
Bintang dengan tegar mendampingi Bulan dan Kartika, walaupun pria itu lebih banyak diam, tetapi tergambar jelas dari setiap tindakannya bahwa Bintang peduli dengan Bulan dan Kartika.
Bintang bahkan membukakan pintu untuk Kartika dan Bulan yang memilih duduk di kursi belakang, sementara Bintang yang mengemudikan mobilnya.
Tidak langsung menjalankan mobil, Bintang masih memberi waktu bagi Kartika untuk menangis, menumpahkan semua kesedihan. Namun, hati pria itu juga merasa sakit melihat anak sekecil Kartika sudah harus kehilangan Kartika.
Perlahan Bintang membuka pintu mobil, lalu duduk di samping Kartika.
"Tika ... sini dipeluk Om Bintang ya...."
Tika pun menurut dan menghambur dalam pelukan Bintang.
"Insyaallah, Bapak sudah tidak sakit lagi ya Tika. Sekarang Tika berdoa supaya Ibu lekas sembuh. Masih ada Bu Guru dan Om Bintang di sini. Tika yang kuat ya ... Tuhan Allah selalu menguatkan Tika." ucap Bintang yang mencoba menenangkan Tika.
Gadis kecil itu lantas menganggukkan kepala dengan masih memeluk Bintang.
Sementara Bulan dalam hatinya merasa lega, pria sedingin Bintang bisa juga menenangkan seorang anak kecil. Pemandangan langka yang tidak pernah Bulan lihat selama berteman dengan Bintang.
Membiarkan Tika tenang sejenak, kemudian Bintang mengurai pelukannya.
"Tika sudah tenang? Bisa kita pulang sekarang ke rumah Bu Guru?"
Kartika pun menganggukkan kepalanya. "Iya Om Bintang ... terima kasih."
Kemudian Bulan kembali merangkul bahu anak kecil itu. Sesekali tangannya mengusap kepalanya.
Hanya sekian menit akhirnya mereka telah sampai di rumah Bulan. Tika masuk ke dalam rumah dan langsung mandi. Sementara Bulan mengobrol dengan Bintang di teras rumahnya.
"Terima kasih untuk bantuannya ya Bin ... jika tidak ada kamu yang mengantar kami rasanya tidak akan mampu aku membawa Kartika dengan sepeda motorku." ucap Bulan sembari menghapus air mata yang menggenang di sudut matanya.
__ADS_1
Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bulan ... sebagai kawan sudah sepantasnya kita saling menolong bukan?" Bintang menjeda sejenak ucapannya, dia lantas menatap wajah Bulan. "Kamu juga jangan terlalu bersedih...." ucapnya sembari menyodorkan kotak tissue yang berada di atas meja.
Tangan Bulan pun terulur dan dia mengambil beberapa helai tissue untuk menyeka air matanya. "Makasih Bin ... jujur, aku juga bersedih. Kasihan Tika."
"Aku tahu, Bulan. Akan tetapi, saat ini yang dimiliki Tika adalah kamu. Ibunya masih di Rumah Sakit. Kuatlah demi Tika. Masih ada harapan. Setiap pengharapan kita tak akan sia-sia bukan? Ada Allah tempat kita menaruh semua harapan kita." ucap Bintang yang masih memegang kotak tissue di tangannya.
Bulan lantas menganggukkan kepalanya. "Kamu benar sekali, Bin ... terima kasih sudah mengingatkan dan menguatkanku, di saat aku sendiri pun tidak kuat. Aku rapuh saat ini. Akan tetapi, kamu benar. Aku harus kuat demi Tika. Dia sekarang menjadi tanggung jawabku."
Sedikit terlihat Bintang sedang menganggukkan kepalanya. "Akan tetapi, jangan menganggap Kartika adalah beban bagimu. Dia adalah muridmu. Kamu orang yang baik Bulan. Aku kagum pada kebaikanmu."
Bulan pun tersenyum. "Kau berlebihan Bintang. Aku hanya menolong sebisaku saja. Oh, iya ... mau minum dulu biar aku buatkan." tawarnya kepada Bintang.
Dengan cepat Bintang menggelengkan kepalanya. "Tidak usah Bulan. Hari sudah hampir sore, aku harus kembali pulang. Oh, iya ... selama Kartika di sini bolehkah aku bermain ke sini? Aku hanya ingin turut menghiburnya, Bulan."
"Ya tentu saja, kamu boleh ke sini Bintang. Akan tetapi, ingat jaga kebersihan selama di sini." ucap Bulan yang mengingatkan Bintang untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.
