Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Puasa Pertama


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kini semua umat Muslim di dunia untuk pertama kalinya menyambut Bulan Ramadhan dalam situasi pandemi. Ada yang beda saat Bulan Ramadhan ini, pemerintah telah mencanangkan bahwa ibadah puasa sebaiknya dilakukan di dalam rumah.


Bukan hanya suasana pandemi yang terjadi di bulan yang penuh berkah ini. Bulan dan Surya masih bersitegang satu sama lain menjalani masa jeda yang ternyata urung berakhir.


Menyambut hari puasa pertama, Bulan dan Bu Sundari tengah bergelut di dapur membuat berbagai menu masakan dan juga camilan. Saat itu Bu Sundari tengah mempersiapkan untuk membuat Kue Bolu.


Melihat Ibunya yang tengah membuat kue bolu, sontak saja Bulan justru teringat pada Bintang. Beberapa bulan yang lalu, Bulan pernah berjanji saat dia membuat Kue Bolu, dia akan menghubungi Bintang dan sekarang Ibunya tengah membuat Kue Bolu, sayangnya Bulan menepis pikirannya dan dia enggan untuk membagi Kue Bolu itu dengan Bintang.


"Kenapa kok malahan bengong? Ayo, Ibu dibantu." ucap Bu Sundari yang mengamati anaknya yang tengah bengong.


Sontak Bulan pun tersenyum dan mengerjapkan matanya. "Iya Bu ... lagian Bulan enggak bengong kok. Bulan kan memperhatikan caranya membuat Kue Bolu biar seenak buatan Ibu." jawabnya.


Bu Sundari pun tertawa. "Kamu kan sudah bisa membuatnya. Kue Bolu buatanmu dulu kan juga enak. Oh iya ... nanti tolong hantarkan satu Kue Bolu ini untuk Bintang ya. Ibu mau berterima kasih kepada Bintang karena saat kamu positif covid, Bintang yang sudah menolong kamu, melakukan banyak hal buat kamu. Kue Bolu ini pun tidak bisa membalas kebaikan Bintang." ucap Sang Ibu.


Mendengar apa yang menjadi keinginan Ibunya, sebenarnya Bulan ingin menolak. Hatinya masih belum berani untuk bertemu muka dengan muka, tetapi karena Ibunya yang meminta maka Bulan pun menganggukkan kepalanya.


"Ya Bu ... nanti biar Bulan antarkan ke rumah Bintang." ucapnya mengiyakan apa yang menjadi keinginan Ibunya.


Menjelang sore Kue Bolu yang dibuat Bulan dan Bu Sundari pun sudah siap. Bu Sundari lantas mengemasnya dan memasukkan dalam sebuah kardus roti dan meminta Bulan untuk mengantarkannya kepada Bintang.


Dengan setengah hati, Bulan menerima Kue Bolu itu. Gadis itu bergegas keluar dari rumahnya dengan menaiki sepeda motor maticnya dan menuju rumah Bintang.


Begitu telah tiba di rumah Bintang, tiba-tiba saja Bulan merasa begitu gugup. Gadis itu turun dari sepeda motor dengan menghirupi oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskan perlahan melalui mulutnya. Berharap teknik relaksasi yang dia lakukan mampu menenangkannya.


Sudah pasti, Bulan begitu gugup karena ini adalah kali pertamanya mendatangi rumah Bintang. Dengan segera, Bulan menekan bel rumah yang berada di pinggir pintu gerbang itu dan berniat menyerahkan Kue Bolu dari Ibunya, lantas berlalu pergi.


Begitu dia berhasil membunyikan bel rumah, seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah.


Mungkin saja, beliau adalah Ibunya ya ... kenapa aku begitu gugup sekali.


Rupanya tebakan dan firasat yang dimiliki Bulan benar adanya. Wanita paruh baya yang membuka pintu adalah Ibunya Bintang, Bu Rina.

__ADS_1


"Sugeng sonten (selamat sore dalam Bahasa Jawa) Bu. Saya Bulan, temannya Bintang. Apa Bintangnya ada?" sapa Bulan kepada Ibunya Bintang tersebut.


Nampak kaget, Bu Rina pun tersenyum karena ini untuk pertama kalinya seorang gadis dan berparas ayu datang ke rumahnya. Gadis ayu yang mencari Bintang.


"Masuk Mbak ... silakan masuk dulu, sebentar saya panggilkan Bintangnya."


