
Surya sungguh merasa kalah di mata Bulan. Sekalipun mulutnya memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia merasa bahwa Bintang sudah menjadi seorang pahlawan bagi Bulan. Tentunya situasi ini sangat tidak enak bagi Surya.
Sebagai seorang pacar, bahkan sebagai tunangan Surya sudah tentu ingin menjadi seseorang yang diandalkan Bulan. Dia ingin menjadi seseorang yang akan pertama kali, Bulan hubungi jika dia membutuhkan sesuatu. Sayangnya saat Bulan terpuruk dan tengah berjuang untuk sembuh, justru dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Bulan.
Sedih sudah pasti. Kecewa juga benar adanya. Namun, lagi-lagi posisi Surya yang berada di Makassar seolah membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal sudah pasti dia akan senang hati menolong Bulan.
Usai mengakhiri teleponnya dengan Bulan, kali ini Surya berencana untuk menghubungi Bintang. Walaupun ragu, tetapi Surya harus menegaskan bahwa temannya itu tidak akan memanfaatkan keberadaan dirinya yang saat ini jauh untuk mendekati Bulan. Dengan cepat, Surya mencari nomor telepon Bintang dan menunggu panggilan telepon itu tersambung.
Bintang
Berdering
"Halo Bin...." sapanya saat panggilan telepon itu tersambung.
"Iya ... ada apa Surya? Tumben nelpon aku?" tanya Bintang yang sejujurnya juga kaget saat Surya menghubunginya.
Surya nampak menggaruk kepalanya yang sejujurnya tidak gatal sebelum berbicara dengan Bintang. "Bin, apa benar kamu yang udah belikan makanan selama Bulan menjalani isolasi mandiri?" tanya Surya perlahan.
Kali ini Surya tidak bolehkah emosi dan juga gegagah. Bagaimana pun Bintang adalah temannya, Surya harus berhati-hati saat ini.
"Iya ... benar Surya. Aku yang membelikan makanan sehari-hari buat Bulan. Dia menjalani isolasi mandiri, tidak mungkin dia keluar dan membeli makanan sendiri kan." jawab Bintang.
__ADS_1
Bintang memang menjawab secara logis. Mereka yang terpapar Covid dan melakukan isolasi mandiri seperti orang yang diasingkan, tidak boleh berhubungan dengan orang lain. Maka dari itu, Bintang memang berinisiatif sendiri untuk membelikan makanan bagi Bulan.
"Kenapa kamu repot-repot Bin?" tanya Surya.
Bintang nampak mengernyitkan keningnya saat Surya bertanya kenapa dirinya harus repot-repot. Sungguh Bintang tahu apa motif Surya menghubunginya sekarang ini.
"Aku tidak repot, Sur ... aku ikhlas menolongnya. Lagipula bukan hanya pada Bulan, siapa pun yang membutuhkan bantuan sudah pasti aku akan menolongnya." kali ini Bintang menjawab dengan sungguh-sungguh.
Di sisi lain Surya mendengarkan jawaban Bintang dengan perlahan. "Bisakah kamu berhenti membelikan makanan untuk Bulan? Biar aku saja yang membelikan makanan untuk Bulan di sisa masa isolasi mandirinya."
Surya mengatakan dengan lugas bahwa dia ingin menggantikan posisi Bintang yang selama sepuluh hari ini telah membelikan makanan untuk Bulan. Entah mengapa, Surya begitu ingin menjadi seorang pahlawan bagi tunangannya sendiri.
Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... mulai besok kamu tidak akan membelikan makanan untuk Bulan. Sebagai gantinya ku harap kamu membelikan makanan untuk Bulan. Dia di rumah hanya sendirian, dan tidak mungkin keluar rumah untuk membeli makanan sendiri."
"Matur nuwun (terima kasih dalam bahasa Jawa) Bin ... mulai besok aku akan membelikan makanan untuk Bulan." jawab Surya yang lega karena mulai besok dia bisa menjadi seseorang yang berguna untuk Bulan.
Kali ini, Surya ingin menanyakan hal lainnya kepada Bintang. "Bin, boleh aku bertanya satu hal?" tanyanya dengan penuh pertimbangan.