Bintang pun tersenyum. "Tentu saja Bulan... tentu aku akan melakukannya. Baiklah, aku pamit ya. Salamkan untuk Bapak, Ibu, dan juga Tika." pamitnya sembari berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah Bulan.
Keesokan harinya, Bintang kembali bermain ke rumah Bulan. Kali ini, dia tidak datang dengan tangan kosong. Pria itu membawa Martabak Manis rasa cokelat dan keju, serta es krim dan beberapa makanan riang untuk Tika.
"Assalamualaikum...." sapa Bintang begitu tiba di depan rumah Bulan.
"Wa'alaikumsalam...." sahut Bapak dan Ibu Bulan yang kebetulan tengah duduk-duduk di ruang tamu.
"Pak, Bu ... saya ingin bertemu Bulan dan Kartika." ucap Pria itu dengan sopan.
"Masuk ... masuk Nak Bintang. Masuk dulu, Ibu akan panggilkan Bulan dan juga Tika yang sedang di kamar." sahut Bu Sundari dengan ramah.
Bintang pun masuk dan duduk di ruang tamu, tak lupa dia menyapa Pak Hartono yang sedang duduk di sana.
__ADS_1
"Pripun kabaripun Pak? (bagaimana kabarnya, Pak?) " sapanya kepada Pak Hartono.
"Alhamdulillah ... sehat Nak. Nyari Bulan ya?" tanya Pak Hartono kepada Bintang.
Dengan segera Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya Pak, sekalian mau mengunjungi Kartika. Menghibur Kartika saja Pak. Kasihan dia, kemarin Ayahnya baru saja berpulang ke rahmatullah." jawab Bintang.
"Iya gak apa-apa, Nak. Bersyukur di kondisi seperti ini justru manusia diajak untuk lebih peduli dengan sesamanya. Bapak berterima kasih karena kamu juga berempati kepada Tika." ucap Pak Hartono.
Tidak lama kemudian Bulan, Tika, dan Bu Sundari turun dari kamar di lantai dua.
"Om Bintang...." sapa Tika dengan matanya yang masih terlihat sembab.
Bintang pun menganggukkan kemudian mengusap puncak kepala Kartika. "Iya, Om Bintang main lagi. Om bawakan es krim buat Tika. Kamu mau?" Bintang sembari menyerahkan es krim cone rasa cokelat untuk Kartika.
Nampak binar kebahagiaan dari anak kecil itu. "Wah, es krim cone. Terima kasih Om Bintang."
"Sudah lama Bin?" tanya Bulan sembari mengambil tempat duduk berhadapan dengan Bintang.
"Enggak ... baru saja kok." Bintang lantas melirik pada Bulan, lalu menyerahkan Martabak manis yang dia bawa.
"Ini Bu, saya bawakan Martabak...." ucap Bintang yang memberikan satu kotak berisi Martabak itu.
"Walah, gak usah repot-repot Mas ... kalau main tinggal main saja, gak usah bawa oleh-oleh." jawab Bu Sundari yang membuat Bintang nampak malu dan menundukkan kepalanya.
Melihat Tika yang asyik menikmati es krim nya, hingga membuat bibirnya belepotan. Bintang lantas mengambil satu tissue dan memberikannya untuk Tika. "Makannya pelan-pelan saja, Tika. Ini, dilap dulu pake tissue."
Bapak Hartono dan Bu Sundari tersenyum, dalam hatinya rupanya Bintang terlihat sayang dengan anak kecil Kartika. "Mas Bintang apa punya adek kecil di rumah?" tanya Pak Hartono.
"Tidak Pak ... saya hanya punya Kakak Cowok, tetapi bekerja di Jakarta. Sehingga di rumah hanya ada saya dan orang tua saja."
__ADS_1
Mendengar kata orang tua, nampaknya cukup sensitif bagi Kartika. Anak itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya memakan es krim. "Tika hanya tinggal memiliki Ibu, dan tidak tahu kapan Ibu akan sembuh. Sementara Bapak sudah bersama Tuhan di surga."
Bintang saat itu duduk di samping Kartika langsung menepuk bahu Kartika. "Kartika juga punya kedua orang tua Bu Guru kan, ada Bu Guru dan Om Bintang juga. Jangan sedih ya, masih ada pengharapan untuk hari esok yang lebih baik bagi Tika...." ucap Bintang yang didengarkan oleh Bulan dan kedua orang tuanya.