Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Api Cemburu


__ADS_3

Makassar


Pagi itu, Surya dikagetkan dengan sebuah pesan yang tiba-tiba masuk ke aplikasi pesannya. Pria yang baru saja bangun tidur lantaran sejak bekerja dari rumah itu sontak membelalakkan matanya ketika membuka sebuah pesan dan di sana menunjukkan foto kekasihnya tengah duduk dan nampak begitu dekat dengan seorang pria.


Kedua bola mata Surya membelalak sempurna dan jarinya mencoba memperbesar foto yang barusan ia terima.


Bulan?


Kamu bersama siapa Bulan?


Sontak pagi hari yang panas yang sudah terik di kota Makassar membuat Surya tersulut api cemburu. Dengan cepat, dia membalas kiriman foto dari nomor baru di handphonenya itu.


[To: +62812xxxx]


[Kamu siapa?]


[Kenapa bisa mendapat nomor saya?]


Sembari menunggu balasan dari nomor baru tersebut, Surya lantas mencari nomor telepon Bulan. Dia ingin memastikan sendiri dengan bertanya langsung kepada Bulan. Akan tetapi, betapa sialnya Surya karena teleponnya hanya berdering dan tidak diangkat oleh Bulan.


Meredakan rasa cemburu yang seolah menghantam dadanya. Surya pun memilih keluar dari kamar kostnya, mencari udara segar. Dia akan melakukan jogging di area Taman Macan, sebuah taman kecil yang begitu teduh karena pepohonannya yang rindang dan sebuah air mancur di tengah-tengahnya. Taman ini juga memiliki area jogging track yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan jogging.


Surya memilih pergi ke taman ini, karena temparnya yang rindang dan letaknya tepat di depan Kantor Pajak tempat Surya bekerja.


Pria itu berlari perlahan dengan harapan menyalurkan emosinya yang sedang memikirkan Bulan. Di Makassar sudah jam 8 pagi saat itu, sementara di Jogja baru jam 7 pagi. Selisih waktu 1 jam, sehingga Surya merasa mungkin Bulan tengah berangkat ke sekolah atau tengah mengajar saat itu.


Berusaha tenang, sembari mengatur kecepatan kakinya untuk berlari nyatanya sia-sia, Surya tetap memikirkan Bulan di sana. Cemburu? Sudah pasti. Saat ini keduanya tengah menjalin hubungan jarak jauh, sudah sepantasnya Surya cemburu melihat kebersamaan Bulan dengan seorang pria.


Hubungan jarak jauh memang rentan ketidakpercayaan dan kecemburuan. Itulah yang dirasakan Surya saat ini.

__ADS_1


Beberapa kali berlari mengitari area jogging track mampu membuat pria itu berpeluh keringat, badannya terasa panas usai berolahraga, tetapi hatinya juga terasa panas.


Memilih duduk sejenak di salah satu bangku taman yang ada di area jogging track itu, Surya mengernyitkan keningnya saat mendapati balasan dari nomor baru yang mengirimkan foto Bulan tersebut.


[Dari: +62812xxxx]


[Hai Surya.]


[Aku Agni]


[Kita satu sekolah dulu waktu SMA.]


Surya nampak mengingat siapakah teman SMA nya dulu bernama Agni? Akhirnya Surya perlahan mengingat pada seorang gadis teman satu kelas dan satu organisasi OSIS saat SMA dulu.


Surya hanya sekadar membaca pesan itu, selebihnya dia memilih untuk kembali menghubungi Bulan.


Bulan


"Bulan ... kemana saja kamu pagi ini?" tanya Surya begitu panggilannya telah terhubung.


Bulan yang telah sampai di sekolah, nampak kebingungan dengan pertanyaan Surya. "Sudah tentu aku di sekolah, Surya. Ada apa? Jadwalku setiap pagi kan mengajar di Sekolah?" jawab Bulan sembari memilih keluar dari ruangan guru.


"Sebelum sampai ke sekolah, apa yang kamu lakukan?" tanya Surya di sana sembari menyeka keringat di wajahnya dengan mengenakan handuk kecil khas olahraga yang dia sampirkan di lehernya.


Bulan nampak mengernyitkan keningnya. "Maksud kamu apa Surya?"


