
Keesokan harinya Bulan tiba di Bandara Internasional Adisutjipto, Jogjakarta. Kurang lebih jam setengah dua siang, Bulan telah berada di Bandara itu dengan mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulutnya guna melindungi paparan dari virus Corona yang bisa bermutasi melalui saluran pernafasan.
Gadis yang mengenakan jaket merah itu menunggu di pintu keberangkatan, matanya beredar ke sekeliling guna mencari keberadaan Surya. Gadis itu berdiri, menengok ke kanan dan kiri, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, hingga akhirnya pria yang ia cari sudah berada di depannya dengan menenteng koper di tangannya dan sebuah ransel berwarna hitam di punggungnya.
"Sudah lama Bulan?" tanya pria itu yang hanya mampu memandang bola mata indah yang bergerak-gerak di bagian wajah Bulan. Bagian wajah ayunya yang lain tidak bisa ia lihat, lantaran tertutup oleh masker.
Begitu juga dengan Bulan, hanya mata dan kening Surya yang tertangkap oleh netra Bulan. Selebihnya hanya masker berwarna hitam yang menutupi separuh wajah Surya.
"Kurang lebih sepuluh menit. Penerbangan jam 15.45 kan?" tanyanya kepada Surya.
Surya mengangguk. "Iya. Langsung ke Makassar, tanpa transit. Kamu sendirian? Naik apa?" tanya Surya kepada Bintang.
"Iya, aku sendirian. Sehabis ngajar di Sekolah, aku langsung ke sini. Naik bus Trans Jogja tadi, turun di depan pas." jawab Bulan.
Kedua orang tua Surya yang turut mengantar kepergian anaknya ke Bandara pun turut menghampiri Bulan. "Nak Bulan, ketemu lagi ya...." sapa kedua orang tua Surya.
Bulan menganggukkan kepala sembari sedikit membungkukkan kepalanya. "Nggih Pak, Bu... mau mengantar Surya."
__ADS_1
Ibu Rini segera merangkul bahu calon menantunya itu. "Yang kuat ya, harus pacaran jarak jauh (Long Distance Relationship) lagi sama Surya. InsyaAllah tidak akan lama, semoga bencana ini segera berlalu dan kamu bisa meneruskan impian kalian untuk menggelar pernikahan."
Lagi-lagi Bulan berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh. Sejujurnya ia mengangguk lesu, tetapi Bulan selalu menguatkan dirinya sendiri.
"Yang kuat ya, kita bisa menjalani ini semua. Sekarang aku doanya hanya satu, kamu di sini sehat dan aku di Makassar nanti juga sehat. Harapan terbaik saat ini adalah kita sama-sama sehat dan bisa bertemu kembali di saat situasi dan kondisinya membaik." ucap Surya sembari menggenggam tangan Bulan.
Gadis itu kembali mengangguk. "Iya, kamu juga sehat-sehat di Makassar. Kalau keluar rumah jangan lupa selalu memakai masker, makan makanan sehat, minum vitamin C juga ya." Bulan pun berpesan kepada Surya untuk menjaga diri dan kesehatannya dengan sebaik mungkin.
Surya kemudian berkata kepada kedua orang tuanya. "Bapak dan Ibu, Surya nanti titip Bulan ya. Jagain Bulan buat Surya. Semoga situasi ini segera berakhir, supaya Surya bisa pulang lagi ke Jogjakarta. Bapak dan Ibu juga selalu sehat di sini, jangan sampai terpapar virus Corona, kurangi berkerumun nggih...."
Perhatian, para penumpang pesawat X dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Makassar dipersilakan segera boarding melalui pintu A12.
Mendengar pengumuman yang disuarakan di Bandara, sontak membuat air mata Bulan luruh seketika. Tidak bisa ditahan lagi. Hatinya belum baik-baik saja, dan kini bertambah lantaran Surya harus kembali ke Makassar.
