
Tidak terasa puasa selama satu bulan lamanya sudah terlewati. Seluruh umat Muslim sama-sama menyongsong Idul Fitri. Masih sama seperti bulan puasa, Idul Fitri kali ini terasa sepi karena hanya dilakukan di rumah saja. Bahkan Salat Idul Fitri juga dilakukan di rumah.
Pagi itu keluarga Bulan nampak bersama menjalankan Salat Idul Fitri yang diimami oleh Pak Hartono selaku kepala keluarga. Di belakangnya berdiri Bulan dan Bu Sundari yang mengikuti tuntunan Salat yang dilakukan oleh Pak Hartono. Usai melakukan Salat, lantas terjadilah momen saling bermaaf-maafan di keluarga Bulan.
Bu Sundari mendekati suaminya kemudian mencium punggung tangannya. "Mohon maaf lahir dan batin ya Pak ... maaf jika selama ini Ibu ada salah yang disengaja mau pun tidak disengaja." ucap Bu Sundari sembari berlinangan air mata.
Momen bermaaf-maafan menjadi momen haru bagi keluarga Bulan. Mereka menundukkan diri dan dengan tulus memohon maaf untuk kesalahan yang diperbuat.
Pak Hartono pun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Istrinya itu. "Sama-sama Bu ... selama ini jika Bapak ada salah, Bapak juga minta maaf. Kita sudah kembali ke fitri." ucap Pak Hartono kepada Bu Sundari.
Setelah itu, giliran Bulan yang mengambil sikap sujud, kemudian mencium punggung tangan Bapaknya. "Pak, selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin ya Pak ... semoga di hari raya ini bisa saling bermaaf-maafan, sebagai anak tentu Bulan banyak salah." ucapnya sembari menundukkan kepalanya.
Pak Hartono lantas memeluk anaknya itu. "Pasti Bulan ... sebagai orang tua juga Bapak banyak salah kepadamu. kita kembali lagi ke fitri ya."
Usai meminta maaf kepada Bapaknya, giliran Bulan yang meminta maaf kepada Ibunya. Keduanya saling memeluk dan bertangisan, begitu lega bisa meminta maaf dan mendapat maaf dari orang yang kita cintai.
Setelah acara maaf-maafan selesai, keluarga kecil itu lantas menikmati Lontong, Sambal Goreng, dan Opor Ayam yang merupakan menu wajib khas lebaran.
"Kamu enggak datang ke rumah keluarga Surya, Nduk?" tanya Bu Sundari kepada anaknya itu.
Bulan yang tengah duduk di meja makan pun menggeleng lemah. "Tidak Bu ... Bulan tidak bersilaturahmi ke sana. Lagipula tidak ada Surya, rasanya sungkan kalau ke sana sendiri." jawabnya.
Inilah Idul Fitri pertama bagi Bulan tidak bersilaturahmi ke rumah keluarga Surya. Biasanya, setiap tahun di momen lebaran, Surya akan menjemput Bintang dan mengajak gadis itu untuk datang dan bersilaturahmi di rumah keluarganya. Sementara saat ini, benar-benar menjadi lebaran tanpa silaturahmi bagi Bulan.
__ADS_1
"Jika sekadar bersilaturahmi tidak apa-apa. Lagipula, kamu kan biasanya setiap tahun ke sana. Apa tidak aneh jika tahun ini tidak bersilaturahmi dengan mereka?" tanya Bu Sundari sembari memperhatikan Bulan.
Gadis itu tersenyum kecut. "Tidak apa-apa Bu ... lain waktu saja." jawabnya singkat.
Sebagai seorang Ibu, tentu saja Bu Sundari ada sesuatu yang sedang Bulan tutup-tutupi, sesuatu yang enggan dibagi oleh anaknya itu. Lagipula menurut Bu Sundari, tidak harus menunggu Surya datang dan menjemputnya jika sebatas untuk silaturahmi.
"Ya sudah ... yang penting jika ada apa-apa jangan dipendam sendiri. Ceritakan dengan Bapak dan Ibu. Menyimpan segala sesuatu sendiri itu tidak baik." nasihat Bu Sundari kepada anak gadisnya itu.
"Baik Bu ...." jawab Bulan dengan cepat.
