
Hari Minggu itu seolah menjadi hari yang begitu dinanti oleh Bintang. Dari subuh, pria itu nampak telah bangun dan matanya enggak terpejam. Bahkan pagi-pagi buta, sebelum mentari terbit dari ufuk Timur, pria itu sudah terlebih dahulu mandi dan membersihkan dirinya.
Menit demi menit menuju jam 07.00 rasanya begitu lama bagi Bintang, hingga membuatnya hanya merebahkan dirinya di tempat tidurnya dengan matanya yang mengamati pergerakan jarum jam. Sungguh begitu lucu, hanya untuk berjalan-jalan dengan Bulan saja rasanya Bintang sudah seperti ini. Tidak sabar menunggu jam yang mereka janjikan bersama.
Hingga akhirnya menjelang jam 07.00, Bintang mulai bangun dari tempat tidurnya. Dia kembali menata rambutnya dengan sedemikian rupa dan menyemprotkan parfum andalannya yang beraroma Woody. Aroma parfum yang diyakini mampu membuat wanita merasa tenang, nyaman, bahkan terpikat dengan aroma Woody yang bercampur citrus, tidak hanya menciptakan kesan maskulin tetapi juga citrus memberi kesan sporti yang segar.
Begitu telah merasa pas dengan penampilannya, Bintang memakai jaket model bomber miliknya dan mengambil kunci mobilnya. Dia berniat mengajak Bulan jalan-jalan dengan menaiki mobil. Berjaga-jaga jika cuaca hujan, sehingga gadis yang sudah lama dia sukai tidak akan kehujanan. Akan tetapi, pria itu tersenyum dan berharap bisa mengajak Bulan kembali jalan-jalan dengan menaiki sepeda motor.
Setelahnya Bintang bergegas keluar dari rumahnya dan menuju tempat Bulan. Tepat jam 07.00, dia sudah tiba di depan rumah Bulan. Tidak lupa dia langsung menekan bel dan tentu ingin berpamitan dengan kedua orang tua Bulan.
"Sugeng enjing (selamat pagi dalam bahasa Jawa) Bu ... mau menjemput Bulan." sapanya dengan begitu sopan kepada Bu Sundari yang membukakan pintu gerbang.
"Monggo, silakan masuk." sapa Bu Sundari yang mempersilakan Bintang untuk masuk.
Dengan hati-hati, Bintang berjalan mengekori Bu Sundari. Begitu sampai di depan rumah, Bintang melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah. Kemudian duduk di ruang tamu.
"Mau kemana Mas?" tanya Bu Sundari yang tentunya hanya sekadar formalitas. Sebab Bulan sudah memberitahu kepada Bapak dan Ibunya bahwa hari ini dia akan jalan-jalan dengan Bintang.
Nampak Bintang tersenyum. "Saya mau mengajak Bulan jalan-jalan, Bu ... dulu waktu Bulan positif, dia pernah bilang kalau sudah sembuh pengen jalan-jalan." ucapnya dengan jujur.
"O ... begitu. Boleh Mas ... yang penting hati-hati. Tertib berkendara, gak usah ngebut di jalanan. Sebentar ya, Ibu panggilkan Bulan."
Kemudian Bu Sundari naik ke lantai dua guna memanggil Bulan.
"Bulan, sudah dijemput Bintang di bawah." ucap Bu Sundari begitu memasuki kamar Bulan yang saat itu memang tidak terkunci.
Tidak perlu waktu lama, putrinya ternyata sudah siap. "Ya Bu ... Bulan turun sekarang."
__ADS_1
Di bawah rupanya Bintang nampak terlibat obrolan dengan Pak Hartono, pria itu nampak mendengarkan cerita dari Pak Hartono dengan serius.
"Hei Bin...." sapa Bulan begitu dia sudah berdiri tidak jauh dari ruang tamu.
Nampak Pak Hartono tersenyum melihat anak gadisnya yang nampak bahagia.
"Jadi mau kemana saja hari ini?" tanya Pak Hartono kepada Bulan.
Bulan pun sedikit duduk di samping Bapaknya. "Kemana saja sih Pak ... asalkan jalan-jalan. Lagipula, ini jalan-jalan untuk merayakan kesembuhan Bulan setelah 14 hari menjalani isolasi mandiri." ucapnya.
