
Beberapa hari melakukan isolasi mandiri, kesehatan Bulan berangsur pulih. Dia benar-benar merasakan menjadi seorang pejuang negatif. Makan bergizi, berjemur, olahraga, hingga meminum vitamin yang membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Usaha yang disertai dengan doa membuat Bulan perlahan memetik hasil bahwa kesehatannya kian pulih. Anosmia yang dia alami beberapa hari yang lalu juga berangsur pulih.
Jangan lupakan sosok Bintang yang nyaris setiap hari datang membelikan berbagai makanan, buah, dan susu dalam kemasan kaleng buat Bulan. Bintang menjadi sosok yang berpengaruh terhadap kesembuhan Bulan.
Setidaknya dalam sehari ada orang yang menemuinya sekalipun hanya memandang dari jauh dan menyapa via suara. Bulan merasa terhibur dengan perhatian yang Bintang berikan. Hatinya menghangat setiap kali pria itu datang dan menyapanya dari jauh.
Sama seperti hari ini, Bintang berdiri di depan pintu gerbang rumah Bulan dan memasang earphone di telinganya.
"Sudah sepuluh hari berlalu Bulan. Bagaimana apa kamu jauh lebih sehat?" tanya Bintang dengan menatap wajah Bulan yang begitu jauh, lantaran Bulan berada di balkon kamarnya.
Bulan menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum. "Iya ... aku merasa lebih baik, lebih sehat. Anosmia yang aku alami juga berangsur pulih. Terima kasih sudah memberikan essential oils yang bisa mengembalikan indera penciumanku, Bin ... aku berhutang banyak padamu untuk kebaikanmu selama aku sakit."
"Jangan menganggap berhutang, sesama teman harus saling tolong menolong bukan? Sekarang kamu fokus sembuh ya. Semangat pejuang negatif!" ucapnya sembari mengepalkan tangan hingga kepalan tangan tanda semangat itu terlihat oleh Bulan.
Dari jauh gadis itu pun tersenyum. "Benar. Aku menjadi pejuang negatif, Bin. Aku tak menyangka akan berada di fase ini. Sebagai terima kasihku, saat aku sembuh kamu pengen apa Bin? Aku akan memberikannya untukmu." kali ini Bulan berkata sungguh-sungguh. Bintang selalu menolongnya dan dia ingin membalas kebaikan hati Bintang.
"Kamu sembuh aja dulu, Bulan. Kesembuhanmu itu nomor satu. Aku bersyukur kalau kamu sudah sembuh." ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.
Nampak Bulan menganggukkan kepalanya. "Makasih Bin ... kamu baik banget. Kebaikanmu yang bikin aku semangat untuk sembuh."
Bintang pun tertawa. "Aku tidak seperti itu, Bulan. Aku hanya berusaha menjadi manusia yang berguna untuk sesamaku. Saat aku menjadi orang yang berguna untuk sesamaku, aku merasa bahagia." jawabnya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Baru saja Bulan ingin kembali menjawab ucapan Bintang, terdapat lagi panggilan masuk dari Surya. Maka dari itu, Bulan pun mengatakan kepada Bintang jika Surya baru menelponnya. "Bin, maaf ... ini Surya menelponku. Bolehkah aku mematikan telepon darimu terlebih dulu?" tanya Bulan melalui panggilan telepon itu.
Dari jauh Bintang nampak menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu angkat saja telepon dari Surya. Sekaligus aku pamit ya Bulan. Jika butuh apa-apa jangan sungkan menghubungiku. Cepat sembuh ya. Semangat pejuang negatif!!" ucap pria itu sembari melambaikan tangannya kepada Bulan.
Bulan turut melambaikan tangannya. "Makasih banyak ya Bintang...." ucapnya dengan tersenyum menatap Bintang yang masih berdiri di pintu gerbang rumahnya.
Setelah Bintang pergi, Bulan lantas menghubungi Surya.
"Halo Surya...." sapanya ketika panggilan teleponnya telah terhubung.
"Halo Bulan ... bagaimana kabarmu?" kali ini giliran Surya yang bertanya bagaimana keadaan Bulan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Aku semakin sehat, Surya. Setelah beberapa hari lalu aku mengalami Anosmia, sekarang aku sudah lebih sehat." ucapnya menjawab pertanyaan dari Surya.
