
Bias sinar kebahagiaan jelas terpampang nyata di hati dan wajah pria yang kini tengah berjalan bersisian dengan Bulan. Tidak menyangka keduanya bisa menyongsong senja bersama dan bahkan kini keduanya berjalan kaki bersisian dan siap mencari tempat untuk berbuka puasa.
"Kamu ingin makan apa Bulan?" tanya Bintang perlahan.
Gadis itu nampak berpikir sejenak, terus melangkah dan memikirkan makanan apa yang ingin dia santap saat buka puasa ini.
"Nasi kucing saja Bin ... kamu mau enggak?" tanyanya yang ternyata ingin memakan Nasi Kucing.
Nasi Kucing adalah menu yang berupa nasi putih, bandeng, dan sambal. Nasi kucing merupakan menu wajib yang tersedia di setiap angkringan.
Bintang justru tersenyum geli, "Unik banget sih. Di saat banyak gadis lebih suka makan di kafe, kamu justru ingin makan di Angkringan. Makannya Nasi Kucing pula." ucap pria itu sembari geleng-geleng kepala.
Gadis yang masih berjalan di sebelah Bintang itu pun turut tertawa. "Lha kan aku cuma menjawab pertanyaanmu. Pengen makan apa? Aku kepikiran Nasi Kucing ... salah ya?"
"Enggak ... enggak salah kok. Mau Angkringan di sekitar Malioboro saja? Ada beberapa Angkringan di sana." tawar pria itu kepada Bulan.
"Iya, yang dekat dengan lokasi kita saja kok." jawabnya.
Dengan masih terus melangkahkan kaki, keduanya menyusuri trotoar di sekitar Malioboro. Berjalan-jalan sore sembari menunggu waktu berbuka puasa. Kemudian mereka berhenti saat melihat sebuah Angkringan telah dibuka di area Malioboro. Keduanya memilih duduk beralaskan tikar di trotoar, sembari menikmati beberapa kendaraan yang berlalu lalang di jalan Malioboro.
Petang itu, Bulan mengambil dua bungkusan Nasi Kucing, mendoan, dan sate usus. Sementara Bintang juga mengambil Nasi Kucing, mendoan, dan sate keong.
Menunggu magrib tiba, keduanya duduk-duduk saja dengan makanan yang sudah siap di depan mereka.
"Gimana pekerjaanmu, Bulan?" tanya Bintang kepada Bulan yang kali ini menanyakan pekerjaan.
Gadis itu sedikit menoleh untuk melihat Bintang. "Baik ... seperti biasa. Tinggal menunggu waktu libur lebaran." jawabnya.
"Kamu masih bekerja dari rumah, Bin?" tanyanya kemudian kepada Bintang.
__ADS_1
"Iya ... masih bekerja dari rumah. Cuma terkadang aku masuk ke kantor, bosan juga sih lama-lama di dalam rumah. Ngomong-ngomong, Ibukku titip salam buat kamu." kata Bintang tiba-tiba yang mengatakan perihal salam dari Ibunya untuk Bulan.
Menunduk malu, Bulan menghela napasnya. Bagaimana mungkin Ibunya Bintang menitipkan salam untuknya.
"Masak sih Ibu nitip salam buat aku?" tanyanya seakan tak percaya.
Bintang pun menganggukkan kepalanya."Iya, benar kok ... beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja Ibu nanyain kamu dan nitip salam buat kamu." ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.
Senyuman terbit dari wajah Bulan. "Kok bisa sih Ibu nitip salam? Aku jadi malu deh." aku gadis itu dengan jujur,dia benar-benar malu saat Bintang mengatakan bahwa dia mendapat salam dari Ibunya.
"Serius ... aku enggak bohong. Mau dijadikan menantu sama Ibu, kamu mau enggak?" tanya Bintang dengan tiba-tiba.
Sementara bagi Bulan, pertanyaan Bintang justru sekadar lelucon. Lagipula, bagaimana mungkin Ibunya yang baru pertama kali melihatnya berniatan untuk menjadikannya sebagai seorang menantu. Akan tetapi, diam-diam gadis itu tersenyum dalam hati. Merasa lucu dengan apa yang tengah dia dengar saat ini.
