Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Menyembuhkan Luka


__ADS_3

"Dia melukaiku, Bin ...."


Sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibir Bulan. Diiringi dengan isakan tangis yang membuat ucapan gadis itu terasa begitu menyayat hati.


Membenamkan wajahnya di dalam dada Bintang, gadis itu masih saja menangis terisak. Sementara Bintang perlahan mengusap lembut punggung gadis itu. "Tenang ya ... ada aku di sini." balas pria itu yang memberikan waktu untuk Bulan menangis.


Keadaan tetap berlangsung seperti itu, hingga perlahan Bulan melepaskan pelukannya di badan Bintang. Kemudian gadis itu memiliki duduk di area Benteng Vredenburg. Sama halnya dengan Bulan, Bintang pun turut duduk di samping gadis yang kali ini wajahnya begitu kacau. Dua bola mata yang merah dan sembab, bibir yang bengkak dengan darah di sudut bibirnya. Semua orang pun tahu bahwa Bulan sedang tidak baik-baik saja. Bahkan masker yang sebelumnya dikenakan gadis itu sekarang juga raib entah ke mana.


"Jadi ... sudah tenang sekarang?" tanya Bintang sembari menghela napasnya. Jujur saja melihat Bulan dengan kondisi seperti ini membuat pria itu terasa sesak napas.


Jika Bulan kesakitan, dirinya lah yang merasakan sakit bertubi-tubi. Akan tetapi, menyadari bahwa hubungannya dengan Bulan hanya sebatas teman, maka Bintang berusaha menahan supaya dia tidak bertanya terlalu jauh.


Kendati demikian, dengan melihat luka di sudut bibir Bulan sudah dapat dipastikan bahwa Surya baru saja mencium Bulan hingga melukai sudut bibirnya.


Perlahan Bulan pun mengangguk samar. Kedua tangannya berusaha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian menyeka air matanya. Sembari terisak, gadis itu tersenyum dengan menatap Bintang.


"Maaf Bin ... aku terlalu emosional." akunya kepada Bintang yang memang tengah emosional.


Bintang pun menggelengkan kepalanya. "Tidak ... tidak apa-apa Bulan. Nanti ke mobil yah, aku ada salep untuk memar di sana." ucapnya sembari menunjuk sudut bibir Bulan yang berdarah.


"Tidak perlu Bin ... nanti juga bakalan sembuh kok." Bulan merasa tidak enak. Oleh karena itu, dia hanya ingin membiarkannya saja, akan terlalu sungkan jika Bintang lah yang mengobati lukanya.


"Tidak apa-apa ... biar aku yang menyembuhkan lukamu." ucap pria itu dengan wajah yang nampak serius.


Menyembuhkan luka di bibir atau menyembuhkan luka di dalam hati?


Sebuah ucapan bermakna ganda dari Bintang yang membuat Bulan membolakan kedua matanya.


"Kenapa kamu selalu baik padaku, Bin ... padahal aku sendiri sering kali tidak bersikap baik padamu." sahut Bulan dengan lirih.


Bulan sangat merasakan bahwa Bintang selalu bersikap baik kepadanya. Bahkan di saat Bulan bersikap dingin dan seolah membentengi diri, tetapi tetap saja Bintang bersikap baik kepadanya.

__ADS_1


Pria itu hanya sedikit tersenyum. "Tanpa aku berikan jawaban, aku yakin bahwa kamu sudah tahu jawabannya." ucap pria itu dengan sepenuh hatinya.


Perasaannya yang begitu dalam kepada Bulan lah yang membuat Bintang selalu bersikap baik padanya. Sikap yang benar-benar tulus, tidak pernah berubah sekalipun beberapa waktu yang lalu Bulan begitu terlihat bersikap dingin.


Gadis itu justru kembali meneteskan air matanya. "Andai dia sebaik dirimu ...."


Secara tidak langsung, Bulan justru membandingkan antara Surya dengan Bintang. Yang dirasakan Bulan saat ini adalah, Bintang selalu memperlakukannya dengan baik. Ketulusannya benar-benar terasa hingga ke dalam hati Bulan.


"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Bulan kali ini dengan sorot mata yang nampak berkaca-kaca memandang Bintang.


Anggukan yang diberikan oleh pria itu cukup menjadi sebuah jawaban, bahwa Bintang adalah seseorang yang bisa dipercaya.


"Tadi Surya sangat emosional dan dia menuduhku yang bukan-bukan ... sekian lama kami berdua berdebat, tiba-tiba Surya memaksa menciumku. Aku memberontak karena aku tidak suka, dia melukaiku. Bahkan tadi aku mendorongnya dan menamparnya." cerita Bulan pada akhirnya.


