Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Menguatkan Diri


__ADS_3

"Jujur sebenarnya aku takut, Bin ... aku hanya menguatkan diriku untuk melihat semua realita yang terjadi di depan mataku." ucap Bulan sembari menyeka buliran air mata yang di pipinya.


Bintang menoleh kepada Bulan, rasanya pria itu ingin membawa Bulan dalam pelukannya. Menenangkannya dalam rengkuhannya. Akan tetapi, Bintang sangat tahu bahwa hal itu tidak sepantasnya dia lakukan. Dia hanyalah seorang teman bagi Bulan.


"Kuatkan dirimu ya Bulan ... ada aku. Kamu bisa bercerita apapun kepadaku." ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.


Tidak berselang lama, senyuman terbit di sudut bibir Bulan. "Terima kasih ya Bin ... maaf, aku menjadi emosional. Akan tetapi, aku memang iba dengan Tika dan ibunya. Jika ada di posisi mereka aku tidak tahu aku akan sehancur apa, Bin. Terkadang rasanya aku hampir gila dengan semua yang terjadi, tetapi benar apa katamu. Aku akan berusaha menguatkan diriku. Berharap Sang Khalik lah yang akan menguatkanku."


Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Sudah tentu Sang Pencipta Hidup kita akan menguatkan kita. Kita umat-Nya, hamba-Nya, selama kita berserah pada-Nya pastilah kita akan mampu menjalani ini semua. Dia senantiasa mengulurkan tangannya untuk menolong kita bukan? Jika kau merasa hariku tidak baik, ingatlah Tuhan senantiasa bersama kita." ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.


Bulan menganggukkan kepalanya. "Benar sekali Bin ... makasih ya. Jika bukan kepada Tuhan, kepada siapa lagi ku serahkan hidupku ini."


Memang demikianlah hubungan antara Pencipta dengan Ciptaan. Pencipta yang berdaulat penuh atas semua yang dia ciptakan di alam semesta ini. Sementara ciptaan hanya bergantung dan menyerahkan diri kepada Pemilik Agung yaitu Tuhan itu sendiri.


Dunia boleh berubah, bahkan kondisi tidak baik-baik saja, tetapi cukuplah bersama Allah kita bisa melewati semuanya. Itulah pelajaran berharga yang didapatkan Bulan dan Bintang siang ini.


Di hadapannya memang terhadap Tika dan Ibunya tengah tersedu sedan sembari memeluk nisan di atas pusara yang belum sepenuhnya mengering itu. Namun demikianlah hidup manusia. Sering kali mata kita diperhadapkan dengan realita yang menyesakkan, tetapi ada Allah yang Agung yang akan menolong dan menguatkan kita.


"Aku tidak melakukan apapun, Bulan ... jadi jangan terus-menerus berterima kasih." ucap Bintang dengan menggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tidaklah gatal.


"Tetap saja, Bin ... aku merasa kamu banyak membantuku. Perkataanku juga banyak membuatku untuk semakin merefleksi diriku." ungkap Bulan dengan serius kali ini.


Memberanikan diri, Bintang mengangkat satu tangannya kemudian menepuk pundak Bintang. "Aku yakin kamu kuat."


Sebatas tepukan dan usai itu, Bintang menarik tangannya dari pundak temannya itu.


Sementara Bulan pun juga nampak kaget saat Bulan menepuk pundaknya. Selama ini keduanya memang tidak pernah melakukan kontak fisik. Paling hanya sebatas bersalaman tangan, tetapi itu pun tidak setiap saat.

__ADS_1


Menutupi makna tepukan tangan Bintang di bahunya. Bulan pun mengangguk. "Aku akan berusaha terus menguatkan diriku." ucap Bulan dengan lirih.


Waktu pun berlalu, Bulan dan Bintang masih setia menunggu Tika dan Ibunya. Keduanya hanya berteduh di bawah pohon bunga Kamboja. Terkadang keduanya berbicara, terkadang keduanya diam. Namun tak dipungkiri, Bulan merasa nyaman dengan Bintang. Benar yang dikatakan oleh orang tuanya semalam bahwa Bintang adalah sosok yang baik.


Saat mereka sama-sama diam dan pandangan mereka hanya tertuju pada Tika dan Ibunya, tiba-tiba ada suara yang menyapa keduanya.


