
Masih berada di rumah Bulan, Bintang terlihat mengatakan bahwa dia akan segera mengenalkan Bulan secara langsung kepada Bapak dan Ibunya. Bagi Bintang saat ini, bertindak lebih cepat adalah lebih baik. Lagipula, dia memang ingin serius dengan Bulan. Segera mengikat gadis itu dalam ikatan suci pernikahan.
Saat Bintang tengah mengeluarkan handphonenya dan melihat jam yang tertera di sana, Bintang ingin segera berpamitan dan kembali ke rumahnya. Akan tetapi, saat dia baru saja memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya, listrik pun padam, dan rumah yang semula terang benderang dengan lampu, kini begitu gelap karena semua lampu padam.
Terdengar dengkusan dari Bulan, bagaimana gadis itu mendengkus karena listrik padam justru saat dia hanya di rumah sendiri, "yahh ... malahan mati lampu."
Dengan segera, Bintang mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menyalakan senter dari handphone. Seberkas cahaya setidaknya membuat suasana ruang tamu, tidak begitu gelap.
Hingga Bulan nampak mengulurkan tangannya, "boleh aku pinjam handphone kamu sebentar untuk mencari lilin, Bin?"
Dengan cepat Bintang menganggukkan kepalanya dan menyerahkan handphonenya ke tangan Bulan. Pria itu lantas mengeluarkan suaranya, "mau aku temenin ambil lilinnya?" Tawarnya kepada Bulan.
Bulan pun menggelengkan kepalanya, "tidak aku bisa sendiri, Bin ... kamu tunggu saja di sini." ucapnya. Lantas dengan bermodalkan senter dari handphone milik Bintang yang saat ini dia pegang, Bulan lantas berdiri, gadis itu menuju salah satu sudut ruangan demi mengambil sebuah lilin dan juga korek api. Hingga perlahan lilin itu dapat dia nyalakan, membiarkan cahaya dari lilin itu menyebar ke sekitarnya.
Kembali ke ruang tamu, Bulan lantas menaruh sebuah lilin di atas meja dan menyerahkan handphone milik Bintang itu, "ini handphone kamu, makasih ya ... dengan begini setidaknya tidak begitu gelap." Gadis itu berbicara sambil tersenyum.
Hanya saja di hadapan Bintang saat ini, gadis itu justru memancarkan kecantikan yang jauh lebih indah daripada cahaya lilin yang menyala itu. Sedikit berdehem, Bintang lantas membuka suaranya, "kamu mau duduk di situ Bulan? Duduklah di sini, apa kamu tidak takut?"
__ADS_1
Bulan hanya tersenyum, kemudian dia pun mengambil duduk di sebelah Bintang. Gadis itu terkekeh dalam tawanya, "aku tidak sepenakut itu, Bin ...," ucapnya yang menegaskan bahwa memang dirinya tidak penakut.
Mendengar ucapan Bulan, justru Bintang tersenyum, "aku tahu, kamu adalah gadis yang pemberani. Hanya saja ..."
Perkataan pria itu tidak berlanjut, seolah melayang begitu saja di udara. Sementara Bulan yang kini sudah duduk di samping Bintang, mempertanyakan apa lanjutan dari ucapan Bintang, "Hanya saja apa?"
"Hanya saja ... aku ingin segera menikahi kamu, Bulan. Bagaimana kalau bulan depan kita menikah?" Tanya pria itu dengan tiba-tiba.
"Ya ampun Bin, belum dua jam kita jadian dan kamu sudah bahas pernikahan. Kenalan sama Bapak dan Ibu kamu aja belum loh." sahut Bulan dengan cepat. Memang terkadang cinta itu lucu, baru beberapa saat mereka menerima perasaan satu sama lain, tetapi kita seolah Bintang ingin segera menikahi Bulan.
Bulan pun tersenyum, "terserah kamu saja, Bin ... yang penting jangan menggantung aku. Aku sudah tahu rasanya digantung, sekarang aku enggak mau lagi. Sudah cukup," ucapnya dengan tersenyum getir.
Ya, bayang-bayang masa lalu, di mana dia harus menunggu dalam ketidakpastian. Hubungan jarak jauh antara Jogjakarta dan Makassar. Masih teringat dengan jelas, bagaimana semua itu berakhir dengan satu luka.
Bintang pun tersenyum, "tidak... aku tidak akan menggantung kamu. Aku akan sungguh-sungguh dengan ucapanku. Tidak lama lagi, aku akan mengajak orang tuaku kemari dan melamar kamu secara resmi."
Mendengar keseriusan Bintang, Bulan pun lantas menganggukkan kepalanya, "iya Bin ... buktikan saja semua. Ada kalanya wanita memang membutuhkan kata-kata, tetapi aku membutuhkan sebuah kepastian. Aku pernah memiliki kenangan yang tidak menguntungkan saat lebih mempercayai sebuah janji. Jadi, mungkin aku akan lebih berhati-hati."
__ADS_1
Sudah tentu Bintang tahu dengan pasti apa yang Bulan pikirkan dan rasakan saat ini, pria itu lantas mengikis posisi duduknya dan menatap wajah Bulan dengan satu tangan yang membelai sisi wajah Bulan. "Percayai pria ini, Bulan ... aku sungguh-sungguh akan membuktikannya." ucapnya dan kemudian Bintang bergerak, memangkas jarak wajahnya dengan wajah Bulan.
Perlahan, pria itu melabuhkan bibirnya di kening Bulan. Turun ke dua mata Bulan, turun ke hidung, dan mengecup dengan lembut bibir Bulan. Lantas, Bintang mengurai kecupannya dan memeluk Bulan dengan begitu eratnya, "aku cinta kamu Bulan." sebuah pengakuan yang lagi-lagi dia ucapkan untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Bulan.
"Kamu enggak cinta aku?" Tanya Bintang kepada Bulan. Sebab, hingga kini seolah dia belum mendengar bagaimana perasaan Bulan kali ini kepadanya.
Bulan mengurai pelukan Bintang saat itu, gadis itu kemudian memberanikan dirinya dan mengecup pipi Bintang.
Cup.
satu kecupan yang mendarat dengan sempurna.
Bintang lantas tersenyum dan memegangi pipinya, tidak mengira bahwa Bulan akan berani untuk menciumnya, walaupun hanya sebuah ciuman di pipi. Namun, ciuman itu berefek luar biasa bagi Bintang.
Hingga Bulan kemudian mulai membuka suaranya, "aku juga mencintaimu, Bin... dan akan selalu belajar mencintaimu."
Lega sudah rasanya bisa mengungkapkan rasa cinta dalam hatinya, hingga perlahan Bulan kembali melabuhkan dirinya dalam pelukan Bintang. Membiarkan cahaya dari lilin di depannya menerangi mereka berdua, mereka saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1