Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Momen bertemu dengan Bintang dijadikan kesempatan bagi Pak Hartono dan Bu Sundari untuk berterima kasih kepada pria yang merupakan teman SMA anaknya itu. Sebab Bintang berperan penting dalam kesembuhan Bulan.


Maka dari itu, dengan sungguh-sungguh Pak Hartono dan Bu Sundari berterima kasih kepada Bintang. "Terima kasih banyak ya Mas Bintang sudah menolong Bulan saat anak Bapak ini positif. Bapak tahu, Mas Bintang pasti repot. Namun, masih mengupayakan untuk menemui Bulan. Matur nuwun." ucap pria paruh baya itu dengan sungguh-sungguh.


Merasa sungkan, Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Tidak repot kok Pak ... saya tulus membantu Bulan. Tidak hanya Bulan, siapapun yang membutuhkan bantuan saya, sebisa mungkin saya akan membantu." sahut Bintang.


"Kamu memang anak yang baik Mas Bintang. Saat rasa simpati dan tolong-menolong dari manusia mulai memudar, tetapi Mas Bintang tetap mau menolong Bulan dan lainnya. Kami cuma bisa berterima kasih, semoga Allah yang membalas semuanya ya Mas." kali ini giliran Bu Sundari yang mengucapkan terima kasih kepada Bintang.


"Sama-sama Bu...." sahut Bintang dengan tenang.


"Ya sudah kalian ngobrol dulu saja, kita masuk ke dalam Pak ... memberi waktu kepada Bulan dan Bintang untuk bicara." ajak Bu Sundari kepada suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


Pasangan paruh baya itu mulai masuk ke dalam rumah, lalu di teras rumah hanya tinggal Bulan dan Bintang.


Dengan tersenyum Bulan kemudian melirik melihat Bintang yang nampak sungkan setelah bertemu kedua orang tuanya Bulan.


"Jadi gimana Bin?" tanya Bulan yang memecah keheningan dan bertanya kepada Bintang.


"Eh ... ini Bulan. Aku ada sesuatu buat kamu." ucapnya sembari menyodorkan sebuah paper bag berwarna cokelat kepada Bulan.


Nampak Bulan mengernyitkan keningnya dan merasa dirinya tidak mengirim pesan apapun kepada Bintang. Namun kini, Bintang datang dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Ini apa?" tanyanya penasaran.


Bintang justru tersenyum dan menatap wajah Bulan. "Buka saja." ucapnya singkat.


Perlahan tangan Bulan terulur untuk mengambil paper bag itu dan membukanya perlahan, layaknya ada sesuatu yang berharga Bulan pun sedikit mengintip apa isi dalam paper bag itu. Satu tangannya masuk ke dalam, dan meraih apa yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Buku?" tanya seakan tak percaya dengan apa yang dia pegang saat ini.


Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... seingatku kamu suka buku itu kan? Sayap-Sayap Patah dari Kahlil Gibran." ucap Bintang sembari mengamati ekspresi Bulan.


Menganggukkan dan kemudian gadis itu tersenyum. "Ini buku favorit aku banget. Bagaimana kamu tahu kalau aku suka ini?" tanya Bulan dengan penasaran.


"Tentu saja aku tahu." ucap Bintang dengan cepat.


...🌸🌸🌸...


Beberapa tahun yang lalu di Masa Putih Abu-Abu....


Di SMA Cipta Bangsa, saat itu Bintang tengah berada di Perpustakaan. Pria itu hanya agak malas dengan Surya yang mencoba mengenalkannya dengan beberapa adik kelas atau pun para murid yang mengikuti OSIS. Menurut Surya, sudah saatnya Bintang belajar dekat dengan lawan jenisnya.


Merasa jengah, Bintang memilih pergi ke Perpustakaan. Bukan untuk membaca buku, dia hanya ingin menghindari Surya.


