
Benar apa yang dikatakan oleh sebagai orang yang sedang melakukan isolasi mandiri di dalam rumah bahwa hari terasa lebih lambat, dan Bulan merasakannya sendiri.
Apabila saat sehat, begitu bangun pagi Bulan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah dan sekarang, dia hanya menghuni rumah sendirian. Orang tuanya masih berada di Gunung Kidul, rumah dua lantai itu terasa sepi.
Pagi itu begitu bangun, Bulan segera membersihkan dirinya. Kemudian dia berdiri di balkon kamarnya yang memang menghadap ke Timur, sehingga saat pagi menyapa, Bulan bisa berjemur di balkon kamarnya tanpa harus keluar rumah.
Hari masih pagi, kurang lebih jam 06.30, tetapi matahari telah keluar dengan sempurna di langit kota Jogjakarta. Bulan membiarkan dirinya bermandikan panasnya matahari pagi itu.
Pada saat itu beredar mitos bahwa berjemur bisa membunuh virus covid, sebenarnya hal itu tidak benar. Berjemur adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bulan bahkan juga sembari melakukan peregangan untuk sekadar berolahraga.
Sekalipun berjemur hanya di balkon kamarnya, Bulan tetap mengenakan masker supaya tidak menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar bahwa dirinya berjemur tanpa mengenakan masker. Hangat sinar mentari pagi membuat badan Bulan berkeringat seketika, ditambah stretching yang dia lakukan cukup membuat badannya berkeringat. Saat Bulan hendak melakukan peregangan, handphonenya kembali berbunyi.
Bulan nampak mengambil handphonenya dan melihat panggilan masuk di pagi hari itu. Ternyata Bintang yang menghubunginya pagi itu. Dengan segera, Bulan menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
"Ya halo Bintang...." sapa Bulan melalui panggilan selulernya.
"Pagi Bulan, kamu baru ngapain?" tanya Bintang yang menanyakan Bulan sedang apa.
Bulan menyeka keringat di keningnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Bintang. "Aku baru berjemur di balkon, Bin ... untuk meningkatkan daya imun, biar aku segera sehat." jawabnya sembari kembali berjemur dan sedikit tertawa.
"Oh... Aku di bawah Bulan. Di depan pintu gerbang rumahmu." ucapnya.
Bulan pun berjalan ke ujung balkon, dan benarlah dia melihat Bintang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Pria itu tengah berdiri mengenakan Hoodie berwarna abu-abu dan sebuah masker berwarna biru menutupi separuh wajahnya. Saat Bulan memandangnya dari jauh, Bintang seketika melambaikan tangannya.
Sama halnya dengan Bintang, Bulan pun melambaikan tangannya. "Sejak kapan kamu berdiri di situ Bin?" tanya Bulan yang terlihat tertawa saat ini.
__ADS_1
"Baru saja ... aku sampai di sini dan langsung menelponnya. Bagaimana sudah baikan? Masih demam?" tanyanya dengan khawatir.
"Semalam agak demam dan masih batuk-batuk." jawabnya dengan masih menatap Bintang yang berdiri di depan pintu gerbangnya.
Mendengar kondisi Bulan yang masih demam dan batuk-batuk di malam hari, Bintang pun khawatir. Terlebih di rumah, Bulan hanya sendirian. Tidak ada orang tuanya, harus bertahan dan berjuang untuk sembuh seorang diri.
"Semangat ya Bulan ... harus dilawan. Jangan sampai ketakutan menguasai kinerja otak kita. Masih tiga belas hari lagi, kuharap tidak selama itu dan kamu sudah negatif." lagi ucapnya memperingatkan Bulan untuk selalu semangat.
Dari jauh Bulan pun nampak menganggukkan kepala. "Iya, aku sudah bisa menerima keadaanku sekarang ini. Kemarin memang rasanya aku seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau aku positif covid. Setelahnya, aku sudah ikhlas. Tugasku menjalani ini semua dengan semangat dan berharap aku bisa segera negatif. Semoga aku benar-benar bisa sembuh dan pulih." Jawabnya dengan sepenuh hati.
