
"Aku yakin ...."
Sebuah pengakuan yang akhirnya keluar dari mulut Bulan. Sebuah pengakuan yang sudah sekian lama sangat dinantikan oleh Bintang. Dan, sebuah pengakuan yang membuat keduanya naik pada level selanjutnya.
Mendengar pengakuan dari Bulan, Bintang pun lantas kembali memeluk gadis itu. Memejamkan matanya sejenak, merasakan hangatnya pelukan Bulan saat itu, semilir angin di area pematang sawah justru membuat aroma vanilla dari tubuh Bulan semakin menguar udara. Perpaduan manis dan lembutnya vanilla menyapa indera penciuman Bintang. Hingga, yang dapat dilakukan pria itu adalah terus memejamkan matanya dan memeluk Bulan dengan begitu eratnya.
Masih dengan memeluk Bulan, Bintang kemudian membuka suaranya, "aku tidak menyangka ... akhirnya cintaku terbalas. Di pematang sawah seperti ini, justru cintaku terbalas. Hubungan kita berdua berarti naik level kan?" Tanyanya kepada Bulan.
Gadis yang masih turut memeluk Bintang itu pun perlahan mengurai pelukannya, kedua tangannya masih berada di sekitar pinggang Bintang, "kamu maunya naik level atau gimana?"
Bukan menjawab, Bulan justru balik bertanya. Sontak saja Bintang pun tersenyum, pria itu lantas menautkan keningnya dengan kening Bulan, "kebiasaan banget sih kalau bertanya malahan balik tanya. Jawab dulu dong," pintanya kepada Bulan untuk menjawab terlebih dahulu pertanyaannya.
"Karena kamu sudah banyak tahu dan mengenalku, maka aku perlu waktu juga untuk mengenalmu, Bintang ... aku juga ingin mengenalmu terlebih dahulu." Bulan berbicara sembari terus menatap kedua bola mata Bintang.
Pria itu pun memberi anggukan sebagai sebuah tanda bahwa dirinya setuju, "baiklah ... kenali aku dengan caramu. Lagipula aku rasa, kamu sudah cukup mengenalku." Bintang menjawab sembari tertawa.
Jawaban yang dilontarkan Bintang, membuat gadis itu memukul dada Bintang, "kalau namamu, aku tahu. Alamat dan pekerjaan, aku juga tahu ... tetapi, aku perlu mengenal lebih lagi."
__ADS_1
Yang dimaksud oleh Bulan adalah dia ingin benar-benar mengenal Bintang, bagaimana sifat dan karakternya, apa yang disukai dan tidak disukainya. Semakin mengenali pasangan, itu akan makin baik bagi Bulan. Menempatkan dirinya sebagai pasangan yang bisa mengisi satu dengan yang lain.
"Iya ... lagian aku ya seperti ini. Bintang yang selama ini kamu kenal, ya itulah aku. Selalu seperti ini dan tidak akan pernah berubah." Pria itu meyakinkan Bulan, bahwa sebenarnya Bulan telah mengenalnya, karena Bintang tetaplah Bintang yang tidak pernah berubah.
Bintang lantas kembali menatap wajah Bulan, sorot matanya kini justru memindai pada bibir ranum berwarna pink itu, perlahan pria itu mendekatkan wajahnya, hingga hembusan napasnya seolah membelai sisi wajah Bulan. Gerakan begitu lembut, tetapi membuat jantung keduanya berdetak melebihi ambang batasnya. Perlahan, pria itu memberanikan diri untuk menyapa bibir yang sejak tadi seolah menggodanya itu. Membiarkan bibirnya menyapa bibir milik Bulan. Bertengger sejenak, hanya sebatas menempel satu sama lain.
Pria itu nampak memejamkan matanya, membiarkan bibirnya dan napasnya yang hangat menyapa bibir dan wajah gadis berparas ayu tersebut. Membiarkan padi di sawah menjadi saksi bahwa keduanya telah sama-sama membuka diri dan memastikan diri untuk melangkah ke tahap selanjutnya.
Tiga detik ... lima detik ... sepuluh detik
Kedua bibir itu saling menempel satu sama lain, hingga akhirnya Bintang mengecup bibir Bulan. Hanya satu kecupan saja, dan pria itu lantas menarik wajahnya, kedua bola matanya kini memperhatikan wajah Bulan yang begitu merah merona.