Bintang pun menghela napasnya dengan kasar. Setidaknya Bintang tahu apa yang akan Surya tanyakan. Akan tetapi, Bintang tidak mau mendahului Surya. "Mau tanya apa? Tanya aja, kayak sama siapa." jawab Bintang.
"Apa kamu menyukai Bulan? Jawab jujur saja, Bin...."
__ADS_1
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Surya. Ada sesuatu yang harus diluruskan. Ada sesuatu yang harus ditemukan jawabannya. Surya tidak ingin menunda-nunda, karena itulah dia bertanya langsung kepada Bintang.
Sementara bagi Bintang, tebakannya tidak meleset. Tebakannya tepat. Setelah sekian tahun berlalu akhirnya Surya menanyakan hal ini kepadanya.
"Ya, Surya ... Aku menyukai Bulan sudah lama. Jauh sebelum kamu menyukainya." Bintang menjawab dengan tegas.
Bintang bukan sosok pria pengecut yang enggan mengakui perasaannya sendiri. Maka dari itu, Bintang mengakui bahwa dia memang menyukai Bulan. Lebih mencengangkan ternyata Bintang telah menyukai Bulan sejak lama.
Tercengang. Itulah perasaan Surya saat ini. Dia tidak menyangka bahwa Bintang telah menyukai Bulan sejak lama, bahkan sebelum dia menyukai Bulan. Namun, sejak kapan? Apakah sebelum mereka melihat Bulan untuk pertama kalinya di Angkringan Lek Man saat itu, Bintang sudah pernah melihat Bulan.
Tiba-tiba saja banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepala Surya. Tebakannya pun benar, Bintang selama ini memang menyukai Bulan. Kali ini, temannya itu mengakui secara terang-terangan.
Jujur Surya merasa posisinya tidak aman kali ini. Bisa saja, Bintang akan mengambil Bulan darinya kapan pun.
"Sejak kapan Bin? Kamu ingin perjanjian kita sejak SMA kan? Bahwa kita tidak akan menyukai satu gadis yang sama. Apakah kamu lupa? Surya mengingatkan Bintang kepada janji mereka berdua sejak SMA bahwa mereka berjanji tidak akan menyukai satu gadis yang sama demi menjaga persahabatan mereka.
"Aku ingat dengan perjanjian kita, Sur ... tetapi, apa yang dirasakan hati siapa yang tahu. Kendati aku menyukainya sejak lama, aku gak akan merebutnya darimu, Surya. Aku tetap berdiri sebagai temanmu dan temannya. Bahkan sekali pun aku tidak pernah menunjukkan perasaanku kepada siapa pun." jawab Bintang dengan tegas.
Benar yang Bintang katakan, sejak dulu Bintang tidak pernah merebut Bulan. Dia bahkan tetap pada karakternya sebagai pria yang baik dan tenang. Bintang bahkan tidak pernah menunjukkan perasaannya kepada siapapun. Siapa yang menyangka ternyata pria itu telah sekian lama menyimpan perasaan untuk Bulan.
Setelah enam tahun berlalu, Bintang memang setia berdiri pada posisinya yaitu sebagai temannya Surya dan Bulan. Tidak pernah sekalipun dia menikung Surya.
__ADS_1
Sementara Surya justru semakin tidak aman dengan posisinya. Dia takut suatu hari nanti, Bintang akan benar-benar merebut Bulan dari sisinya. Surya seolah menjadi singa yang kehilangan taringnya karena sekarang dia seolah tak bisa berbuat banyak untuk menjaga Bulan. Di sisi lain, dia mengetahui ada pria yang menyukai Bulan juga untuk waktu yang lama. Surya seolah mendapat pukulan bertubi-tubi saat mengetahui bahwa sahabatnya berkata jujur bahwa dia menyukai Bulan. Hati kecilnya merasa sangat tidak tenang sekarang ini.
Genderang perang layaknya tengah ditabuh sekarang ini. Ya, Surya dan Bintang seolah tengah sama-sama berperang dan siap merebut Bulan kapan saja.