"Hai Bulan ... Bintang ... ngapain kalian di sini?" sapa seorang gadis yang tengah mengantar kerabatnya mengunjungi makam itu.


Bulan dan Bintang pun menoleh ke arah sumber suara. "Oh, hai juga Agni?" sapa Bulan. Sementara Bintang hanya menganggukkan kepalanya.


Agni adalah teman SMA mereka, gadis yang pernah mengambil foto Bulan dan Bintang, kemudian mengirimkannya kepada Surya.


"Ngapain kalian di sini?" tanya Agni dengan rasa curiga.


"Kami mengantar muridku dan ibunya ke makam suaminya." jawab Bulan.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya, benar. Anak kecil itu adalah muridku. Kamu sendiri ngapain ke sini?"


Agni menunjuk pada wanita paruh baya yang tengah menabur bunga di salah satu makam. "Aku mengantar kerabat. Kamu masih sama Surya, Bulan?" tanya Agni dengan tiba-tiba.


"Iya, aku masih bersamanya. Akan tetapi, sekarang kami menjalin Long Distance Relationship karena Surya sekarang berada di Makassar." jawab Bulan dengan jujur.


"O ... aku kira sekarang kamu jalan sama Bintang. Karena udah lama enggak keliatan jalan sama Surya." ucap Agni.


Bintang pun yang semula hanya diam, nampak terusik dengan ucapan Agni. "Kami hanya berteman." ucap Bintang dengan tegas.


Bulan pun menoleh pada pria yang saat ini berdiri di sebelahnya. "Ya, Bintang benar. Kami hanya berteman."

__ADS_1


Namun tidak demikian dengan Agni, gadis itu justru memperlihatkan ekspresi yang berbeda. "Sorry ya, aku kira kalian berdua jalan bareng."


Bulan hanya menganggukkan kepalanya. "Iya... gak papa. Mungkin karena kami deket, membuat orang-orang mengira kami jalan bareng." sahut Bulan.


Tidak berselang lama, kerabat yang diantar Agni pun sudah selesai. "Baiklah Bulan dan Bintang, aku duluan ya." pamitnya sembari melambaikan tangannya kepada Bulan dan Bintang.


Usai kepergian Agni, Bulan nampak menghembuskan napasnya dengan lega. Entah mengapa ucapan Agni nampak menyudutkannya.


"Sorry ya Bin ... dikira Agni malahan kamu jalan sama aku." ucap Bulan dengan perasaan yang tidak enak.


Bintang hanya tersenyum. "Gak apa-apa. Cuma omongan orang aja. Lagipula kita hanya berteman bukan?" tanya Bintang sembari membenarkan posisi masker di hidungnya.


"Iya, kita berteman." jawab Bulan dengan tersenyum dan tentunya lega.


Lama menunggu, akhirnya Tika dan Ibunya telah selesai. Keduanya berjalan ke arah Bulan dan Bintang.


"Sudah Bu?" tanya Bulan kepada Ibunya Tika.


"Iya sudah, terima kasih nggih Bu Guru dan Mas Bintang sudah mau mengantar kami." ucap Ibunya Tika dengan tulus.


"Sama-sama Bu, alangkah lebih baik jika saling tolong menolong. Itulah hakikat kehidupan manusia, tolong menolong, bantu membantu." jawab Bintang sembari menganggukkan kepalanya.


"Saya sungguh bersyukur di saat saya kesusahan masih ada orang-orang hebat seperti Bu Guru dan Mas Bintang yang mau membantu saya dan keluarga. Saya tidak bisa membalas apa-apa, tetapi saya akan berdoa untuk Bu Guru dan Mas Bintang semoga selalu sehat, bahagia, dan dilindungi Allah." ucap Ibunya Tika dengan begitu tulus.


"Amin...." jawab Bulan dan Bintang bersamaan.


"Baiklah Bu, mari kami antar pulang." ucap Bintang sembari berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh di hadapannya.

__ADS_1


Kebaikan hati manusia di saat seperti ini sangat dibutuhkan oleh orang lain. Kebaikan dan ketulusan kita, membuat orang yang sedang terpuruk dan putus asa mampu bangkit dan menatap ke depan. Jangan putus untuk selalu membantu sesama.


__ADS_2