Pengakuan cinta yang sungguh-sungguh akhirnya keluar juga dari bibir Bintang. Sementara Bulan nampak mengerjapkan matanya, gadis itu justru kikuk haruskah dia membalas ungkapan cinta Bintang. Mengapa untuk membalas ungkapan cinta itu, lidahnya terasa begitu kelu.
Tak mampu menjawab, Bulan pun hanya menganggukkan kepala dan memberi senyuman kepada Bintang. Gadis itu pun lantas berbicara, "ya sudah ... aku balik ke dalam ya. Kamu hati-hati ke rumah temen kamu itu."
Nyatanya Bintang, justru menahan satu tangan Bulan. Membuat gadis itu berhenti beranjak, "kenapa? Hmm." Tanyanya kepada Bintang.
__ADS_1
Satu gelengan kepala pun diberikan pria itu, "aku ke rumahnya temenku nanti aja deh, aku masuk lagi sama kamu ke dalam lagi aku."
Hingga akhirnya keduanya sama-sama memilih untuk kembali memasuki Secret Garden Kafe. Bulan kemudian memilih kembali duduk dan meminum sedikit minumannya. Gadis itu lantas bertanya kepada Bintang, "tadi kamu pergi itu bukan bermaksud supaya aku mengejarmu kan?" Tanyanya kepada Bintang.
Mendengar pertanyaan Bulan, Bintang justru tertawa, "aku tidak sefrustasi itu ... mencintaimu sekian waktu lamanya seorang diri saja aku bisa. Jika hanya menunggu jawaban darimu, maka aku lebih bisa," jawabnya kemudian mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Bintang lantas menunjukkan sebuah pesan dari temannya, "Nih ... pesan dari temanku, memang ada bukuku yang tertinggal di sana. Kamu kira, aku pergi karena frustasi tidak mendapat jawaban darimu?"
Merasa dugaannya salah, Bulan pun lantas menundukkan kepalanya, "kalau tahu kamu tidak mencoba menghindariku, mending aku enggak mengejarmu tadi. Aku berlari dari sini sampai mau sesak napas buat mengejar kami." Bulan menjawab sembari mencicipi desertnya.
Bintang pun tersenyum, "enggak ... aku udah janji kan kalau aku bakalan menunggu. Selama apa pun waktu yang kamu butuhkan, aku tidak keberatan kok. Sungguh. Hati ini mau menunggumu."
Jawaban yang begitu sungguh-sungguh dari Bintang, membuat Bulan pun tersenyum. Ucapan yang seolah menggetarkan hatinya dan akhirnya Bulan menyadari bahwa mungkin saja Bintang memang memiliki cinta yang begitu tulus untuknya. Yang perlu Bulan nantikan adalah kesungguhan pria itu. Benarkah Bintang akan benar-benar menawarkan cinta yang penuh dengan kepastian, seperti yang pernah dia ucapkan beberapa waktu yang lalu.
"Makasih ya Bin ... karena kamu mau bersabar sama aku." Bulan mengucapkan terima kasih karena selama ini Bintang cukup sabar menghadapinya.
"Sama-sama Bulan. Jadi, bolehkah aku menganggap kalau hari ini adalah hari pertama kita jadian?" Tanyanya sembari menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
Membiarkan beberapa detik hening, hingga akhirnya Bulan pun menganggukkan kepalanya, "ya ... ini hari pertama kita."
__ADS_1
Tidak bisa dibendung lagi raut wajah penuh kebahagiaan di wajah Bintang saat ini. Begitu bahagia, hingga beberapa kali pria itu nampak. tersenyum malu-malu. Hari paling bahagia dalam hidup Bintang tentunya. Hari di mana gadis yang selama ini dicintainya akhirnya menjatuhkan pilihan hati kepadanya.
Di dalam hati, Bintang berjanji bahwa dia benar-benar akan memberikan cinta yang penuh dengan kepastian kepada Bulan. Tidak akan membiarkan gadis itu menunggu terlalu lama, karena Bintang pun juga ingin bahwa selamanya Bulan akan tetap menjadi miliknya. Sama seperti rembulan dan bintang yang saling berdampingan di langit malam, begitu pula dia ingin selalu berdampingan dengan Bulan. Mengisi satu sama lain, saling mendampingi hingga akhirnya mereka menua bersama.