Dengan gugup, Bulan pun memasuki rumah Bintang dan kemudian duduk di ruang tamu.


Tidak berselang lama, Bintang turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Pria itu cukup terkejut saat mendapati Bulan berada di rumahnya.


"Hei Bulan ... apa kabar?" tanya Bintang kepada Bulan.


Rupanya di belakang Bintang, Ibunya masih mengekori dan penasaran dengan sosok gadis berparas ayu tersebut.


"Ini mbak siapa ya namanya? Cantik begini. Masyaallah." ucap Bu Rina sembari menggelengkan kepala menatap wajah ayu dan kulit putih bersih yang dimiliki Bulan.


Bulan pun menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Saya Bulan, Bu ... dulu saya teman SMA nya Bintang." ucapnya memperkenalkan diri sebagai teman SMA nya Bintang.


"Ya sudah Mbak ... silakan ya. Ibu ke dalam dulu." Bu Rina pun masuk ke dalam, sehingga tinggallah Bulan dan Bintang yang duduk di ruang tamu itu.


Merasa masih canggung dan gugup, Bintang pun menatap Bulan sejenak kemudian memulai berbicara.


"Tumben banget kamu ke sini Bulan ... sebenarnya kalau butuh sesuatu, bilang saja biar aku yang ke sana." ucapnya.


"Ini aku cuma sebentar saja kok Bin ... ini aku disuruh Ibu untuk memberikan Kue Bolu ini buat kamu." ucap Bulan sembari menunduk.


Mendengar Kue Bolu, Bintang pun lantas tersenyum. Ternyata Bulan masih ingat dengan janjinya dulu bahwa saat dia membuat Kue Bolu, dia akan memberikannya kepada Bintang.


Pria itu tersenyum penuh makna. Hantaran Kue Bolu terasa sangat membahagiakan untuk Bintang.


"Kamu yang bikin atau Ibu yang bikin?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku dan Ibu tadi yang bikin." ucapnya.


Bintang nampak menganggukkan kepalanya perlahan. "Makasih ya, sudah mengingatku." ucapnya berterima kasih.


Bulan pun juga menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Sama-sama. Ya sudah, aku pamit ya Bin...." ucap Bulan yang sudah menegakkan punggungnya dan bersiap untuk berdiri.


Akan tetapi, sebelum Bulan berdiri rupanya Ibunya Bintang datang dari arah dapur dengan membawa dua gelas Teh Hangat. Bagi masyarakat Jawa, Teh Hangat sudah menjadi minuman yang disuguhkan untuk para tamu. Jadi sangat wajar apabila, tuan rumah menyajikan Teh Hangat kepada tamunya.


"Diminum dulu Mbak ... gak usah terburu-buru." ucap Bu Rina sembari menaruh gelas berisi Teh Hangat di hadapan Bulan.


"Jangan repot-repot, Bu ... ini saya mau pulang." sahut Bulan dengan cepat.


"Enggak repot. Cuma segelas Teh, ayo diminum dulu." lagi ucap Bu Rina yang meminta Bulan untuk minum dahulu.


Bintang pun menatap Bulan sembari tersenyum. "Ayo, diminum dulu Bulan ... kalau belum habis, enggak boleh pulang."


Semakin tertarik dengan Bulan, Bu Rina turut duduk di sebelah Bintang guna memandang gadis berparas ayu tersebut. "Rumahnya di mana Mbak? Jauh enggak?"


Bulan pun menggelengkan kepala. "Tidak terlalu jauh Bu ... hanya sepuluh menit dari sini." jawabnya.


"Yuh, Mbak ini ayu banget. Mau enggak Ibu jadikan menantu?" tentunya Bu Rina hanya sebatas bercanda, tetapi Bulan dan Bintang nampak sama-sama menundukkan kepala.


Bintang pun berdehem. "Jangan begitu Bu, nanti Bulannya malu." ucapnya memperingatkan Ibunya.


"Ya sudah, silakan lanjut ya. Diminum sampai habis ya Mbak...." Bu Rina kembali berbicara kemudian masuk kembali ke dalam rumah.


"Maafkan Ibu ya Bulan ... cuma bercanda." Bintang berbicara karena dia merasa tidak enak dengan Bulan.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... gak apa-apa. Ya sudah, aku pamit pulang ya Bintang. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga lancar sama Idul Fitri." ucap gadis itu yang kini telah berdiri.


"Iya ... kamu juga. Selamat menunaikan ibadah puasa."

__ADS_1


__ADS_2