Pak Hartono tertawa. "Kamu itu ada-ada saja. Ya sudah, sana. Penting hati-hati. Sudah punya uang saku belum? Mau Bapak kasih?"
Bulan pun mengelak. "Bulan sudah punya dong Pak ... kan Bulan sudah bekerja. Ya sudah kami pamit ya Bapak dan Ibu." pamitnya yang kemudian mencium punggung tangan Bapak dan Ibunya.
Bintang pun melakukan hal yang sama. Bersalaman dan mencium punggung tangan Bapak dan Ibunya Bulan. "Pamit Bapak dan Ibu ... minta izin untuk membawa Bulan jalan-jalan nggih." pamitnya dengan sopan.
Keduanya lantas keluar rumah dan Bintang membukakan pintu mobil untuk Bulan. Sikap pria itu teramat manis, bahkan dia menaruh satu tangannya di atas mobil guna memastikan kepala Bulan tidak akan terantuk.
"Ayo ...." ucapnya mempersilakan Bulan masuk ke dalam mobil dengan tipe city car berwarna merah itu.
Nampak Bulan tersenyum dan memasuki mobil Bintang. "Makasih Bin...."
Kemudian Bintang mengitari mobil dan kemudian duduk di kursi kemudi. "Jadi kita mau kemana hari ini? Mau sarapan dulu?" tanyanya kepada Bulan.
Gadis yang kini telah duduk di kursi samping kursi kemudi itu menganggukkan kepalanya. "Boleh ... kamu mau sarapan apa? Yuk, aku ngikut kamu aja."
Nampak berpikir dan sembari mengemudikan mobilnya, Bintang berpikir menu sarapan yang cukup mengenyangkan keduanya hingga jam makan siang nanti.
__ADS_1
"Gudeg, kamu mau?" tanyanya.
"Boleh ... Gudeg di Sentra Gudeg Mijilan saja, Bin... yang enak. Kejauhan enggak dari sini?" tanya Bulan.
Bintang tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Enggak jauh kok. Ya sudah, kita ke Mijilan yah, nanti beri tahu kamu mau makan di tempat makan yang mana. Soalnya kan di sana banyak sekali penjual Gudeg. Kita makan yang tempat yang biasa kamu makan aja." ucapnya sembari terus mengendalikan stir mobilnya dengan kedua tangannya.
"Oke ... nanti aku beritahu ya." sahutnya sembari melemparkan senyuman kepada Bintang.
Hanya sebatas melihat senyuman Bulan saja, hati pria itu berdesir hebat. Dia sama sekali tidak menyangka akan memiliki waktu satu hari bisa bersama Bulan. Satu hari yang sangat langka baginya. Belum tentu dalam hari kabisat yang berlangsung satu kali dalam empat tahun kesempatan ini datang.
Tidak dipungkiri hati Bintang meletup dengan kebahagiaan.
"Kamu bangun jam berapa tadi Bin?" tanya Bulan memecah keheningan di dalam mobil itu.
Sedikit saja Bintang menoleh pada Bulan. "Ah, dari subuh aku sudah bangun. Setelah sholat Subuh tadi langsung bangun." jawab pria itu.
"Lah ... kok sama. Aku juga bangun dari Subuh. Kamu selalu Sholat Subuh, Bin?" tanya Bulan dengan tiba-tiba.
Senyuman terukir di sudut bibir yang saat itu mengenakan masker. "Sebisa mungkin aku memenuhi kewajibanku sebagai seorang Muslim, Bulan. Ya walaupun jatuh bangun, tetapi setidaknya aku berusaha." ucap Bintang perlahan.
Bulan pun lantas tersenyum. "Mantap banget kamu ini, Bin ... pasti nanti kamu jadi Imam yang baik." ucap Bulan dengan tiba-tiba.
Lagi-lagi Bintang tersenyum dan mengedikkan bahunya.
Kalau aku ingin mengimami kamu apa masih mungkin, Bulan?
Pria itu bergumam dalam hati dan kemudian menoleh sama Bulan. "Sayangnya belum ada...." ucapnya sembari tersenyum pada Bulan.
__ADS_1