Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Ngabuburit Berdua


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, sore ini usai selesai mengerjakan seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan IT di rumah. Bintang berniat untuk jalan-jalan dan sedikit menghirup udara segar. Pria itu memilih untuk berjalan-jalan di jalan protokol Malioboro.


Masa pandemi yang membuat area Malioboro begitu lengang, bahkan beberapa penjual yang biasanya berjualan di sepanjang trotoar juga kini terasa lengang, hanya satu atau beberapa pedagang saja yang berjualan. Pria itu memilih memarkirkan sepeda motornya dan mulai berjalan kaki. Sesekali dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Suasana yang begitu kontras, dahulu tempat ini seolah menjadi jantung perekonomian kota Jogjakarta. Sementara kini, semua terasa begitu lengang.


Menikmati sore dalam kesendirian, langkah kaki yang terus berjalan, akhirnya Bintang memilih duduk sejenak di sekitar Titik Nol Kilometer Kota Jogjakarta. Dengan perempatan besar di mana begitu banyak kendaraan berlalu lalang itu, Bintang hanya memilih duduk di salah satu bangku taman dan memandang Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berdiri dengan gagah di sudut jalanan.


Sejauh mata memandang, pria itu hanya melihat berbagai macam kendaraan yang nampak berlalu lalang. Namun, dalam sepasang netra yang memandang itu dalam sepersekian detik, sepasang netra itu menangkap bayangan gadis berparas ayu bernama Bulan Maheswari.


Seakan terpikat, nyatanya hatinya memang telah jatuh terlalu dalam. Seakan mengerjap, nyatanya sosok itu sudah lama mencuri hati dan matanya. Hingga akhirnya, saat gadis itu lewat di depan matanya, dengan segera Bintang memanggilnya.


"Bulan ...." disapanyalah nama gadis itu.


Satu sapaan yang membuat sang gadis menghentikkan langkah kakinya. Kepala hingga leher gadis itu menoleh kepada sumber suara, betapa Bulan cukup terkejut saat melihat sesosok pria yang selama ini selalu bertemu dengannya tanpa disengaja.


"Eh, kamu Bin ...." disapanya balik pria itu seolah dirinya tercekat.


Sebuah senyuman terbit begitu saja dari sudut bibir Bintang. "Iya ...ini aku. Bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanya Bintang yang kemudian berdiri tepat di hadapan Bulan.


Sesekali Bulan nampak menggaruk kepalanya, dia merasa Kota Jogjakarta ini begitu luas, tetapi bagaimana bisa beberapa waktu terakhir di mana tempat yang dia datangi selalu mempertemukannya dengan Bintang. Gadis itu hanya bergumam dalam hati dan mencoba tersenyum kepada pria yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.


"Aku sedang ngabuburit ... sebatas jalan-jalan sore saja sebenarnya, sama nanti mau sekalian beli Bakpia Pathuk." jawab Bulan dengan jujur.


Bintang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Sekarang kamu mau jalan-jalan ke arah mana? Aku temenin ya. Aku juga sendirian, kalau ada temennya serasa lebih enak." ucap pria itu yang seolah mendapatkan peluang untuk bisa jalan-jalan sore bersama, sekaligus ngabuburit bersama Bulan.

__ADS_1


Ingin menolak rasanya tidak enak, maka Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Aku mau ke toko buku yang berada ke arah Keraton itu. Hanya melihat-lihat sih sebenarnya, sapa tau menemukan buku kuno yang bagus." jawab Bulan sembari menunjuk ke arah jalan menuju Keraton Kasultanan Jogjakarta.


"O ... ke sana. Yuk, aku temenin jalan." sahut pria itu dengan wajah yang terlihat sangat bersemangat.


Hingga akhirnya keduanya berjalan perlahan. Menatapi trotoar yang memanjang sembari menghirup udara kota Jogjakarta, dan sapaan angin di sore hari yang menyejukkan keduanya.


"Kenapa kamu mencari buku kuno,Bulan?" Bintang berinisiatif untuk bertanya mengapa Bulan tertarik untuk mencari sebuah buku kuno.


Gadis yang masih berjalan itu hanya tersenyum. "Beberapa buku kuno mengandung banyak nilai seni dan sejarah, buku seperti itu kadang tidak dicetak oleh penerbit besar. Hanya penerbit indie saja yang masih memungkinkan mencetak buku kuno. Jadi, aku terpikir saja untuk mencarinya. Mencari waktu di sela-sela rutinitas untuk melakukan apa yang aku sukai."


Sekilas Bintang tertegun mendengar jawaban dari Bulan, di tengah-tengah berbagai rutinitas dan aktivitas memang membuat seseorang melupakan apa yang dia sukai, dan di sini seolah Bulan tengah memberitahunya untuk meninggalkan sejenak rutinitasnya dan melakukan apa yang disukai. Sebuah nilai dari cara menikmati hidup dengan sederhana.