Usai menikmati menu khas lebaran, Bulan memilih untuk memasuki kamarnya di lantai dua. Gadis itu hanya duduk dan memandangi handphonenya. Melihat kalender yang berderet-deret di sana. Kemudian Bulan juga membuka riwayat chat-nya dengan Surya. Gadis itu mengerjap dan menghela napasnya.
Sudah lebih dari satu bulan jeda ini Surya ....
Ngomong-ngomong soal hari raya, Selamat Idul Fitri Surya ...
Sekalipun hari ini menjadi Idul Fitri tanpa silaturahmi, kuharap bahwa di sana kami juga meraih kemenangan dan merayakan suasana lebaran di kota Makassar.
Usai bergumam dalam hati, Bulan kemudian menarik laci di nakasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak merah yang di dalamnya dia menyimpan cincin pertunangannya dengan Surya. Memandangi cincin itu, kemudian mengambilnya sekilas.
Gadis itu tersenyum getir melihat cincin itu, masih terlintas dalam benaknya bagaimana dulu Surya memintanya untuk menjadi pasangannya, menjalin pertunangan dalam suasana bahagia. Akan tetapi, sekarang seolah tidak ada artinya.
Cincin itu justru mengingatkan Bulan bagaimana Surya terbakar emosi hingga akhirnya mengucapkan jeda. Jeda yang tidak dia ketahui akan berlangsung selama berapa lama. Jeda yang tidak dia ketahui keputusannya. Semuanya serba menggantung, semuanya membuat Bulan serba salah.
__ADS_1
Mungkinkah cincin ini akan kembali melingkar dengan indah di jari manis ini Surya? Diammu dan abaimu justru membuatku merasakan sakit saat melihat cincin ini. Bolehkah aku menganggap bahwa hubungan kita telah usai? Seakan tidak ada harapan lagi, rasa-rasanya jika benar cinta tidak akan menggantung orang seperti ini kan?
Saat Bulan tengah melamun, tiba-tiba saja Bu Sundari memasuki kamar putrinya itu.
"Baru ngapain Bulan?" tanya Bu Sundari kepada Bulan.
Dengan cepat Bulan menyimpan kembali cincin pertunangannya dan memasukkannya ke dalam nakas penyimpanan.
"Eh Ibu ... tidak ngapa-ngapain kok Bu. Hanya duduk di sini saja." jawab Bulan dengan gugup.
Melihat gelagat anaknya yang lain dari biasanya, Bu Sundari pun menghampiri Bulan. "Pasti ada sesuatu yang tidak benar antara kamu dan Surya ya? Diam-diam Ibu ini memperhatikan kamu. Sekarang kamu jarang sekali bertelponan dengan Surya, hari ini pun kami tidak bersilaturahmi ke kediaman mereka. Ada apa sebenarnya cerita sama Ibu." pinta Bu Sundari kepada Bulan agar anaknya itu bersedia berbagi dengannya.
Baru saja Bulan ingin membuka mulut dan mengeluarkan suaranya, Pak Hartono sudah memanggil Bulan terlebih dahulu.
"Bulan ... ada Mas Bintang di bawah." panggilan agak berteriak dari Pak Hartono yang memberitahu Bulan bahwa ada Bintang di bawah.
Gadis berparas ayu itu pun menggigit bibirnya. Memikirkan apa yang Bintang lakukan di rumahnya saat ini.
"Ya Pak ... sebentar." sahut Bulan.
Lantas Bulan kembali menatap Ibunya. "Bulan tidak apa-apa Bu ... Bulan baik-baik saja, sekarang kita turun menemui Bintang yuk Bu ... tumben sekali cowok itu datang pas Hari Raya Idul Fitri." ucap Bulan sembari mengajak Ibunya keluar dari kamarnya dan segera turun ke bawah untuk menemui Bintang.
Bu Sundari pun tersenyum dan mengikuti Bulan untuk menuruni anak tangga dan menyapa Bintang yang sudah duduk di ruang tamu. Pandangan pertama yang Bu Sundari lihat saat itu adalah bagaimana pria tampan yang duduk di sana tengah memperhatikan Bulan dalam sorot matanya yang teduh. Menangkap setiap gerakan yang Bulan lakukan. Dalam diam, Bu Sundari pun tersenyum dalam hati saat melihat kehadiran Bintang di rumahnya kala itu.
__ADS_1