Sungguh Bulan tidak mengerti mengapa Surya memberondongnya dengan pertanyaan yang membuatnya tidak mengerti.


"Katakan dengan jujur ada apa? Jangan berbelit-belit. Jika tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, aku tutup. Sebab, aku harus mengajar." ucap Bulan melalui sambungan teleponnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan tegas dari Bulan, Surya menyandarkan bahunya sejenak di bangku taman yang dia duduki saat itu.


"Kamu dengan siapa pagi tadi di depan minimarket. Aku tahu kamu dengan bersama seorang pria bukan?" tanya Surya dengan langsung. Dia tidak lagi berbelit-belit.


Bulan nampak memijit pelipisnya. "Apa kamu menguntitku Surya?"


"Tidak. Hanya saja ada temanku yang melihatmu di depan minimarket duduk bersama pria." ucap Surya.


"Kamu tidak mengenal siapa pria itu?" Bulan justru bertanya balik kepada Surya.


Di sana Surya nampak menggelengkan kepalanya, seolah dia tengah berbicara berhadapan dengan Bulan. "Tidak. Pria itu menunduk dan mengenakan masker. Sehingga aku tidak mengenalinya."


"Dia Bintang, Surya. Temanmu sendiri." jawab Bulan dengan perasaan yang tidak habis pikir jika Surya mencemburuinya hanya karena Bintang yang tadi menemaninya di depan mini market sembari menunggu ban sepeda motornya yang sedang ditambal.


"Tadi pagi, ban sepeda motorku bocor. Bintang kebetulan lewat dan dia menolongku. Dia hanya menemaniku hingga ban sepeda motorku selesai diganti ban dalamnya sama tukang penambal ban." Bulan menceritakan kejadian tadi pagi yang dia alami saat ban sepeda motornya bocor dan sosok Bintang yang kebetulan lewat di jalan itu dan menolongnya.


Ada sedikit kelegaan dalam hati Surya mendengar cerita versi Bulan sendiri. Foto memang bisa menipu, tetapi Bulan tidak akan berbohong bukan?


"Kenapa ban sepeda motormu bisa bocor?" tanya Surya dengan nada bicara yang lebih tenang.


"Mungkin melindas paku, dan paku itu mengenai bannya. Tadi waktu penambal bannya datang, paku itu bersarang di dalam ban. Sehingga harus ganti ban dalam." jawab Bulan.


Surya mendengarkan cerita Bulan dengan baik-baik. Akan tetapi, mengapa Bintang yang ada di sana dan bisa menolongnya. "Bagaimana Bintang bisa berada di sana saat sepeda motormu bocor?"


"Dia hendak pergi ke kantornya untuk mengambil hardisk eksternalnya yang kebetulan tertinggal di kantor. Saat mengendarai sepeda motor, dia melihatku lalu dia menghentikan sepeda motornya dan membantuku. Dia juga yang menelponkan penambal ban langganannya. Karena itu jangan hanya mempercaya sebuah kejadian dari satu sudut pandang, Surya. Alih-alih mempercayai dengan apa yang dikatakan oleh orang lain, lebih baik kamu bertanya langsung padaku. Kecurigaan berlebih hanya akan berakibat tidak baik pada hubungan kita." ucap Bulan dengan panjang lebar.


"Maafkan aku, Bulan ... aku cemburu saat temanku mengirimkan foto kamu sedang duduk dengan seorang cowok. Jujur, aku cemburu. Saat kamu membutuhkan bantuan aku tidak ada di sana. Rasanya ingin aku menjadi orang yang bisa membantumu, menolongmu, bisa menjadi orang yang selalu kamu andalkan. Akan tetapi, jarak yang jauh ini ditambah keadaan pandemi yang masih terjadi membuatku tidak bisa berbuat apa-apa." sahut Surya.


Bulan menghela nafasnya. "Jangan asal cemburu, Surya. Hubungan jarak jauh membutuhkan kepercayaan satu sama lain. Cemburu boleh-boleh saja, tetapi jangan cemburu buta. Jika sudah tidak ada kepercayaan, maka hubungan kita tidak akan bertahan lama."

__ADS_1


"Maaf Bulan ... kuakui, aku terlalu cemburu. Aku rindu kamu, Bulan."


__ADS_2