
“Sayang,I love you.”
“I love you too sayang.”
Akhirnya bos pergi dari hadapan Regina,setelah pergi akhirnya mereka hanya diam dan setelah diam,Regina bingung mau ngapain.
“Kalau bos udah pergi kayak gini,kadang bingung mau ngapain lagi,seraya serba salah aja.”
Ada nomor yang tidak di kenal,telepon Regina.Regina tidak mau menjawab takutnya itu dari Heri kembali.
“Ayo dong Re,angkat Re. Kenapa sih susah banget angkat telepon doang.”
Ella yang menghampiri Heri,sontak Heri menjauh dari Ella,kedua orangtua Ella tidak terima,Heri memperlakukan anaknya demikian.
“Udah ma,enggak apa-apa aku ngerti kok,kenapa dia gitu.”
“Sayang,kok bisa sih kamu betah sama sifat cowo yang kamu suka,kamu sadar enggak sih sayang.”
“Sadar ma,cuman aku enggak bisa berbuat apa-apa,kalau dia mau kayak gitu,aku bisa apa ma?”
Mama hanya mengeleng kepala saja,sedangkan papanya juga menghela nafas,kedua orangtua Heri menahan Heri.
“Her! Kamu mau kemana!”
“Mau pergi ma! Kenapa ma?!”
“Kamu jangan lebih galak daripada mama ya,mama ini serius nanya kenapa kamu jawabnya kayak gitu hah!”
Heri melihat ke arah orangtuanya,sembari duduk di sofa bersama orangtuanya,mama melihat ke arah Heri.
“Kamu segera menikah dengan Ella!”
“Enggak ma,aku udah ada istri dan aku enggak butuh menikah dengan wanita yang enggak pernah hargain aku sama sekali.”
“Kamu bicara apa sih?! kamu sama dia udah cerai dan dia juga enggak mau balik sama kamu,lalu apa yang kamu harapkan sayang,Ella selalu setia sama kamu,apa enggak bisa kamu buka hati untuk dia.”
Heri mikir lagi,apakah benar hubunganya bersama istri tercintanya sudah selesai sampai sini,tapi mengapa sedangkan dirinya,tidak mau selesai ini hanya selesai secara sepihak bukan,persetujuan dari dirinya juga.
“Udah,kamu enggak usah banyak mikir,Ella yang paling setia ngejaga kamu,tungguin kamu masa kamu masih enggak bisa punya hati sama dia,sedangkan orang yang kamu cintain aja enggak pernah ada buat kamu?!”
“Dia enggak ada! Karena mama yang suruh dia menjauh dari aku,dia sebenarnya masih sayang sama aku,aku tau kok aku bisa liat dari mata dia,dia enggak pernah kasih liat mata itu ke oranglain,selain aku ma.”
Mama hanya tersenyum mengampangkan,perasaan anaknya kepada wanita yang tidak seberapa seperti Regina.
“Kasihan kamu sayang,otak kamu sudah di cuci oleh wanita itu! Harusnya kamu sadar yang mana yang berharga,mana enggak kalau kamu selalu menutup mata,mama juga enggak bisa berkata apa-apa sama kamu sayang.”
Mama hanya diam dan pergi dari hadpan Heri,papa Heri pergi sontak kerja untuk mencari nafkah.
“Kenapa sih ma,mama enggak pernah nanya perasaan Heri,yang mama pentingin itu diri mama aja,tapi mama enggak pernah mau tau apa yang Heri lakukan.”gumam Heri sembari duduk di sofa.
__ADS_1
Ella yang melihat itu sontak,mendekap Heri dengan erat. Heri yang melihat itu diam aja dan tidak mengelak.
“Kali ini,gua kasih lu untuk peluk gua,enggak ada lain kali,karena gua enggak mau lu berharap sama gua terus,lu itu cantik kenapa lu harus nikah sama pria duda kayak gua?”
“Emang kalau lu duda kenapa? Gua enggak boleh nikah sama duda?”
Heri yang mendengar perkataan Ella,membuatnya tidak habis pikir dan merasa aneh dengan perkataan Ella.
“Lah? Keluarga lu enggak malu,menikahi gua yang duda?”