Sementara bagi Bulan, dia hanya memang mengisi aktivitasnya. Secara khusus, sekarang hubungannya dengan Surya dalam fase jeda. Gadis itu memiliki banyak waktu untuk melakukan apa yang dia sukainya. Jikalau dulu, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk memegang ponsel dan melakukan chat atau panggilan seluler, kini semua waktu itu dia alihkan untuk melakukan apa yang menjadi hobi dan kesukaannya.


Awalnya memang ada yang hilang saat seseorang selalu bersinggungan dengan ponsel di tangan, membalas chat dari seseorang yang keberadaannya memang kita nantikan dan rindukan, kemudian orang tersebut memutuskan jeda dan komunikasi terputus begitu saja. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu Bulan tahu banyak hal dalam hidup yang dia abaikan, banyak hobi yang tidak dia nikmati dan kerjakan karena hanya berfokus pada Surya dan ponselnya saja.


"Di mataku, kamu begitu unik Bulan ... saat seseorang hanya menikmati rutinitas hingga terbenam di dalamnya, kamu justru bisa melakukan apa yang kamu sukai dan menikmatinya." puji Bintang dengan serius.


Akan tetapi, Bulan justru mengedikkan bahunya. Dia berusaha meyakinkankan dirinya sendiri bahwa apa yang Bintang katakan bukan sekadar gombalan semata. Wanita begitu mudah tergoda, dan Bulan tidak ingin jatuh hanya lantaran gombalan dari seorang pria. Namun, entah kenapa sorot mata dan raut wajah Bintang menunjukkan hal yang sebaliknya, keseriusan dan pujian yang tulus benar-benar terpampang nyata di sana.


"Aku biasa saja kok, Bin ... tidak ada unik-uniknya sama sekali. Sudah sampai, aku mau lihat di toko buku itu dulu ya." ucapnya sembari menunjuk salah satu toko buku yang berada tidak jauh di depannya.


Gadis itu mulai mendekat dan melihat satu per satu judul buku yang dijual di toko buku itu. Hingga kemudian, tangan kanannya terulur untuk mengambil satu buku mengamati covernya, lalu membaca sinopsisnya yang berada di cover bagian belakang. Beberapa saat gadis itu hanya diam, matanya saja yang bergerak dan sesekali berkedip menandakan mata itu tengah membaca.

__ADS_1


Sementara tidak jauh di sisinya, Bintang justru mengamati pemandangan indah yang masuk ke dalam retina matanya.Seorang gadis cantik tengah membaca sebuah buku-buku kuno. Sangat indah, pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.


Merasa buku tersebut bukan yang dia cari, Bulan kembali menaruh buku itu kemudian berjalan perlahan dan melihat-lihat beberapa buku lainnya. Bukan hanya buku sejarah Jawa yang dijual, terdapat majalah kuno, dan juga beberapa karya seni lainnya yang bisa ditemui di tempat ini.


Hingga kini Bulan kembali berhenti saat melihat buku dongeng cerita anak-anak karya Maestro dongeng Anak dunia, yaitu Hans Christian Andersen. Buku cetakan lama itu nyatanya menumbuhkan rasa penasaran Bulan. Hanya melihatnya sekilas saja, Bulan lantas bertanya berapa harga buku tersebut.


Tidak menunggu waktu lama, dia sudah membayar buku itu dan mendekapnya di depan dada dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Kenapa justru membeli buku dongeng anak-anak?" tanya Bintang yang jujur saja sedikit bingung saat Bulan menjatuhkan pilihan dengan membeli buku dongeng tersebut.


Bulan pun tersenyum. "Di waktu kecil, aku suka sekali buku ini. Beberapa waktu lamanya aku mencoba mencari buku ini dan ingin membelinya, dan sekarang lihatlah aku menemukannya. Aku benar-benar bahagia."


Bintang pun turut tersenyum. "Hanya hal sederhana rupanya bisa membuat Bulan begitu bahagia."


Waktu kian sore, matahari mulai terbenam di ufuk Barat menghiasi warna jingga di angkasa. Kini Bulan dan Bintang sama-sama berjalan keluar dari toko buku tersebut, lantas kembali ke tempat parkiran sepeda motor mereka.


"Mau sekalian buka puasa bersama? Rasanya kita sudah ngabuburit bersama tidak afdol jika tidak dilanjutkan dengan buka puasa bersama." ucap Bintang.


Sementara Bulan kembali menimbang mengapa semesta dengan mudahnya mempertemukannya dengan Bintang. Gadis itu nampak diam sebelum mengeluarkan suaranya.


Hanya anggukan samar yang Bulan berikan nyatanya bisa membuat Bintang tersenyum lebar.


"Oke boleh ...." sahut Bulan dengan cepat.

__ADS_1


Sebuah kata yang membuat Bintang bahagia. Rencana dadakannya untuk sebatas jalan-jalan sore di jalan Malioboro justru membuatnya bertemu dengan Bulan. Lebih dari itu, dia bisa menikmati jalan-jalan sore berdua dan akan berlanjut dengan buka puasa bersama.


Kebahagiaan yang seolah membuat pria itu meloncat gembira.


__ADS_2