Surya berjalani mendekati Bulan, memeluk tubuh kekasihnya itu. "Aku berangkat ke Makassar dulu ya Bulan, kita jalani hubungan jarak jauh ini dulu. Semoga keadaan segera membaik dan aku bisa kembali pulang ke Jogjakarta untuk menemuimu. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit." ucapnya sembari masih memeluk Bulan.
Bulan mengurai pelukan Surya. "Iya, aku akan nungguin kamu di sini, Surya. Jaga kesehatan juga selalu di Makassar, kemana-mana pakai masker ya." sahut Bulan.
__ADS_1
"Iya, kamu baik-baik saja kan di sini? Ku harap kita bisa sama-sama menjalani semua ini ya. Aku akan kembali padamu dan meminangmu. Jika situasi dan kondisi sudah membaik, Bapak dan Ibuku akan kembali menemui orang tuamu untuk memintamu sekali lagi menjadi Istriku. Tunggu sampai itu tiba ya." ucap Surya sembari memegangi kedua lengan Bulan.
Bulan hanya bisa meneteskan air matanya. "Berapa lama aku harus menunggu, Surya? Satu bulan, Dua bulan, atau satu tahun? Situasi ini tidak bisa diprediksi, lebih baik jangan menjanjikan apa pun padaku jika akhirnya justru membuatku terhempas dan sakit lagi. Cukup bertahanlah di sana dan tetaplah sehat. Mendapati kabarmu sehat, sudah cukup bagiku sekarang ini. Kesehatan sangat mahal, sekarang ini." sahut Bulan.
Surya paham betul dengan isi hati Bulan, jelas masih terlihat bagaimana gadis itu masih belum bisa menerima semuanya, tetapi pembatalan pernikahan untuk sementara memang untuk kebaikan bersama. Dalam hal ini, mereka tidak punya pilihan lainnya.
Surya menggenggam kedua tangan kekasihnya itu. "Tunggu aku, Bulan. Aku tetap akan kembali padamu. Ini janjiku, bahwa aku akan kembali untuk meminangmu, menjadikanmu Istriku. Aku tidak bisa menjanjikan kapan waktunya, tetapi percayalah bahwa aku akan meminangmu. Membawa hubungan kita ke tahap yang lebih serius. Sudah sekian tahun kita bersama, aku yakin dengan kekuatan cinta kita. Cinta yang selalu membawaku kepadamu, begitu pula sebaiknya."
Surya lantas kembali mendekati orang tuanya, mencium punggung tangan kedua orang tua dan memeluknya. "Bapak dan Ibu, Surya masuk ya sudah waktu boarding. Nanti begitu landing di Bandara Hasanudin, Makassar, Surya akan menghubungi Bapak dan Ibu. Sehat-sehat nggih Bapak dan Ibu. Surya pamit dan titip Bulan nggih...."
Pria itu menitipkan kekasihnya kepada orang tuanya, sebab ia harus segera ke Makassar dan orang tua Surya pun sudah menganggap Bulan seperti anak mereka sendiri. Sudah tentu tanpa pesan dari Surya, mereka akan tetap menjaga dan menyayangi Bulan.
"Bulan ... aku akan boarding segera. Kamu baik-baik ya di sini. Sehat selalu, dan jaga hatimu selalu, tunggu aku kembali. Ingat janji kita bahwa kita akan saling mencintai dan menjaga hati kita, keadaan ini boleh berubah, tanggal pernikahan kita boleh berubah, tetapi perasaan kita tetap sama."
Lagi Surya memeluk Bulan. "Aku pamit ya ... tunggu aku kembali pulang dan meminangmu. Jangan menangis. Bye Bulan ... aku selalu menyayangimu." ucap Surya sembari melambaikan tangannya kepada Bulan.
Bulan hanya bisa terisak dengan harus menerima kenyataan pahit, berpisah dengan Surya untuk kurun waktu yang tidak pasti. Gadis itu pun melambaikan tangannya. "Hati-hati Surya, aku menyayangimu...." gumamnya lirih sembari menyeka air matanya.
__ADS_1