Bintang cukup lega mendengar bahwa Bulan sudah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya memang sedang positif covid. Memang yang dilakukan adalah berjuang untuk sembuh dan berdoa kepada Tuhan supaya memberikan mukjizat kesembuhan.
"Tanamkan afirmasi positif ke diri kita sendiri bahwa kita akan sembuh, Bulan. Oh, iya ... aku menggantungkan makanan untukmu. Nanti kamu bisa mengambilnya dan makanlah." ucap Bintang yang memberitahu bahwa dia memberikan makanan untuk Bulan.
"Jangan selalu memberiku, Bin ... aku sungkan." ucap Bulan dengan jujur.
Ada kalanya menerima kebaikan berlebih memang membuat kita sungkan. Itupun yang dirasakan Bulan sekarang ini, menerima kebaikan Bintang membuatnya begitu sungkan.
Bintang justru tersenyum. "Jangan merasa sungkan padaku, Bulan ... justru di saat seperti ini kita harus saling tolong menolong. Jangan lupa diambil ya makanan ya, jika ada makanan atau sesuatu yang kamu inginkan jangan segan untuk menghubungiku. Aku pamit dulu ya Bulan, nanti jika ada waktu aku akan menengokmu lagi dari jauh."
Bintang lantas mulai menaiki sepeda motornya, dan dia kembali melambaikan tangannya kepada Bulan. "Speedy recovery ya Bulan ... Semangat! Aku pamit dulu ya. Semoga segera negatif ya...."
Hati Bulan merasa hangat dengan kebaikan Bintang. Sebagai teman, Bintang begitu tulus padanya. Bulan pun juga melambaikan tangannya kepada Bintang. "Terima kasih untuk semuanya ya Bintang...." ucapnya dan kemudian panggilan seluler keduanya pun berakhir.
Tidak lama setelah Bintang pergi, Bulan turun ke bawah untuk mengambil makanan yang diberikan Bintang. Bulan begitu heran melihat makanan untuk porsi makan sehari. Ada Bubur Ayam, Nasi Kuning, dan Bakso.
__ADS_1
Apakah Bintang sengaja membelikanku makan untuk sehari?
Maaf jadi merepotkanmu, Bintang.
Bulan membawa kantong plastik berwarna putih itu masuk ke dalam rumah. Kemudian dia menaruh makanan itu ke atas meja makan di dekat dapurnya. Baru saja, Bulan hendak memakan Bubur Ayam pemberian Bintang.
Terdengar Tukang Ojek Online yang meneriakkan "paket" dan mengirimkan pesan.
"Paket...." terdengar teriakan dari luar rumah dengan lantang.
[Paket makanan saya taruh di luar rumah ya Mbak....]
[Matur nuwun]
Pesan dari Tukang Ojek online itu. Berselang sekian menit, barulah Bulan kembali keluar untuk mengambil paket makanan itu.
Betapa terkejutnya dia, rupanya di luar rumah dia kembali menerima satu porsi Bubur Ayam yang terbungkus dalam styrofoam. Di atas styrofoam itu tersemat tulisan di kertas sticky note berwarna biru.
"Sarapan dulu Bulan ... cepat sembuh Pejuang Negatif! (Surya)"
Di saat nyaris bersamaan Surya dan Bintang sama-sama memberinya Bubur Ayam.
"Apa kalian berdua sama-sama janjian hingga membelikanku Bubur Ayam?"
Bulan bergumam sembari kembali masuk ke dalam rumahnya. Kini di meja makannya telah tersedia dua porsi Bubur Ayam dari penjual yang berbeda. Lantaran punya Bintang telah dia buka, maka Bulan terlebih dulu memakan Bubur Ayam pemberian Bintang. Setelahnya nanti dia juga akan memakan Bubur Ayam pemberian Surya.
__ADS_1