“Enggak perlu malulah,ngapain malu orang gua emang sayang lu,lunya aja yang bandel di kasih tau enggak mau dengar,kadang heran kenapa lu begitu hmm.”
Heri yang mendengar itu sedikit menenangkannya,dan memberinya ide untuk kembali bersama Regina.
“Makasih El,walau lu kadang nyebelin,tapi terkadang lu suka memberi gua ide-ide yang luar biasa,sekali lagi makasih ya.”
Ella bingung,dirinya bicara apa,sampai mendapat kecupan kening,dari Heri yang membuatnya dirinya sontak senyum semeringai.
“Heri,ngecup kening gua.”gumam Ella,sembari pegang kedua wajahnya untuk menahan malu.
Akhirnya Heri,mencoba telepon Regina,dengan nomor aslinya,tetapi Regina tidak menjawab dan mematikan teleponnya,sembari membuka handphone satu lagi.
“Sayang.”
“Eh tumben,kamu pakai handphone yang dari aku kasih,ada apa sayang?”
“Kamu mau aku pulang kerumah sayang?”
Regina hanya senyum,sembari menahan rasa cemasnya dan juga menahan sedih di hati,walau sebenarnya dirinya ingin banget bos pulang.
“Enggak usah enggak apa-apa,kamu di kantor aja aku ngerti kok,kalau kamu sibuk lagian kan,nanti kamu juga pulang,buat apa juga kalau aku enggak bisa apa-apa tanpa kamu.”
“Oh,ok sayang kalau gitu nanti aku usahain pulang cepat ya.”
“Iya sayang.”
Akhirnya telepon mereka berhenti di situ aja,setelah selesai telepon akhirnya merkea hanya diam,gak lama bibik keluar dari kamarnya.
“Ibu.”
“Iya bik,ada apa?”
“Ibu,mau makan apa atau minum apa,nanti saya siapin ibu.”
“Enggak usah bik,enggak apa-apa saya mau tunggu bapak aja.”
Bibik hanya senyum dan tidak bisa menjawab apa-apa,akhirnya malam hari pun tiba,bos pulang dan setelah pulang akhirnya bos mendekap Regina,dengan erat.
“Kenapa sayang? Kok tiba-tiba dekap aku erat banget?”
__ADS_1
“Enggak,kangen aja kok emang kenapa sayang?”
“Hah? Kangen,padahal aku dirumah aja,emang kamu kepikiran apa,soal aku sayang.”
Bos melihat ke arah muka Regina,Regina hanya diam sembari tersenyum,dengan muka yang penuh tanda tanya.
“Enggak,lupain aja aku mau bersih-bersih dulu.”
Akhirnya bos pergi dari hadapan Regina,Regina bingung ada apa dengan bos,sesuatu hal apa yang mengusik bos,hingga bos berubah seperti itu.
.
.
“Sayang,ini makananya udah jadi ayo makan.”
Handphone bos berdering,dari Ella dan Regina bingung mengapa Ella telepon bos,apa mereka saling kenal.
“Ha-”
“Sayang,biar aku aja yang jawab,maaf ya.”
Regina hanya tersenyum,sembari bos jauh dengan Regina. Bos menghela nafas kepada Ella.
“Bisa enggak sih telepon pas gua enggak dirumah,,nanti Regina curiga.”
“Hmm,takut banget sih lu sama dia,sama lu kayak Heri.”
“Diam!Mau bicara apa lu!”
“Lu gimana sama dia?”
Bos merasa perkataanya aneh dan mengakhiri telepon,serta mematikan handphone dan balik ke meja makan.
“Sayang,itu Ella mana?”
“Ella rekan kantor aku sayang,dia investor terbesar di perusahaan.”
“Oh,aku baru tau ada nama itu di kantor.”
“Iya,dia baru makanya kamu enggak pernah ketemu.”
Bos hanya senyum terkekeh dan Regina,terkesan tidak peduli setelah selesai sipain makanan,akhirnya mereka makan dengan lahap.
“Enak enggak sayang makananya?”
“Enak kok,mau nambah malah.”
Regina dengan senang hati menambahkan,makanan di piring bos setelah itu,Heri kembali telepon ke handphone Regina.
__ADS_1