
"Aku sedang keluar bersama Bintang, Surya...." ucap Bulan dengan jujur melalui sambungan selulernya.
Bulan berniat jujur, dia tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Surya. Sudah tentu Bulan tahu bahwa Surya akan marah kepadanya, tetapi berkata jujur jauh lebih baik daripada harus berbohong.
Sementara di sana, Surya memejamkan matanya. Dia sungguh tidak mengira bahwa kekasihnya akan pergi keluar bersama dengan Bintang.
"Kamu pergi ke mana?" Surya bertanya perlahan dan berusaha meredam emosinya sendirian.
Bulan nampak menggigit bibir bagian dalamnya sebelum menjawab pertanyaan Surya. "Aku pergi ke Air Terjun Kedung Kayang, Surya ... piknik tipis-tipis. Kemarin kan selama positif covid, aku cuma berada di rumah. Isolasi mandiri. Sekarang keluar sebentar."
"Ke Kedung Kayang? Ngapain? Jangan-jangan kamu selingkuh sama Bintang ya?"
Kali ini tidak ada lagi perasaan cemburu dan emosi yang diredam oleh Bintang. Bahkan pria itu terang-terangan menuduh Bulan tengah berselingkuh dengan Bintang.
Seolah tercekat, Bulan berusaha menahan tangisnya yang kapan pun bisa meledak rasanya. Sungguh dia tidak mengira, selama ini dia berusaha setia, menjaga perasaannya tetapi justru Surya menuduhnya tengah berselingkuh. Hati Bulan rasanya sakit menerima tuduhan dari Surya itu.
Bulan memilih diam dan memijit pelipisnya. Sementara dari samping, Bintang sangat tahu bahwa mungkin saja Surya tengah marah karena ekspresi yang ditunjukkan Bulan saat ini.
"Terserah kamu saja Surya ... jangan sembarangan menuduh, jika tidak ada faktanya." ucap Bulan sembari menunduk.
Sejujurnya saja Bulan malu, dia malu dengan Bintang yang akan mendengar ucapannya. Akan tetapi, bagaimana lagi dia memang harus berbicara dengan Surya.
"Kamu diam-diam bermain api di belakangku, Bulan. Kamu jalan dengan temanku sendiri. Itu namanya apa?" tanya Surya.
Tercekat, perlahan buliran air mata keluar begitu saja dari sudut mata Bulan. "Maaf Surya ... jangan mengajakku bertengkar dalam keadaan seperti ini. Maaf aku matikan teleponnya. Nanti aku akan menghubungimu lagi."
__ADS_1
Bulan menunduk dan mematikan sambungan teleponnya sepihak, jarinya menyeka air matanya yang sudah berlinangan. Sungguh malu, Bulan berada di kondisi saat ini ketika bersama dengan Bintang.
Sementara Bintang yang sedari tadi memperhatikan perlahan menepuk pundak Bulan. Perlahan juga Bulan mengangkat wajahnya dan tersenyum di sela-sela air matanya yang berderai.
"Maaf Bin...." ucapnya dengan bibir yang bergetar berusaha menahan tangis.
Entah refleks atau semacamnya, Bintang membawa Bulan dalam pelukannya. Memeluknya dan mengusapi punggungnya dengan lembut.
Seketika tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pun pecah. Tidak ada lagi yang disembunyikan Bulan saat ini. Dia merasa sebal dan kecewa dengan tuduhan yang dilontarkan Surya kepadanya.
Menurutnya selama ini Bulan berusaha menjaga hati sebisa dan semampu dia. Namun justru Surya menuduhnya yang bukan-bukan. Runtuh juga pertahanan Bulan untuk menyembunyikan rasa sakit dan sesak di dadanya.
Sementara Bintang memeluk Bulan dan berusaha menenangkan gadis itu. "Menangis boleh Bulan ... biar kamu lega. Sabar ya." ucapnya.
Hujan deras di luar dan hangatnya pelukan Bintang membuat Bulan larut, membiarkan tangisnya pecah dan air matanya berderai. Menit berlalu berganti menit, hingga perlahan Bulan menjadi lebih tenang. Gadis itu lantas mengangkat wajahnya dari dada Bintang, dan menyeka sisa air mata di wajahnya.
"Maaf Bin ... aku terlalu emosional." ucapnya.
