Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Perhatian Jarak Jauh


__ADS_3

Panggilan telepon menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang tengah menjalani hubungan jarak jauh.


Dalam telepon yang terhubung, sepasang kekasih bisa saling tertawa, membagi kegiatannya seharian, mengutarakan kerinduan, dan memberikan perhatian.


Benarlah sebuah kutipan bahwa "Perhatian kecil akan terasa besar saat kita sendirian dan kesepian." Tidak dipungkiri saat ini di Makassar, Surya begitu kesepian. Jauh dari orang tua, keluarga, dan jauh dari kekasihnya yaitu Bulan. Ditambahkan pekerjaannya yang sedang menerapkan sistem Bekerja dari Rumah (Work From Home), membuat Surya hanya berada di dalam kamar kost.


Menelpon Bulan layaknya sebuah pelepasan untuk melepas kesepian dan rasa rindunya. Suara lembut Bulan yang menyapa indera pendengarannya membuatnya betah berlama-lama terhubung dalam panggilan seluler dengan Bulan.


"Aku kangen kamu Bulan...


rasanya ingin bersua...


tapi kita hanya bisa bersua dalam layang suara..." ucapnya sembari berbaring membayangkan wajah ayu Bulan.


Berbeda dengan Surya yang tiba-tiba menjadi puitis, di sana Bulan justru terkekeh geli. "Kamu lebay deh, Surya ...." ucapnya yang tertawa dan menggelengkan kepalanya. "seharian kamu ngapain aja Surya?"


"Seperti biasa, aku hanya menghuni kamar kost sepetak ini. Aku enggak kemana-mana. Aku bosan, Bulan." ceritanya kepada Bulan.


Tidak dipungkiri ketika manusia bisa beraktivitas di luar rumah, kemudian harus berdiam diri di dalam rumah tentu akan merasa kebosanan. Begitu juga dengan Surya.


"Buat aktivitas harian yang rutin saja. Sisipkan juga untuk aktivitas membuang kebosanan seperti menonton, bermain game, atau membaca buku." saran Bulan kepada Surya.


Surya hanya mengernyitkan keningnya. "Aku inginnya bertemu kamu, tetapi saat ini tidak bisa kulakukan. Aku bersalah padamu, Bulan."


Lagi-lagi Surya menyesal karena tidak bisa menemui Bulan, tetapi semua telah terjadi. Dalam setiap keputusan yang diambil pastilah ada konsekuensinya. Surya memang berhasil mewujudkan impiannya menjadi Abdi Negara, dengan konsekuensi yaitu dia harus rela berada jauh dari Bulan. Sebab sebagai Pegawai Negeri Sipil, mereka harus taat ketika Surat Mutasi diberikan dan siap di tempatkan di seluruh Indonesia.


Sementara di sana, Bulan mendengarkan penyesalan Surya dengan senyuman getir di sudut bibirnya. "Semuanya sudah terlanjur, Surya ... jadi, ya kita jalani saja." ucapnya yang masih memilih duduk di dekat meja belajarnya. Bulan belum duduk di tempat tidurnya karena di sana ada Kartika. Dia takut membangunkan muridnya itu.

__ADS_1


Surya pun nampak menganggukkan kepalanya. "Iya ... kita hanya bisa menjalaninya. Semoga kita bisa bertahan." Surya menjeda sejenak ucapannya.


Berbicara mengenai bertahan tentang hubungan jarak jauh, dia lantas teringat pada hubungan Arunika dan Bintang. "Bulan, kamu ingat dengan Arunika?" tanya Surya melalui sambungan teleponnya.


Sebagai seorang yang memiliki ingatan cukup tajam, sudah pasti Bulan ingat. "Ya, aku ingat ... pacarnya Bintang waktu kuliah dulu kan. Kenapa?"


"Rupanya hubungan Bintang dan Arunika telah berakhir, Bulan ... beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengan Arunika saat membeli makan siang. Dia bercerita kalau hubungan jarak jauhnya dengan Bintang hanya bertahan lima bulan. " ceritanya kepada Bulan.


"Benarkah mereka sudah putus? Ku kira Bintang masih berpacaran dengan Arunika karena selama ini dia terlihat tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa di hidupnya." sahut Bulan yang juga mengira bahwa Bintang masih berpacaran dengan Arunika.