"Ada yang ingin kamu butuhkan Bulan? Aku bisa memberikannya dari sini. Kabari saja apa yang kamu butuhkan."
Bulan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Surya. Terima kasih ... sudah tersedia semua di sini." ucapnya.
Di sana Surya justru mengernyitkan keningnya. Dia juga ingin memberikan sesuatu untuk Bulan yang sedang isolasi mandiri. Akan tetapi, lagi dan lagi Bulan justru menolaknya.
"Apa memang kamu tidak membutuhkan apapun?" tanya Surya.
"Iya ... semua yang aku butuhkan sudah ada." sahut Bulan.
__ADS_1
"Siapa yang selama ini membelikan kebutuhanmu? Termasuk untuk makananmu siapa yang membelikan?" lagi Surya bertanya penuh curiga kepada Bulan.
"Bintang yang selalu membelikan makanan harian untukku, Surya." Bulan menjawab pertanyaan Surya dengan jujur.
Lagipula Bulan tak ingin membohongi Surya. Dia tahu dengan pasti bahwa hubungan jarak jauh sangat membutuhkan keterbukaan dan kejujuran. Karena itu, Bulan selalu berkata jujur kepada Surya. Dia tidak ingin jika dia berbohong, justru itu akan menjadi boomerang baginya. Apapun kenyataannya, Bulan selalu jujur kepada Surya.
Mendengar jawaban Bulan, Surya seakan kecewa. Harusnya dia yang memperhatikan Bulan. Harusnya dia yang bisa memberikan makanan harian untuk Bulan selama masa isolasi mandiri. Akan tetapi, Surya sama sekali tidak bisa melakukannya. Dia kalah start dengan temannya sendiri, Bintang.
Pria itu pun tersenyum dengan getir. "Sejak kapan Bintang membelikan makanan untukmu?"
"Sejak hari pertama aku isolasi mandiri. Bintang tahu kalau aku positif Covid dari Kartika, mereka bertetangga." lagi Bulan menjawab dengan jujur, tanpa dia sadari kejujurannya justru menyakiti Surya saat ini.
Sudah sepuluh hari sejak Bulan menjalankan isolasi mandiri. Berarti sudah sepuluh hari, Bintang selalu membelikan makanan untuk Bulan. Kenapa dari awal aku tidak memikirkan hal ini? Kamu memang berkata jujur, Bulan. Akan tetapi, kenapa ini terasa menyakitkan.
"Bisa tidak jika kamu meminta kepada Bintang untuk tidak lagi membelikanmu makanan? Biar aku saja yang membelikan untukmu." Surya berkata dengan hati-hati, tetapi hatinya berharap Bulan mau menolak supaya Bintang lagi membelikannya makanan untuk kesehariannya.
Di sisi lain, Bulan nampak mengernyitkan keningnya. Gadis itu tengah berpikir pasti Surya sedang cemburu dan kembali posesif saat ini.
"Dari awal aku sudah berkata kepada Bintang untuk tidak perlu repot membelikan banyak hal untukku. Akan tetapi, Bintang selalu bilang bahwa dia bahagia bisa menjadi orang yang berguna untuk sesamanya. Aku pun sungkan, Surya. Aku merepotkan Bintang." akunya dengan sungguh-sungguh.
Tidak dipungkiri, Bulan sungkan juga dengan kebaikan Bintang selama ini. Namun, Bintang justru terlihat begitu tulus dan dia selalu mendukung Bulan untuk bisa semangat berjuang.
"Jadi, kamu tidak bisa menolak Bintang ya?" lagi Surya bertanya. Kali ini Surya sungguh-sungguh berharap Bulan bisa mengikuti perkataannya dan menolak pemberian dari Bintang.
__ADS_1
"Iya ... aku tidak enak menolaknya karena Bintang tulus menolongku, Surya." jawab Bulan melalui panggilan telepon itu.
Surya lagi-lagi merasa kalah dengan seorang Bintang, terlebih saat Bulan mengatakan bahwa Bintang menolongnya dengan tulus. Rasanya Bintang sudah menjadi seorang pahlawan bagi Bulan sekarang ini, sementara dirinya yang notabene adalah tunangannya justru tidak melakukan apapun untuk Bulan.