Derai air mata kembali membasahi kedua pipi gadis itu. Air mata yang keluar dengan sendirinya, membuat Bulan harus beberapa kali mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Dari bibirmu saja sudah terlihat, jika Surya menciummu." ucap Bintang sembari menundukkan kepalanya.


"Kamu tahu bagaimana caraku membebaskan diriku sendiri tadi?" tanya Bulan sembari bertanya kepada Bintang.


"Untuk pertama kali, aku bahwa menampar wajah Surya dengan tanganku itu. Setelah itu, barulah aku bisa melepaskan diriku."


Bintang yang sejak tadi menundukkan kepalanya, perlahan pun mengangkat wajahnya guna melihat wajah gadis yang kini duduk di sebelahnya.


"Kamu menamparnya? Serius?"


Bintang pun merasa tak percaya dengan apa yang baru saja Bulan ucapkan bahwa dia begitu frustasi dengan Surya. Hingga gadis itu mengaku telah menampar Surya.


Lagi-lagi justru Bulan menganggukan kepalanya. "Benar ... aku menamparnya."


Masih saja Bintang merasa tidak percaya, gadis selembut Bulan rupanya bisa juga menampar Surya.

__ADS_1


"Kamu tahu rasanya dicium tiba-tiba dengan sangat kasar dan terasa membabi buta? seperti masuk dalam mulut singa buas. Itu sakit, perih, dan justru ujungnya aku seperti dilecehkan oleh dia." ucap Bulan dengan terisak.


Kini Bintang pun tahu bagaimana perasaan Bulan. Apa yang gadis itu sampaikan memang benar. Bintang dulu juga menciumnya dengan tiba-tiba, hanya saja Bintang melakukannya dengan sangat lembut, tidak ada motif untuk melukai Bulan.


Pria itu kemudian beringsut dan kini dia berjongkok di hadapan Bulan, mengusap bibir bawah Bulan dengan jarinya, kemudian menyeka setitik darah di sudut bibir gadis itu dengan sebuah tissue.


"Ingatlah, aku sudah mengusapnya. Aku sudah membersihkannya, tidak ada lagi jejak dari Surya yang membuatmu menangis dan kesakitan. Sekarang kita keluar dari sini ya? Sudah hampir petang, aku yakin pasti Surya juga sudah pergi." ucap Bintang.


Bulan pun menganggukkan kepalanya dan perlahan berdiri, dia berjalan di belakang Bintang. Akan tetapi, Bintang sejenak menghentikan langkahnya, kemudian pria itu mengulurkan satu tangannya.


"Ayo ... jangan sampai tertinggal, jika ada apa-apa denganmu aku tidak tahu karena kamu berjalan di belakangku." ucapnya.


Gadis itu tertegun menatap tangan Bintang yang terulur. Pergolakan di dalam hatinya terasa kian mendebarkan. Haruskah dia menerima uluran tangan Bintang? Berlama-lama berada di sekitar Bintang, membuat gadis itu merasakan degup jantungnya tak berdetak tak seirama.


Melihat Bulan yang nampak masih enggan, Bintang pun mencoba meraih tangan Bulan dan menggenggamnya. "Ayo ... lagipula mobilnya aku parkir di depan sini kok. Kita tidak perlu jalan jauh-jauh." ucapnya.


Nampak Bulan menghela napasnya saat Bintang menautkan jari jemari nya. Namun, dia hanya bisa terus mengikuti langkah kaki Bintang dengan tangan yang saling bertaut satu sama lain. Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka telah berada di depan mobil berwarna merah kepunyaan Bintang itu.


"Masuklah...." ucapnya sembari membukakan pintu bagi Bulan.


Setelah Bulan masuk, pria itu berjalan ke belakang, mengambil kotak P3K di sana. Dengan menenteng sebuah kotak kecil berwarna putih, kemudian Bintang memasuki mobilnya. Dia mengeluarkan sebuah salep dan cotton bud dari kotak itu.


"Aku obatin ya... masih ada darah di sudut bibirmu. Bisa tolong rapikan sedikit rambutmu." ucap Bintang.


Dengan perlahan, Bulan pun menganggukkan kepalanya dan merapikan rambutnya. Menyibak rambutnya dan menaruhnya di belakang telinga.


Bintang kemudian mendekat dan berniat mengoleskan salep di sudut bibir Bulan, tetapi pria itu membelalak saat melihat bawah telinga dan beberapa bagian leher Bulan pun merah. Pria itu menghela napasnya.


"Apa Surya juga menekan wajah dan lehermu hingga merah seperti ini?"


Tidak hanya jawaban, Bulan hanya mengangguk samar dan menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2