
Kabar kedekatan Bulan dan Bintang akhirnya terdengar juga oleh para tetangga yang tinggal di
sekitar rumah Bulan. Sebagaimana kebiasaan para tetangga yang sering kali nyinyir, kali ini pun para tetangga juga seolah mempertanyakan mengapa Bulan bisa dekat dengan Bintang. Padahal, sepengetahuan mereka, Bulan selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Surya.
Pagi-pagi, saat Bu Sundari berbelanja sayur di dekat pos ronda di mana di sana ada seorang penjual sayur, terdapat tetangga yang bertanya terang-terangan kepada Bu Sundari. Bu Sari, memang terkenal dengan lidahnya yang tajam dan acap kali nyinyir dengan perilaku tetangganya. Kali ini, Bu Sari itulah yang bertanya kepada Ibunya Bulan, yaitu Bu Sundari.
“Bu, saya dengar Mbak Bulan sudah putus dengan Mas Surya ya? Kabarnya sekarang jalan bareng
teman SMA nya dulu namanya Bintang. Apa benar Bu?” tanya Bu Sari kepada Bu
Sundari.
Bu Sundari hanya tersenyum dan enggan mengeluarkan perkataannya. Memang orang hidup dalam masyarakat itu “wang sinawang”, saling melihat satu sama lain dan juga mau baik
dan tidak baik selalu menjadi buah bibir di masyarakat. Untuk itu, Bu Sundari
lebih memilih diam.
Sedangkan merasa bahwa Bu Sundari masih hanya diam, Bu Sari kembali melontarkan pertanyaan
kepada Bu Sundari. “Putusnya apa sudah lama tow Bu? Kok ya cepet sekali sudah mendapatkan pengganti yang baru.” Ucap Bu Sari lagi-lagi.
Mendengar pertanyaan dari Bu Sari, para ibu yang lainnya pun turut bertanya kepada Bu Sundari. Seolah, Bu Sari memang telah memancing dan diikuti oleh para ibu lainnya yang tengah berbelanja sayur di depan pos ronda itu.
“Wah, apa enggak sayang putus tow Bu? Kan sudah pacaran sekian lama.”
“Mas Surya nya dulu PNS kan Bu, eman-eman mau dapat menantu PNS terus enggak jadi.”
“Yang pacaran lama saja, bisa putus.”
__ADS_1
Begitu banyak ucapan dan komentar yang dilontarkan oleh para ibu-ibu tersebut.
Hingga akhirnya Bu Sundari pun menjawab, “Jodoh itu yang mengatur Yang Kuasa, Bu. Sekuat hati
ingin bersama dan melanjutkan, tetapi jika memang tidak berjodoh mau bagaimana lagi. Sebagai orang tua, yang penting Bulan bahagia.” Ucap Bu Sundari masih dengan berusaha tersenyum.
Tidak ingin terprovokasi dengan ucapan para ibu-ibu yang tengah berbelanja sayur pagi itu. Lagipula, cepat atau pun lambat sudah pasti tetangga sekitar akan mempertanyakan kenapa Bulan sekarang dekat dengan Bintang. Lagipula, memang Bintang sering kali datang ke rumah untuk menemui Bulan. Sudah pasti, beberapa tetangga pun melihat bahwa Bintang memang lebih sering datang ke kediaman Bu Sundari dan Pak Hartono.
“Wah, kalau saya kok ya eman-eman (sayang – dalam bahasa Jawa) Bu. Pacarnya dulu kan Mas Surya itu pegawai Pajak. Pegawai Pajak itu gaji dan tunjangannya besar, Bu. Masa depan sudah pasti terjamin. Setiap bulannya pasti ada.” Ucap Bu Sari lagi.
Secara matematika memang seseorang yang bekerja sebagai pegawai pajak itu mendapatkan
gaji dan tunjangan kinerja dengan nominal yang cukup besar. Maka dari itu, banyak orang yang berlomba-lomba untuk bisa bekerja sebagai pegawai pajak.
“Benar Sampeyan, Bu. Pegawai pajak itu gaji dan tunjangan kinerjanya besar. Adanya saudara,
kerja di Kantor Pajak hanya beberapa tahun sudah bisa membeli mobil baru.” Imbuh
Kembali Bu Sundari tersenyum dan seolah-olah tidak terpengaruh dengan apa yang sudah
diucapkan ibu-ibu di sana. “Tidak apa-apa Bu. Insyaallah, apa pun pekerjaannya itu yang penting bekerja, Bu. Halal. Daripada tidak bekerja, justru cilaka. Sekarang membuka mata itu harus membutuhkan uang untuk belanja sayur, dapur
harus tetap mengepul.” Jawab Bu Sundari lagi.
