kayaknya cuman istri yang baik kamu doang deh,enggak tau sih kalau di luar sanah."
"Apaan sih."
Handphone Heri berdering dari Ella,Regina sontak merebut dan menjawab telepon dari Ella.
"Iya El,ada apa?"
"Kenapa sih,lu pegang handphone cowo gua terus! Bisa enggak sih,gua bicara sama dia,eneg banget dengar suara lu,itu!"
"Iya Heri kan suami gua! Mau ngapain bicara sama suami orang? Lu masih deman sama dia? Asal lu tau ya! Dia enggak pernah demen sama lu,jadi jangan kebanyakan ngarap,ngayal itu sakit gua kasih tau aja."
__ADS_1
Ella mematikan telepon tersebut,karena kesal dengan Regina begitu juga dengan Regina,yang kesal dengan Ella.
"Kenapa sayang,kok muka kamu kayak bete gitu."
"Iya gimana enggak bete gatel banget,sama suami orang."
Heri sontak mendekap Regina dengan erat,Regina yang melihat sikap suaminya luluh kembali.
"Sayang,kalau Ella ganggu kamu lagi,kasih tau aku ya."
"Iya sayang tenang aja."
.
.
"Pagi bos."
"Pagi Re,ada apa?"
Regina hanya mengeleng kepalanya dan pergi keruanganya,bos yang melihat itu sontak berpikir,mengapa ada wanita seimut Regina.
"Re,makan siang ayo."
"Baik pak."
Regina pergi bersama bos dan Regina terus fokus,kepada handphonenya,bos melihat itu.
"Re! Jangan main handphone terus dong,saya lagi bicara sama kamu."
"Hah? Bos bicara apa sama saya?"
Bos sontak pergi dari hadapan Regina,Regina menyusul dengan. Langkah cepat setelah sampai di mobil.
"Kamu mau makan apa?"
"Terserah bos aja,kalau ikutin selera saya nanti,bos enggak mau lagi."
"Enggak apa-apa selera kamu apa?"
Regina mengajak bos makan,di tempat sederhana yang duduknya lesehan,tanpa ada bangku.
"Kenapa? Bos enggak suka ya? Sudah kuduga,yalah mana mungkin bos suka makanan kayak gini."
"Sok tau saya suka kok,emang kamu udah pernah tanya makanan kesukaan saya apa."
Regina terdiam mendengar bos berkata seperti itu,setelah masuk dan duduk.
"Bos mau pesan apa?"
"Saya percayain ke kamu aja,saya enggak tau mau pesan makanan apa."
"Semua enak kok,asal habis aja bos."
Bos melihat ke arah Regina dan Regina tersenyum kepada bos,sembari bos menghelus kepala Regina.
"Udah kamu aja yang pesan,saya enggak masalah kok,kalau kamu yang pesan."
"Benar ya bos,kalau enggak enak jangan salahin saya ya."
Bos hanya menganggukan kepala,tersenyum dalam hati.
"Udah bos,di jamin nambah."
"Iyaudah,awas ya kalau enggak nambah,gaji kamu saya potong."
"Dih! Kok bos ngancamnya potong gaji sih? Gak seru deh."
Bos hanya tersenyum begitu juga,dengan Regina tak lama makanan mereka datang.
Bos hanya diam setelah makanan sampai,akhirnya Regina mengambil nasi untuk bos dan suapin bos.
"Ini bos,kalau di suapin lebih enak rasanya."
"Bohong kamu."
__ADS_1
"Iya makanya bos coba dulu,ini saya kasih,aa makanya."
Bos akhirnya mendengarkan Regina,dibanding nanti Regina marah saat makan,muka bos berubah dari yang belum makan dan sesudah makan.