
"Sekarang,kamu udah percaya belum,kalau saya sayang sama kamu."
Regina sontak menjauh,dan menutup bibirnya dari hadapan bos.
Regina masuk keruangan yang entah,ruangan siapa bos merasa dirinya,sudah keterlaluan kepada Regina.
"Re,saya minta maaf ya,kamu marah ya sama saya."
"Saya enggak marah hanya."
"Hanya apa."
Regina kembali diam dan tidak ingin bicara terlalu banyak,takut salah mengambil langkah.
"Maafin saya ya Re,tapi perasaan saya ke kamu tulus dari hati saya dan saya juga sayang kamu."
Regina yang mendengar bos,berkata seperti ini seraya ingin membuka diri kepada bos,namun bagaimana dengan Heri.
"Iyaudah kalau kamu enggak mau bicara sama saya,saya ke kantor ya."
Bos pergi dari pintu depan,Regina melihat dari jendela dan bos benaran pergi.
"Hmm gua enggak tau diri enggak sih! Udah di tolong enggak terimakasih."
Sampai di kantor bos terus memikirkan Regina,begitu juga dengan Heri berpikiran soal Regina.
"Sayang,kamu kemana? Aku salah sayang,maaf." Gumam Heri berharap Regina,pulang.
Regina yang masih luntang lantung,tidak tau arah mau kemana akhirnya,menetap sementara di rumah bos.
"Bos masih lama kali ya pulangnya."
Sore datang menutupi kabut malam,malam hari bos mencoba mengetuk pintu yang ada Regina.
"Re."
"Iya bos."
Regina sontak pergi ke arah pintu,sembari membuka pintu untuk bos.
"Iya bos."
"Mau makan?"
Regina menganggukan kepalanya,kadang bos berpikir ini seperti mimpi.
Wanita yang dikaguminya ada dirumah,dengan memakai busana yang biasa ia pakai.
"Bos udah pulang? Maaf ya bos saya pakai baju bos,soalnya baju saya belum saya bereskan."
Bos hanya menanggukan kepala. Kepada Regina,Regina menyiapkan makanan dan duduk di depan bos.
"Bos,saya udah masak,tapi saya enggak tau cocok sama lidah bos,apa enggak."
"Hmm cocok kok,asal enak pasti saya makan,apalagi masakan kamu."
"Bos emang tau? Makanan saya enak atau tidak?"
"Kalau saya liat dari muka kamu,kayaknya kamu pintar masak deh."
Regina tersenyum tersipu malu,sembari memukul lengan bos.
"Duh,tenaga kamu kuat juga ya Re."
"Eh maaf pak,saya enggak sengaja."
Bos mencoba makan,masakan Regina. Regina yang menunggu bos menilai makananya hanya diam saja.
"Gimana bos? Enak enggak? Saya takut enggak cocok di lidah bos."
"Kamu tau darimana? Enggak cocok di lidah saya?"
"Setau saya,bos enggak suka makanan rempah kan?"
"Saya suka,tapi saya enggak bisa masaknya begitu Regina cantik."
__ADS_1
Regina yang mendengar dirinya di bilang cantik pada bos,hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa.
"Bos,besok mau makan apa?"
Bos sontak keselek karena di tanya seperti itu kepada Regina. Regina bingung apa dia salah bicara,sampai bos keselek seperti itu.
"Bos,kenapa? Saya salah bicara ya,maaf ya bos."
"Re."
"Iya bos."
Sembari bos minum air putih,untuk menghilangkan rasa keseleknya.
"Kamu,mau tinggal di sini sampai kapan?"
"Kenapa bos? Enggak boleh ya."
"Bukan enggak boleh,saya cuman enggak mau,kamu enggak nyaman sama saya,tapi kalau kamu merasa nyaman saya tidak apa-apa."
Regina yang mendengar itu sontak bahagia dan spontan mendekap bos dengan erat. Bos melihat ke arah Regina.
"Bos,makasih ya. Bos baik banget."
"Kamu itu sebenarnya kenapa sih? Bingung saya?"
"Iya biasalah bos anak dan orangtua."
Bos hanya diam dan mengangap dirinya sudah tau tidak ingin bertanya lebih banyak lagi,takutnya Regina merasa tidak nyaman terlalu banyak di tanya nantinya.
"Iyaudah anggap aja rumah saya,seperti rumah kamu pribadi ya."
"Baik bos."
Bos selesai makan dan sontak pergi dari hadapan Regina,sampai di ruangannya bos kembali bekerja.
Bos tersenyum seraya dirinya sudah menikah dengan Regina,walau sebenarnya dirinya juga belum menyatakan akan menikahi Regina.
.
.
Bos yang melihat paginya ada Regina,spontan menampar pipinya,Regina sontak pegang kedua wajah bos.
"Bos kenapa? Kok tampar diri sendiri,emang enggak sakit bos?"
"Sakit sih."