Perlahan Bintang mengambil buku dengan asal, karena fokusnya memang bukan untuk membaca melainkan hanya untuk memandang Bulan. Kemudian Bintang memilih duduk di depan Bulan tentu dengan jarak beberapa meter, tetapi manik matanya masih bisa jelas memandang Bulan.


Dalam pengamatannya dalam diam itu, sayup-sayup dia mendengar Bulan bergumam.


"Ini buku terbaik yang pernah aku baca. Suatu saat aku akan memilikinya. Sayap-Sayap Patah dari Khalil Gibran."


Sejak saat itu, Bintang mengingat bahwa buku berjudul Sayap-Sayap Patah adalah buku kesukaan Bulan.


Flashback Off


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


Dengan mata yang berbinar Bulan membuka halaman demi halaman dari buku yang dia terima dari Bintang itu. Gadis ayu itu hingga menghiraukan Bintang untuk sesaat karena asyik membaca bahkan beberapa kali Bulan nampak mencium buku. Ya, aroma dari sebuah buku begitu sedap di indera penciuman Bulan.


Sementara dalam diam, Bintang tersenyum. Beruntung karena pria itu mengenakan masker yang menutupi bagian mulutnya, sehingga tidak ada yang tahu kalau diam-diam pria itu tengah tersenyum.


"Bagaimana suka?" tanya Bintang yang seolah membuyarkan keasyikan Bulan membaca buku itu.


Gadis itu pun tersenyum dengan manisnya seraya menganggukkan kepalanya. "Suka banget. Sudah lama sekali aku ingin membeli buku ini, tetapi selalu tidak punya waktu. Makasih banyak yang Bin...." ucapnya berterima kasih dengan penuh bahagia kepada Bintang.


Nampak Bintang menganggukkan kepalanya. "Sama-sama...." sahutnya dengan cepat.


Baru saja Bulan hendak mengobrol dengan Bintang, terdengar Ibunya tengah memanggilnya.


"Bulan ... Handphone kamu berbunyi terus itu." ucap Bu Sundari dari dalam rumahnya.


Bulan pun lantas melihat pada Bintang. "Sebentar ya Bin ... tunggu dulu." ucapnya yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan atau menelponnya.


Bulan mengernyitkan keningnya saat mendapati lima panggilan dari Surya. Tidak berselang lama, handphone itu kembali berbunyi dan lagi-lagi Surya yang menelponnya. Dengan cepat, Bulan menggeser tombol telepon berwarna hijau yang muncul di layar handphonenya.


"Ya Surya ... ada apa?" tanya Bulan begitu panggilan itu terhubung.


"Kamu darimana saja sih? Hingga aku harus menghubungi kamu beberapa kali. Kamu tahu enggak di Toraja susah sinyal, begitu aku mencari tempat yang memungkinkan ada sinyal, justru kamu enggak mengangkat teleponku." ucap Surya yang lagi-lagi nampak emosi.


Sementara bagi Bulan ini sudah untuk kesekian kali Surya bersikap seperti ini. Memang Bulan bukan tipe orang yang selalu memegang handphone di tangannya. Adakalanya dia mengisi daya handphonenya di kamar, adakalanya dia mengajar, atau menilai tugas-tugas yang dikumpulkan oleh orang tua murid. Namun Surya seolah tidak menyadari keadaan Bulan. Yang ada pria itu seolah menyudutkan Bulan hanya karena gadis itu tidak segera mengangkat panggilannya.


Merasa jengah, Bulan pun berkata. "Sudah bicaranya? Aku di sini juga punya kegiatan, Surya ... aku tidak selalu menggenggam handphone di tanganku. Jika kamu menelpon hanya untuk marah-marah dan meluapkan emosimu semata, lebih baik tidak usah menghubungiku." ucap Bulan sembari memutuskan sepihak panggilan dari Surya.


Tidak sampai di situ, Bulan justru menon-aktifkan handphonenya. Membiarkan Surya dengan segala emosi dan posesifnya. Bagi Bulan sudah terlampau banyak dia bersabar. Namun rupanya Surya tetap saja bertingkah seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2