
Seharian penuh berada di luar rumah demi mengurus semua hal yang berkaitan dengan rencana pernikahannya yang terpaksa harus ditunda dalam jangka waktu kapan tidak ada yang tahu. Bulan memasuki rumahnya dengan kaki yang terasa lemas, langkahnya gontai.
Lantaran situasi dalam masa pandemi, begitu sampai di rumah Bulan memilih segera mandi, membersihkan badannya dari kotoran dan virus-virus yang mungkin saja menempel di badannya. Bahkan bulan juga langsung mencuci pakaian yang seharian ia kenakan. Gadis ayu itu teringat dengan sebuah pesan layanan masyarakat bahwa selama masa pandemi harus lebih menjaga kebersihan, jika tidak bisa-bisa diri sendirilah yang menjadi pembawa virus untuk orang-orang yang kita sayangi.
Usai memastikan dirinya telah bersih, Bulan beranjak menuju kamarnya. Gadis itu berdiri di depan jendela di kamarnya, membuka tirai bunga-bunga yang tergantung sebagai penutup jendela. Ia membiarkan terpaan angin meniup lembut suraunya yang panjang sepekat malam. Sesekali gadis berusia 24 tahun itu memejamkan matanya, merasakan hembusan angin malam yang terasa lebih lembut, berharap terpaan angin itu bisa memberinya sedikit ketenangan.
Gemerisik pepohonan dengan dahannya yang melambai-lambai, membuat Bulan mengerjap. Terbersit olehnya bahwa hidupnya sekarang itu begitu bergemerisik layaknya pepohonan yang tertepa angin. Hidupnya yang selama ini tenang, hubungannya yang berjalan nyaris enam tahun bersama Surya tiba-tiba saja merasakan goyangan lantaran adanya Virus Corona.
Hari bahagianya batal bukan lantaran kehadiran orang pihak. Bukan! Hari bahagianya batal bukan lantaran Surya dan Bulan telah berlaku tidak setia. Bukan! Tetapi sebuah virus yang tidak kasat mata, tetapi nyatanya begitu mengguncang Bulan, bahkan seluruh penduduk di dunia.
Bulan kemudian berjalan menuju tempat tidurnya, di sana telah terpampang Kebaya Putih yang tadi ia ambil dari sebuah butik, contoh undangan pernikahan, contoh souvenir pernikahan, bahkan kertas pembentukan panitia pernikahannya dengan Surya. Air matanya yang kuasa menahan semua kebahagiaan itu lenyap seketika.
__ADS_1
Aku akan mengikhlaskan diri. Aku akan menahan hingga situasi ini berlalu. Oh, Semesta … kapan kau akan kembali baik-baik saja? Banyak asa yang kuimpian. Banyak cinta yang ingin kuwujudkan bersama Surya. Kapankah kau membaik dan membiarkan mimpiku ini terjawab? Satu bulan … dua bulan … enam bulan … ataukah satu tahun? Hei Semesta, ku harap kau segera membaik sehingga semua ini bisa dilewati. Hari baru akan datang dan manusia kembali beroleh pengharapan.
Bulan bergumam sembari menyentuh satu per satu berbagai benda yang sejatinya akan menjadi saksi kebahagiaannya bersama Surya kelak.
"Semoga hari bahagia ini memang hanya tertunda. Mengapa rasanya begitu sulit untuk bersatu denganmu, Surya. Hanya menunggu satu bulan saja dan kita akan bisa bersama nyatanya seolah Semesta memiliki jalan ceritanya sendiri. Terlebih kini, hanya dalam hitungan hari kamu akan meninggalkan Kota Jogjakarta ini. Lagi-lagi, aku harus sendiri, Surya. Jika di langit malam Rembulan bersanding dengan taburan kerlap-kerlip bintang, sementara di sini aku hanya seorang diri, Surya. Saat terpisah jarak dan waktu Jogjakarta - Makassar nanti mungkinkah hati dan perasaan kita akan tetap sama? Lantaran Corona, mungkinkah perasaan kita akan tetap sama sekalipun kita tidak tahu pasti kapan kita bersua? Mungkinkah hati kita berdua masih akan bertaut saat kondisi benar-benar marut-mawut? Semua ini sungguh berat, Surya. Namun, agaknya kamu lebih ikhlas. Berbeda denganku yang larut dalam kekecewaan."
