
Makassar, April 2020
Hari itu, Surya begitu cemas. Baru saja dia menerima panggilan telepon dari Ibunya yang mengatakan bahwa dia usai bertemu dengan Bulan di warung Mie Ayam bersama dengan Bintang.
Akhir-akhir ini, Surya begitu sensitif dengan nama "Bintang." Mereka memang berteman baik, tetapi seolah ada sesuatu yang disembunyikan Bintang darinya. Terlebih saat Ibunya mengabarkan bahwa Bulan tengah makan berdua bersama Bintang, hati Surya rasanya tercubit.
Jikalau bisa ingin sekali Surya segera pergi ke Jogja dan menemui Bulan. Akan tetapi, rencana Surya agaknya cuma sekadar rencana karena saat ini pun dia tak pulang. Pertama kali dalam sejarah penerbangan Indonesia, Pemerintah memutuskan bahwa Pesawat Penumpang tidak akan terbang.
Pria itu begitu galau dengan memegang gadget di tangannya, berusaha mencari tiket penerbangan. Sayangnya, semua maskapai tidak ada yang terbang untuk mengurangi kasus penyebaran covid.
Bagaimana caraku pulang Bulan? Jika semakin lama kita tidak bertemu apakah hatimu tetap untukku?
Merasa buntu, Surya akhirnya hanya bisa kembali menghubungi Bulan. Menyampaikan isi hatinya dan bertanya langsung kepada Bulan walau hanya sekadar melalui panggilan telepon.
Bulan
Berdering
"Halo Bulan ...." sapa kepada kekasih hatinya yang tinggal di kota Gudeg, Jogjakarta.
"Iya, halo Surya ... ada apa?" tanya Bulan dari seberang sana.
Surya sejenak menghela nafasnya, menata emosinya sebelum mengajukan pertanyaan kepada Bulan. "Kamu baru ngapain?" tanyanya sebelum menanyakan hal yang lebih penting kepada Bulan.
"Aku baru pulang, Surya. Baru selesai bersih-bersih." jawab Bulan.
__ADS_1
Surya mendengarkan penjelasan Bulan, pria itu duduk sembari memijat pangkal hidungnya. "Kenapa sampai sesore ini?"
"Oh, itu karena aku tadi abis dari rumah muridku, mengantarkan dia dan ibunya ke makam suaminya. Kenapa Surya?"
"Apa tadi kamu bertemu dengan Ibuku?" tanya Surya dengan hati-hati.
Di seberang sana Bulan pun mrnganggukkan kepala. "Iya, aku tadi bertemu dengan Ibu waktu aku membeli Mie Ayam dengan Bintang."
Hati Surya rasanya tercubit saat Bulan mengatakan hal yang sebenarnya bahwa dia membeli Mie Ayam dengan Bintang. Di satu sisi Surya merasa Bulan telah bersikap jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu darinya. Akan tetapi, mendengar kekasihnya makan berdua dengan pria lain kenapa ada rasa tidak suka.
"Tadi Ibu memberitahuku kalau bertemu kamu sedang makan Mie Ayam dengan Bintang di sana. Apa sekarang kamu memang lebih sering bertemu Bintang? Apa tidak bisa kamu menjauhinya?" ucap Surya yang mengatakan keinginannya supaya Bulan bisa menjauhi Bintang.
Di seberang sana Bulan pun mengernyitkan keningnya. Mengapa Surya memintanya untuk menjauhi Bintang? "Kami hanya kebetulan bertemu, Surya. Apa kamu cemburu padaku dan Bintang? Bukankah Bintang juga adalah temanmu."
Surya menghela nafasnya kasar. "Kita menjalani hubungan jarak jauh, Bulan. Kita hanya bisa saling percaya satu sama lain. Jika kamu terlalu sering bertemu Bintang, apa hanya sedikit takut saja."
Mendengar penuturan Surya, Bulan pun merasa bahwa pacarnya di sana sedang cemburu. Kali ini, Bulan pun memilih untuk menjelaskan kepada Surya.
"Aku pun di sini mempercayai kamu, Surya. Bahkan di sana kamu dekat siapa saja aku bisa percaya, karena dalam cinta ada percaya bukan?" tanya Bulan dengan perlahan.
