Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Tidak Ada Kesempatan Kedua


__ADS_3

Keesokan paginya, Surya berkeinginan untuk mengunjungi kediaman Bulan. Memang semalam dengan kedatangan orang tua Bulan ke rumahnya sudah cukup menjadi bukti bahwa hubungannya dengan Bulan harus berakhir. Itu pun tak luput dari tindakan gagabah yang telah dia lakukan sebelumnya. Setiap dentingan jam, pria itu merasa gelisah ingin segera menemui Bulan.


Sayangnya, niatannya untuk segera bertemu urung dilakukan karena Bulan masih mengajar di Sekolah. Memang selama masa pandemi, seluruh siswa melakukan sekolah dari rumah dengan menggunakan teknologi internet. Akan tetapi, seluruh guru dan pengajar tetap harus masuk ke sekolah menunaikan kewajibannya mengajar secara online dari sekolah. Itu pun yang Bulan lakukan, nyaris setiap hari Ibu Guru itu selalu berangkat pagi menuju sekolah tempatnya mengajar, dan pulang tengah hari.


Menjelang sore, barulah Surya mulai menghidupkan sepeda motornya. Dengan diam, pria itu kembali menaruh kotak merah beludru yang di dalamnya terdapat cincin pertunangannya yang dikembalikan oleh pihak orang tua Bulan kemarin ke dalam saku celananya. Dengan harapan, mungkin saja jika dia datang baik-baik dan meminta maaf, Bulan akan menerimanya.


Mengumpulkan seluruh keberanian dan kepercayaan dirinya, Surya mendatangi rumah Bulan.


"Assalamualaikum ... Selamat sore." sapa Surya begitu sudah memasuki gerbang rumah Bulan.


"Walaikumsalam ...." sahut Bu Sundari yang rupanya tengah berada di depan rumah dan menyirami tanamannya di sana.


"Sore Bu ... maaf, saya datang ke sini ingin bertemu dengan Bulan."


Layaknya seseorang yang permisi dan datang berkunjung, Surya pun mengatakan niatannya untuk bertemu dengan Bulan.


Nampak sedikit ragu, akhirnya Bu Sundari pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia mempersilakan Surya untuk duduk terlebih dahulu.


"Duduk dulu, biar Ibu panggilkan Bulan." ucap Bu Sundari yang kemudian masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga menuju kamar Bulan.

__ADS_1


"Nduk, di luar ada Surya yang sedang mencari kamu." ucap Bu Sundari yang memberitahu kepada Bulan bahwa di luar ada Surya yang sedang menunggunya.


Gadis itu nampak ragu, haruskah dia kembali menemui Surya. Dalam hatinya, dia enggan untuk menemui Surya. Bulan lantas melihat kepada Ibunya. "Apa harus Bulan temui ya Bu?" tanyanya dengan lirih.


Sebagai seorang Ibu, Bu Sundari pun cukup tahu bahwa Bulan nampak enggan untuk bertemu lagi dengan Surya. Maka dari itu, Bu Sundari pun menepuk pundak putrinya itu.


"Sebagai tuan rumah yang sopan ... tidak apa-apa ditemuin dulu. Lagipula, sekalipun semalam Bapak dan Ibumu ini sudah menyatakan langsung kepada pihak keluarga Surya, tetapi masalahmu tetap harus diselesaikan dengan baik-baik. Temui dia, dan dengarkan dia sejenak." ucap Bu Sundari yang menasihati Bulan kala itu.


Mendengakan apa yang dinasihatkan oleh Ibunya, Bulan masih saja terlihat enggan. "Kalau Surya kasar lagi kepada Bulan, bagaimana Bu?" tanya Bulan kepada Ibunya itu.


"Tidak perlu takut Bulan ... ini rumahmu sendiri. Jika Surya bertindak kasar lagi, kamu cukup berteriak dan Ibu akan keluar untuk membantumu. Jangan merasa takut di rumahmu sendiri." ucap Bu Sundari meyakinkan Bulan supaya putrinya itu tidak takut.


"Ada apa?" tanya yang terdengar begitu to the point kepada Surya. Seolah tidak ingin berlama-lama berhadap dengan pria yang pernah mengisi hari-harinya selama 6 tahun lamanya.