"Jangan bercanda, Bin ... mana mungkin Ibu bilang seperti itu." sahut Bulan dengan lirih.
Dia tidak ingin Bulan merasa tidak enak hati atau merasa kurang nyaman. Baginya kenyamanan Bulan melebihi apa pun.
"Aku boleh bertanya, Bin?" tanya Bulan kepada Bintang dengan sorot mata yang seakan memindai wajah pria yang kini duduk di sebelahnya.
Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya boleh."
"Pertanyaannya agak sensitif sih, emang kamu beneran siap nikah?"
Sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Bulan, pertanyaan yang membuat Bintang terdiam untuk beberapa saat.
Perlahan pria itu tersenyum dan menatap Bulan."Siap ... aku siap menikah." jawab pria itu dengan tegas.
Sementara mendengar jawaban Bintang, Bulan hanya menganggukkan kepalanya. "Kenapa siap? Biasanya kan cowok itu lebih santai dan seolah tidak punya target menikah."
__ADS_1
Pemikiran yang sangat logis sedang Bulan utarakan di sini. Dalam menjalin sebuah hubungan memang biasanya, pihak cowok terkesan santai. Merasa masih muda, dan tidak memiliki target menikah. Bahkan tidak jarang, seorang cowok berkelana mencari cinta mumpung masih lajang.
"Secara usia, usiaku sudah pantas untuk menikah. Secara pekerjaan, aku sudah memiliki pekerjaan tetap yang bisa menghidupi anak dan istriku. Secara emosi, aku juga bukan pria labil, aku adalah pria dewasa yang siap dengan masa depan." jawab Bintang dengan sangat meyakinkan.
Jawaban dari seorang pria yang membuat Bulan tertegun. Pengakuan Bintang ada benarnya, dia adalah pria dewasa bukan pria labil. Pria dewasa yang siap menyongsong masa depannya. Pria dewasa yang sudah memikirkan bagaimana membina rumah tangga. Di saat cowok seusainya masih berpetualangan mencari cinta yang dipikir dianggap tepat, Bintang yang sudah cukup lama single justru terlihat siap untuk melepas masa lajangnya.
"Jawaban kamu meyakinkan sekali, Bin ...." sahut Bulan.
Pria itu hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya. "Aku justru ingin membina rumah tangga. Menikah di usia muda tidak masalah bagiku. Justru saat anak-anakku dewasa nanti, aku masih muda. Masih kuat untuk membesarkan anak." jawab pria itu.
Saat Bulan hendak menjawab dan menanggapi lagi ucapan dari pria itu, tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang. Keduanya lantas sama-sama terdiam hingga suara adzan itu usai.
Setelahnya keduanya sama-sama menundukkan, mengangkat sedikit kedua telapak tangannya, dan mulai melantunkan doa berbuka puasa.
Gadis itu lantas tersenyum dan meneguk terlebih dahulu air putih yang dia bawa dalam tasnya. Kemudian perlahan, mulai menyantap nasi kucing dan beberapa menu yang sudah dia pesan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bintang, dia pun menikmati menu berbuka puasa yang amat sederhana itu.
"Selamat berbuka puasa, Bulan ...." ucap pria itu dengan lembut.
Sementara Bulan yang tengah menggigit tempe mendoannya nampak menghentikan kegiatannya sejenak.
"Eh iya ... selamat berbuka puasa juga ya Bin ...." ucap gadis itu tentunya dengan menunduk malu.
Bintang justru terkekeh geli melihat wajah malu-malu yang ditunjukkan oleh Bulan.
"Pelan-pelan makannya, kalau kurang silakan nambah lagi." ucap pria itu sembari menyodorkan makanan miliknya.
Sebuah tindakan kecil yang justru membuat wajah Bulan bersemu merah. Dia malu dengan perlakuan Bintang saat ini.
Tidak disangka, berbuka puasa hanya dengan menu sederhana khas Angkringan begitu terasa nikmat untuk keduanya. Dengan duduk di trotoar beralaskan tikar membuat buka puasa keduanya terasa istimewa.
__ADS_1