"Aku di sini tidak dekat dengan siapa pun, Bulan. Hanya beberapa kali saja aku bertemu dengan Arunika. Sementara di sana, kamu berapa kali bertemu Bintang. Aku akui, aku cemburu, Bulan."
Satu pengakuan yang diucapkan Surya nampaknya berpengaruh bagi Bulan. Akan tetapi, Bulan nyatanya masih tidak percaya kenapa Surya seolah selalu cemburu saat dia bersama dengan Bintang. Padahal di SMA dulu, mereka sering mengobrol bersama.
"Baiklah aku akan menjauhi Bintang, jika itu maumu. Namun, jika kami berdua bertemu secara tidak sengaja, itu bukan kesalahanku, Surya. Karena sejujurnya aku pun tidak pernah berhubungan dengan Bintang. Kami selalu bertemu secara tidak sengaja." Ucap Bulan dengan jujur. Pada kenyataannya memang dia selalu bertemu dengan Bintang secara tidak sengaja.
__ADS_1
Surya kali ini mencari earphone dan memasangkannya di telinganya. Sembari berbaring dia mendengarkan ucapan Bulan. "Ya Bulan, aku percaya. Terima kasih karena mau mengertiku. Aku sebenarnya ingin mengambil cuti dan pulang ke Jogja, tetapi sayangnya semua pesawat penumpang tidak mengudara. Kenapa rasanya semua pintu tertutup bagiku untuk menemuinya, Bulan."
Terdengar nada yang nampak kesal dalam ucapan Surya. Namun, bagaimana lagi di keadaan yang serba susah, semua orang diminta untuk bersabar. Termasuk bersabar untuk menunda bertemu dengan keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi.
Bulan pun mendengarkan ucapan Surya, gadis itu berdiri di tepi jendela dengan mata yang menerawang ke angkasa lain. "Tidak apa-apa Surya, jika ada waktu dan kesempatan, kamu bisa mengajukan cuti dan pulang ke Jogja. Aku akan menunggu. Sebisaku."
"Sampai kapan kamu bisa bertahan Bulan?" tanya Surya dengan perasaan cemas dan rindu yang berkecamuk di dalam hatinya.
Bulan menggelengkan kepalanya seolah tengah berbicara dengan Surya saat ini. "Entahlah ... aku tidak bisa menjanjikan apapun. Aku sejak awal berkata bahwa aku hanya berusaha menjalani ini semua Surya. Saat ini memang pintu sedang tertutup, dan kita diminta bersabar. Namun, saat pintu kembali terbuka apakah kamu akan pulang Surya?" kali ini seolah Bulan memberi tantangan kepada Surya apakah pria itu akan pulang saat pesawat penumpang diperbolehkan terbang lagi.
Surya pun menganggukkan kepalanya. "Tentu saja ... aku akan mengajukan cuti dan akan menemuimu kembali. Tunggu aku kembali, Bulan."
Di dalam hatinya, Bulan hanya bisa tersenyum getir.
Sudah sekian bulan, Surya...
Kapan kamu akan kembali?
Berapa lama lagi aku harus menunggu?
Apakah kita akan terus menjalin hubungan tanpa sua?
Bulan meyakinkan hatinya sendiri, dalam lubuk hatinya dia berharap pintu terbuka dan dia bisa kembali bertemu dengan Surya merencanakan kembali masa depan mereka berdua. Mengambil langkah selanjutnya untuk hubungan mereka berdua.
"Jangan memberiku janji, Surya. Jika memang mungkin, pulanglah. Banyak yang harus kita bicarakan bersama Surya, jika berbicara melalui panggilan telepon bisa mengakibatkan salah paham. Bahkan rencana masa depan kita berdua juga harus kita diskusikan bersama bukan?" tanya Bulan kepada Surya.
__ADS_1
Surya pun di sana menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku tidak berjanji. Aku akan berusaha membuktikannya, Bulan. Percayai aku. Saat pintu tertutup seperti ini, aku sungguh tidak bisa menemuimu. Aku harap kita berdua sama-sama bersabar. Hati kita sama-sama kuat. Sekalipun kita menjalani hubungan jarak jauh, semoga hubungan kita tetap berlayar dan tidak karam."