Bulan berucap lirih. Perasaannya berkecamuk saat ini. Beberapa kali ia menyeka air matanya. Hasratnya ingin bersama Surya, namun kondisi yang tidak menentu dan juga pekerjaan Bulan sebagai seorang Guru Sekolah Dasar Negeri di Jogjakarta nyatanya juga membuatnya tidak bisa meninggalkan Kota ini usai pernikahan ini.
Mengapa semua terasa rumit? Perlahan Bulan bergerak dan menyimpan kembali Kebaya Putih ke dalam lemari pakaiannya. Untuk undangan, contoh souvenir, dan beberapa kelengkapan lainnya Bulan masukkan dalam satu kotak lalu ia menaruhnya di atas lemari. Gadis itu menghela nafasnya, semoga saja semua yang ia simpan saat ini akan dapat terealisasikan suatu saat nanti dan ini tetap bersama Surya, pria yang sudah menjalin kasih dengannya sejak di bangku SMA.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Keesokan harinya, Bulan kembali masuk bekerja, profesinya sebagai seorang Guru Sekolah Dasar memang membuatnya berangkat lebih pagi.
Begitu sampai di Sekolah, semua guru diminta berkumpul dan akan mendapat pengarahan dari Kepala Sekolah.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu Guru semua. Pagi ini, saya berdiri di sini untuk memberikan bimbingan kepada para Guru. Lantaran tengah terjadi situasi pandemi, dan data orang yang terkena infeksi virus Corona semakin tinggi maka Kegiatan Belajar Mengajar yang semula dilakukan secara tatap muka, akan kita alihkan menjadi pembalajatan daring/online sesuai dengan intruksi yang diberikan Bapak Presiden dan Menteri Pendidikan kemarin. Jadi mohon Bapak dan Ibu Guru bisa mempersiapkannya. Bagaimana pun anak-anak harus tetap mendapatkan pengajaran. Situasi pandemi tidak menghalangi anak-anak untuk belajar. Ke depan, juga akan ada pembekalan bagi para Guru untuk meningkatkan kompetensi mengajar yaitu dengan menggunakan aplikasi teknologi untuk mengajar siswa."
Demikianlah bimbingan dari Kepala Sekolah yang didengarkan oleh para guru.
Beberapa guru yang mendengar bimbingan dari Kepala Sekolah memang ada yang kebingungan terlebih para Guru yang sudah sepuh (tua), menggunakan teknologi untuk mengajar rasanya adalah tantangan yang berat. Pembelajaran yang biasanya dilangsungkan tatap muka, harus menjalankannya secara online. Generasi tua siap tidak siap harus berusaha belajar lagi untuk menjalankan Sekolah Dari Rumah atau School From Home. Sementara untuk Tenaga Pendidikan yang masih muda seperti Bulan tentunya bisa lebih cepat menggunakan teknologi untuk pembelajaran.
Hanya saja Bulan saat ini mengajar Kelas 1 SD, mengajarkan anak-anak untuk membaca, menulis, dan berhitung. Tantangan yang berat yang mengajar membaca, menulis, dan berhitung secara online. Pasalnya masing-masing siswa memiliki kemampuan sendiri. Dalam satu kelas pun, tidak ada patokan kemampuan satu anak dengan lainnya. Hal yang cukup memusingkan Bulan.
__ADS_1
Seketika Bulan memutar otaknya, bagaimana caranya mengajar anak-anak untuk membaca, menulis, dan berhitung secara online. Semoga saja dia bisa menerapkan metode pengajaran yang tepat, pemakaian media mengajar yang tepat sasaran, dan kerja sama dengan orang tua siswa tentu.
Bulan menghela nafasnya kasar. "Oh Tuhan, mengapa sekian hari justru bertambah berat ya Tuhan. Belum masalahku pribadi usai, kini cobaan bertambah lagi. Jika boleh meminta, biarlah virus Corona ini akan segera berlalu ya Tuhan."