Surya menghela nafasnya. "Aku bersahabat dengan Bintang sejak dulu, tetapi mengapa banyak yang tidak ku ketahui dari sahabatku itu. Aku yang cuek atau memang Bintang yang sangat tertutup."


"Jangan berpikiran begitu Surya ... setiap orang punya rahasia di hatinya masing-masing. Satu sudut di dalam hatinya yang tidak akan dibagi dengan orang lain. Itu yang disebut sebagai " privasi" Surya. Pasti ada alasan mengapa Bintang tidak banyak bercerita denganmu." jawaban Bulan sangat tepat.


Memang benar bahwa tiap-tiap manusia memiliki satu ruang tersembunyi dalam hatinya yang tidak akan mereka bagi dengan orang lain. Mungkin banyak kepada satu atau dua orang yang benar-benar dirasa cocok dan spesial saja, mereka bisa berbagi isi hati.


Bulan hanya tersenyum. Dia justru berpikir bahwa Bintang memang pribadi yang diam, tenang, dan tidak mudah berbagi dengan orang lain.


"Suatu saat kita akan tahu, siapa orang beruntung yang bisa membuat Bintang bisa membagi isi hatinya. Baiklah Surya, ini sudah malam. Sudah dulu ya, besok aku harus kembali mengajar dan mungkin juga mengantar Kartika pulang ke rumah untuk mengambil pakaian gantinya. Kartika akan berada di rumahku selama orang tuanya dirawat di Rumah Sakit. Kasihan dia tidak memiliki siapa-siapa lagi." ucap Bulan yang sembari menoleh Kartika yang sudah terlelap dalam tidurnya.


Surya pun mengangguk setuju. "Baiklah Bulan. Selamat malam ... selamat tidur. Jangan lupa mimpikan aku. Aku sayang kamu, Bulan."


Begitulah panggilan seluler itu berakhir. Di Makassar, Surya lantas membaringkan dirinya dan berusaha memejamkan matanya. Di Jogjakarta pun sama, Bulan mengambil tempat di sisi Kartika.


...🌸🌸🌸...


Keesokan harinya, Bulan telah bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sementara Kartika juga sudah bangun.

__ADS_1


"Bu Guru, bagaimana kabar Bapak dan Ibu? Tika sudah kangen sama mereka." ucap gadis kecil dengan mata nampak berkaca-kaca.


Bulan lantas mengambil duduk di sisi Kartika. "Tika bawa handphone? Bagaimana kalau kita melakukan panggilan video kepada Bapak dan Ibu untuk bertanya bagaimana kabarnya." usul Bulan yang ternyata diangguki oleh Kartika.


Dengan cepat, Kartika mengambil handphone di dalam tasnya. Lalu mulai memencet nomor telepon yang dia simpan dengan nama "Ibu" itu.


Ibu Kartika


Berdering


Gadis kecil berusia 9 tahun itu harap-harap cemas menunggu apakah ibunya akan menerima panggilan videonya. Sebagai anak kecil, Kartika benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh orang tuanya di Rumah Sakit.


Beberapa detik berlalu dan panggilan video belum diangkat. Hingga akhirnya panggilan itu terhubungan.


"Ibu...." sapa Kartika ketika layar handphone-nya menampilkan wajah ibunya.


"Tika Sayang...." sahut ibunya dengan berderai air mata. "Tika di mana Sayang?"


"Tika di rumah Bu Guru Bulan ... Tika kangen Ibu dan Bapak." ucap Tika yang mulai terisak dalam tangisannya.


Bulan lantas kembali memeluk Tika. Pemandangan itu tertangkap dalam panggilan video itu.


"Bu Guru, saya titip Kartika nggih Bu ... maaf merepotkan Bu Guru." ucap Ibunya Tika dengan menangis.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Biar Kartika di sini bersama saya. Semoga Ibu dan Bapak cepat sembuh nggih ... fokus untuk kesembuhan Ibu dan Bapak dulu. Kartika aman di sini." ucap Bulan yang turut berbicara kepada ibunya Tika itu.


"Terima kasih nggih Bu Guru sudah mau menolong kami ... menolong Tika. Matur nuwun sanget (terima kasih banyak)."

__ADS_1


__ADS_2