"Terus kenapa di tampar bos?"
"Enggak apa-apa saya lagi mikir aja,ini benaran kamu apa. Bukan."
Regina tersenyum dengan semeringai,sembari mengambil kedua tangan bos dan meletakan di wajahnya.
"Nah sekarang kamu percaya enggak kalau kamu,lagi bersama saya?"
"Iya percaya kok Re,tapi kamu enggak takut sama saya?"
"Kenapa saya harus takut sama bos? Kan bos,orang baik."
"Walau bagaimanapun saya ini laki-laki Re,jadi jangan anggap enteng diri saya."
Regina tersenyum,sembari jalan ke arah dapur,sedangkan bos melihat Regina sampai kepalanya gabisa mutar,sedangkan Heri terus-terusan mengunci diri di kamarnya.
"Sayang,kamu kenapa sih? Ayo makan,mama khawatir loh nak,sama kamu."
Ella datang dengan tidak malu,menghampiri Heri,Heri menghempas genggaman Ella dengan kuat.
"Duh sayang,kenapa sih? Kamu kasar banget sama aku? Emang aku ada salah apa sama kamu,sampai kamu begitu sama aku,kalau aku ada salah bicara sayang jangan diam aja."
Heri hanya diam tidak ingin bicara dengan siapapun,selain Regina sedangkan Regina selesai masak,bos yang melihat itu sontak mengeleng kepalanya.
"Regina itu emang cantik banget kali ya,parah banget kenapa baru sadar dia secantik ini ya." Gumam bos tentang Regina.
Regina bingung apa yang dilamunin bos tentangnya mengapa,bos hanya diam dan tidak berbicara apapun kepada Regina.
__ADS_1
"Bos,ini makananya udah jadi silahkan di makan bos."
"Baik."
Bos memakan makanan kedua kali dari Regina,Regina hanya diam dan melihat ke arah bos dengan pandangan penasaran.
"Gimana bos? Enak enggak ada kurang apa enggak?"
Bos tersenyum,sembari menghelus kepala Regina,Regina yang melihat itu sontak mengenggam tangan bos.
"Bos,rasanya gimana?"
"Enak sayang,emang mau aku bicara apa?"
"Hmm baguslah,aku jadi senang kalau enak."
Bos tetap lanjut makan,sembari handphonenya berdering dari kantor dan ada rapat juga,selesai teleponan lanjut makan dan kaget.
"Loh Re,kamu ngapain?"
"Hmm taro bekal makanan,apa aku kerja aja ya bos."
"Ayo,saya tungguin."
Regina tersenyum dengan semeringai,sembari bersiap-siap,setelah siap-siap akhirnya,mereka pergi ke kantor.
"Bos."
"Iya sayang."
Regina yang di panggil sayang,bukannya marah malah bahagia.
"Hmm kita benaran ke kantor."
"Iyalah kamu mau kemana? Saya juga udah ditunggu sama klien,enggak enak."
"Hm. Baiklah bos."
Akhirnya mereka pergi sampai di kantor,setelah di kantor mereka kembali keruangan masing-masing.
Orang-orang melihat ke arah mereka seperti mengosipkan mereka,mereka hanya diam dan sudah biasa.
"Re,makan siang ayo."
"Iya bos."
Saat makan siang,Regina terlihat gelisah walau,dirinya tidak bicara apa-apa kepada bos.
"Sayang,kamu kenapa?"
"Enggak,emang aku kenapa?"
"Kayak ada yang kamu pikirin tapi kamu,enggak mau bagi sama aku,kalau emang gamau bagi enggak apa-apa kok."
Regina hanya tersenyum sembari lanjut makan,selesai makan mereka berpisah keruangan masing-masing.
"Regina itu ya! Enggak tau malu ya! Suka sama cowo aja sama bos dasar wanita gampang disukain,haha." Mulut orang kantor yang membuat Regina tidak nyaman.
Regina masuk keruangan nya dan menanggis,setelah semua pulang. Ada yang mengetuk pintu ruangan Regina.
Regina membuka pintu dan ternyata bos,bos sontak masuk keruangan Regina mendekap Regina dengan erat.
"Sayang,kamu kenapa? Kok nangis ada yang ganggu kamu? Siapa yang ganggu kamu kasih tau saya."
"Hmm orang kantor."
"Tunjuk orangnya,biar aku pecat dia."
Regina tertawa sembari melihat orang yang sepi dan kosong tidak ada oranglain.
"Mana ada orang sayang,kamu mah ada-ada aja."
Bos yang mendengar dirinya di panggil sayang oleh Regina,membuat dirinya sontak bahagia.
"Sayang kita pulang aja ayo kerumah kita." Regina sudah tidak tahan kalau harus,berlama-lama di kantor.
__ADS_1
Bos sontak mendengar. Perkataan Regina dan jalan ke arah rumah di perjalanan,ada yang menjual nasi goreng dan mereka berhenti sebentar.