Surya nampak mengamati Bulan sejenak, sebelum akhirnya dia membuka suaranya."Begini Bulan, pertama aku datang ke mari untuk minta maaf. Maaf buat kesalahanku kemarin, jujur saja kemarin aku begitu emosi dan tidak bisa menahan diriku hingga akhirnya aku justru melukaimu." akunya yang meminta maaf kepada Bulan.


Dengkusan dan helaan napas yang Bulan keluarkan. Baginya memang sangat tidak mudah memaafkan Surya kemarin. Tindakan kasarnya hingga melukai sudut bibirnya, bagi Bulan justru membuat gadis itu serasa dilecehkan. Akan tetapi, tidak ingin berlam-lama, maka Bulan pun mengangguk.


"Iya aku maafkan." jawabnya dengan singkat.

__ADS_1


Mendengar bahwa Bulan telah memaafkannya, Surya merasa lega. Akhirnya gadis yang sudah lama dicintainya dan menemaninya sejak di bangku putih abu-abu itu mau memaafkannya.


"Karena kamu sudah memaafkan, apakah mungkin ada kesempatan kedua untukku? Masukku, kita bisa memperbaiki hubungan kita berdua lagi. Memulainya dari awal?" tanya Surya dengan lirih. Pria itu nampak menatap Bulan dengan matanya.


Gelengan kepala secara samar justru dilakukan oleh Bulan. "Sekalipun aku memaafkanmu, tetapi maaf ... kita tidak bisa bersama lagi." sahut Bulan dengan lirih.


Jawaban yang Bulan berikan adalah ucapan layaknya dengan sebuah belati yang menghunus dengan tajam dadanya. Pria itu nampak menundukkan wajahnya, dia tidak mengira bahwa pernyataan maaf, tetapi tidak membuka pintu kesempatan baginya.


"Apa yang membuatmu tidak bisa memulai kembali lagi bersamaku, Bulan? Bukankah hubungan yang sudah berjalan selama 6 tahun lamanya sangat sayang jika harus berakhir begitu saja." ucap Surya yang tentunya meminta penjelasan dari Bulan.


Dari balik masker berwarna putih yang saat dia kenakan, gadis itu tersenyum getir."Lama tidaknya sebuah hubungan tidak akan menjamin kualitas sebuah hubungan itu sendiri. Kita memang bersama selama 6 tahun, tetapi nyatanya selama 6 tahun seolah hanya aku yang menunggu, hanya aku yang bersabar. Puncaknya saat kamu mengatakan jeda, aku pun yang menunggu, menanti tanpa ada jawaban yang pasti. Lalu, saat kemarin semuanya terjadi, aku rasa, kita tidak bisa bersama lagi Surya. Aku merasa di titik kulminasi sekarang ini. Mencintaimu, menunggumu, semua membuatku berada di titik puncak. Semua keegoisan, keposesifan, dan juga kekasaran yang kamu tunjukkan padaku membuatku memilih untuk mengakhir hubungan ini." penjelasan Bulan dengan begitu panjangnya kepada Surya.


Ada perasaan lega, saat dia berani mengatakan bahwa dia berada di titik puncak untuk bisa mencintai dan menunggu. Bulan merasa, tidak ingin bersama pria yang akan memintanya yang terus menunggu tiada pasti. Pria yang kemarin bertindak kasar menciumnya dengan paksa. Sungguh, Bulan tidak menginginkannya. Dia ingin memiliki hubungan dengan kualitas yang sehat.


"Jadi tidak ada kesempatan kedua bagiku?" tanya Surya sekali lagi kepada Bulan.


Gadis nampak menggigit bibir bagian dalamnya, dia harus memiliki ketetapan hati sekarang ini dan tidak boleh goyah lagi.


"Maaf ... Maaf Surya. Kurasa, tidak ada kesempatan kedua. Lebih baik cukup sampai di sini. Kisah kita memang telah usai, Surya. Maaf." ucapnya sembari menundukkan kepala dengan serasa hatinya di remas saat ini. Kenyataan pahit harus terjadi, lamanya sebuah hubungan memang tidak menjamin kualitas hubungan itu sendiri. Itu yang sedang Bulan lakukan saat ini. Mengorbankan waktu 6 tahun, dengan harapan dia tidak terkekang dalam sebuah hubungan yang hanya membuatnya selalu menunggu.

__ADS_1


__ADS_2