Bintang menggelengkan kepalanya, lalu dia menatap wajah Bulan dengan pandangan matanya yang seolah memindai pada fitur-fitur wajah yang ada di wajah ayu itu. Tangannya terulur dan menyeka sisa air mata di pipinya yang halus, kemudian menelisipkan untaian rambut panjang Bulan ke belakang telinga.
"Sudah tenang?" tanyanya perlahan.
Bulan pun menganggukkan kepala. "Sudah ...."
"Kenapa memangnya? Apa aku salah?" lagi Bintang bertanya.
__ADS_1
"Tidak...." jawab Bulan dengan cepat.
"Lalu, kenapa kamu menangis? Pasti karena aku kan? Jujur saja." ucap Bintang dengan suaranya yang dalam.
"Surya cemburu, dia menuduhku berselingkuh sama kamu. Padahal selama ini aku selalu setia menjaga hubungan ini." ucap Bulan lagi-lagi dengan air mata yang berderai.
Bintang menghela napasnya yang terasa berat dengan satu tangannya yang masih memegang wajah Bulan. Pria itu lagi-lagi menyeka air mata di pipi Bulan, namun seketika matanya menangkap pada bibir Bulan yang begitu ranum.
Berduaan saja di dalam mobil dan kondisi di luar saat hujan memang berbahaya. Berusaha membuang jauh-jauh pikiran kotor itu dari otaknya, tetapi yang ada justru Bintang kian memajukan wajahnya.
"Maaf ... sebelumnya Bulan. Kalau aku bersalah dan kamu tidak terima dengan perlakuanku. Silakan tampar wajahku." ucap Bintang dengan suaranya yang dalam.
Dalam gerakan lambat, tetapi begitu tepat sasaran Bintang memajukan wajahnya perlahan kemudian mendaratkan bibirnya di atas bibir tipis nan ranum milik Bulan. Membiarkan bibir itu bertengger sejak di atas bibir itu.
Seolah kehilangan akalnya, Bintang memejamkan matanya saat merasa beberapa detik berlalu dan tidak ada penolakan dari Bulan walaupun kedua mata Bulan membola sempurna. Akan tetapi, Bulan serasa tercekat dengan tindakan Bintang yang tiba-tiba menciumnya. Di satu sisi dia juga tidak tahu harus berbuat.
Perlahan Bintang memiringkan sedikit wajahnya dan mencoba menggerakkan bibirnya dengan lembut, mencium bibir yang begitu lembut itu lipatannya atas dan bawah. Setiap gerakan kecil, nyatakan memberikan dampak yang luar biasa, hingga Bulan pun yang berusaha mengelak justru terbuai dengan sentuhan-sentuhan kecil bibir Bintang di atas bibirnya.
Tanpa membiarkan, perlahan lidah pria itu menerobos masuk merasakan kehangatan yang selama ini belum pernah dirasain. Seolah gila, dengan sensasi yang disalurkan di setiap saraf di indera pengecapannya. Pria itu mencecap, merasai, dan memagut baik bibir dan lidah Bulan dengan begitu lembutnya.
Sudah dipastikan guyuran hujan di luar sana lah dan kondisi Bulan yang menangis, menjadi beberapa pemicu yang membuat Bintang dengan berani mencium Bulan.
Larut dalam permainan bibir dan lidah, hingga terdengar decakan yang begitu indah dari keduanya. Seolah mendapatkan kesadarannya kembali, kedua tangan Bulan yang sejak tadi hanya berada di pahanya, kini kedua tangan itu menekan kedua dada Bintang. Mendorongnya perlahan, tetapi cukup kuat hingga Bintang membuka mata di sela-sela ciumannya dan melepaskan ciuman itu karena sedikit pergerakan yang Bulan berikan.
Mengurai wajahnya, Bintang lantas menatap Bulan dan mengusap bibir bawah Bulan dengan ujung jarinya. "Aku cinta kamu, Bulan ... aku mencintaimu."
__ADS_1
Pengakuan cinta yang belasan tahun tertahan pun tidak bisa dibendung lagi. Di Air Terjun Kedung Kayang dengan Gunung Merapi sebagai saksi, di bayar hujan yang mengguyur dengan derasnya di atas langit membuat seorang Bintang bertekad mengungkapkan perasaannya.
Biarlah dia mengungkapkan perasaannya, sebelum janur kuning melengkung, kali ini Bintang akan berketetapan untuk berjuang.