“Tetapi kan enggak seperti kalau PNS, Bu. Sudah pasti jaminan untuk masa depan dan hari tua
itu terpenuhi.” Sanggah Bu Sari lagi-lagi.
Merasa bahwa pembicaraan dengan ibu-ibu di kompleks perumahan itu tidak akan berakhir, maka
__ADS_1
Bu Sundari pun berniat untuk berpamitan pulang. Lagipula semua sayuran dan bumbu dapur sudah dia beli, sekarang waktunya untuk pulang.
“Baiklah Bu, saya pamit duluan ya. Mau masak biar Bapak bisa sarapan. Monggo Bu.” Pamit Bu Sundari kepada ibu-ibu yang berbelanja sayur di situ.
Setelahnya, Bu Sundari pulang kembali ke rumahnya. Wanita paruh baya itu, lantas mulai
mempersiapkan sayuran di dapur dan juga menyeduh teh yang biasanya menemani
para anggota keluarga di pagi hari. Hingga akhirnya pun, Bulan turut ke dapur untuk membantu ibunya itu.
“Biar Bulan yang memetik Kangkungnya Bu ...” pinta Bulan yang hendak memetik Kangkung yang akan dimasak oleh Ibunya.
“Boleh ... setelah Kangkungnya dipetik, nanti kupaskan Bawang Merah dan Bawang Putih
sekalian ya, Bulan.” Intruksi dari Bu Sundari kepada Bulan.
“Nggih Bu.” Jawabnya dengan tangannya bergerak untuk memetik Kangkung itu.
“Tadi Ibu-Ibu di sekitaran perumahan kita pada bertanya tentang kamu, Nduk” ucap Bu Sundari yang tiba-tiba hendak bercerita kepada Bulan pagi itu.
Bulan yang sedang fokus memetik Kangkung pun menoleh dan menanggapi perkataan Ibunya itu, “Bertanya bagaimana Bu?” tanyanya.
“Ya bertanya, apa kamu itu putus sama Surya. Kenapa kok enggak bertahan sama Surya yang sudah pasti pekerjaannya, lagipula kan Surya itu PNS, Pegawai Pajak, jadi kan gaji dan tunjangan kinerjanya besar.” Cerita Bu Sundari lagi kepada Bulan.
Gadis itu pun tersenyum sembari menggeleng perlahan, “Apa yang dilakukan Surya kepada Bulan
di Benteng Vredeberg itu membuat Bulan takut Bu. Seharusnya semarah apa pun Surya kepada Bulan, jangan sampai memperlakukan Bulan seperti itu. Jatuhnya justru Bulan seolah mengalami kekerasan fisik dari Surya.” Jawab gadis itu dengan seolah ingatannya kembali berputar pada saat di mana Surya menciumnya dengan paksa di Benteng Vredeberg beberapa bulan yang lalu.
“Lagipula, sudah beberapa bulan juga kami berdua jeda, Bu. Tidak ada kejelasan sama sekali, sementara di satu sisi ada pria yang ternyata menyukai Bulan dan menunjukkan keseriusannya kepada Bulan. Mungkin Bulan memang jahat, Bu. Akan tetapi, sekarang Bulan berpikirnya ingin cinta yang realistis. Cinta yang membuktikan dirinya untuk Bulan. Cinta yang memberi rasa aman dan nyaman. Semua itu, justru Bulan rasakan pada sosok Bintang.” Curhatnya kali ini kepada ibunya.
__ADS_1
Mendengar cerita dari Bulan, Bu Sundari pun membuka telinganya lebar-lebar, mencoba memahami apa yang disampaikan oleh anaknya itu. “Ya dalam hubungan ini, kamu yang merasakan, Nduk. Dulu bersama Surya bagaimana, dan sekarang bersama Bintang bagaimana. Cuma hatimu yang bisa merasakannya. Sementara orang lain di luaran sana hanya bisa menilai dengan mata mereka, tanpa tahu apa yang kamu rasakan. Jadi, tidak apa-apa. Ibu itu berdoanya kami mendapatkan pria yang mencintai kamu dan tanggung jawab. Itu saja.” Ucap Bu Sundari kepada putrinya pagi itu.