
Hujan yang sejak tadi turun dengan begitu derasnya, perlahan mulai reda. Awan gelap perlahan menghilang, dan langit berselimut awan putih kembali menyapa. Dua anak manusia yang sama-sama terjebak di dalam mobil untuk sekian waktu lamanya perlahan menatap langit yang seolah menudungi mereka.
Melihat bahwa di luaran sana, hujan telah reda, Bintang perlahan menggerakkan stir mobilnya dan berusaha keluar dari tempat wisata Kedung Kayang. Sementara Bulan hanya diam dan bersidekap di depan dada. Bulan dan Bintang sama-sama larut dalam pikiran mereka sendiri. Semua kejadian yang terjadi saat ini benar-benar di luar prediksi. Akan tetapi, apa daya semuanya memang telah terjadi.
"Ada yang ingin kamu tuju lagi Bulan?" tanya Bintang sembari terus mengendalikan stir dengan kedua tangannya.
Bulan nampak menggelengkan kepalanya. "Aku rasa sudah cukup, Bin ... lagipula sudah hampir sore." sahutnya berusaha menjawab setenang mungkin.
Sekalipun hatinya berkecamuk, tetapi Bulan berusaha menjawab Bintang sebiasa mungkin. Jujur saja, gadis itu masih merasa canggung. Namun, tidak mungkin juga dia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Bintang.
"Yakin? Kalau kamu ingin melihat senja juga bisa." ucapnya sembari sesekali melirik Bulan.
Tawaran yang menggiurkan sebenarnya. Hanya saja, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Melihat senja dengan hati yang berkecamuk rasanya bukan pilihan yang tepat. Maka dari itu, Bulan pun menggelengkan kepalanya.
"Tidak ... tidak usah Bin. Ayo kita pulang saja." jawab Bulan dengan lirih.
Bintang pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan Bulan. "Mampir dulu di satu tempat ya, sudah sampai di sini, kamu harus mencoba makanan khas ini." ucapnya sembari tersenyum.
Ya, pria itu berusaha biasa saja dan senormal mungkin. Seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Sekalipun ingin sekali Bintang mengenyahkan semua rasanya yang begitu gelisah. Akan tetapi, pria itu juga memilih bersikap senormalnya dan sewajarnya.
"Mencoba apa?" tanya Bulan perlahan.
"Kita akan mampir untuk membeli Tempe Mendoan dan Teh Hangat. Tidak jauh dari sini kok." jawab Bintang dengan cepat.
__ADS_1
Bulan menganggukkan kepalanya. "Oke, tapi jangan pulang malam-malam ya Bin ... tadi Bapak sudah berpesan supaya tidak terlalu malam pulangnya."
"Iya ... semua waktunya sudah aku prediksikan. Tenang saja. Lagipula, tidak mungkin aku memulangkan anak gadis Bapak Hartono terlalu malam." jawab Bintang sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana walaupun hati mereka berdua sama-sama dingin saat ini.
Tidak berselang lama, Bintang memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Nampak sebuah warung sederhana yang terbuat dari bambu yang menjual Tempe Mendoan yaitu tempe yang dimasukkan dalam adonan tepung terigu dan bumbu serta daun bawang, kemudian digoreng di dalam minyak yang panas.
Udara yang dingin, ditemanin Tempe Mendoan dan Teh Panas khas Jawa yang memiliki rasa sepet, kental warnanya, dan beraroma melati menjadi pilihan Bintang untuk mampir di waktu menjelang sore itu.
"Ayo Bulan, dimakan mumpung masih panas. Ini cabainya." Bintang menyodorkan sepiring Tempe Mendoan yang masih panas lantaran baru saja keluar dari penggorengan dan cabai hijau yang biasa dimakan bersama tempe mendoan tersebut. Penjual untuk menyediakan sambal kecap yang tersaji di atas meja.
Bulan pun mengangguk dan perlahan mengambil satu Tempe Mendoan tersebut. Menggigit tempe yang masih panas dan cabai hijau yang terasa pedas di indera pengecapnya. Lantaran udara yang dingin dan sehabis hujan, Tempe Mendoan itu begitu cocok menemani sore itu.
Dalam hatinya, Bintang tersenyum melihat Bulan yang terlihat menikmati makanan sederhana berupa Tempe Mendoan dan Teh Panas itu.
Bulan pun mengangguk, "Iya. Ini enak." ucapnya sembari menggigit kembali Tempe Mendoan tersebut.
"Sebelumnya pernah makan Tempe Mendoan di area sini enggak?" tanya Bintang perlahan.
Dengan cepat Bulan menggelengkan kepalanya. "Enggak ... ini adalah pertama kalinya, aku makan Mendoan di sini."
Bintang nampak mengernyitkan keningnya, dia berpikir jadi selama enam tahun bersama Surya apakah memang Bulan tidak pernah diajak untuk jalan-jalan atau berwisata kuliner, mengapa hanya sebatas menikmati Mendoan saja baru pertama kalinya bagi Bulan.
Akan tetapi, di satu sisi Bintang bahagia karena dia menjadi pria pertama yang mengajaknya berwisata di Air Terjun Kedung Kayang dan sekarang dia juga menjadi pria pertama yang mengajaknya makan Tempe Mendoan dan Teh Panas. Hatinya bahagia, dan diam-diam Bintang tersenyum dalam hati. Kesan pertama akan selalu melekat di hati. Semoga saja suatu saat kelak, cintanya dan ketulusannya juga akan mengesankan untuk Bulan.
__ADS_1
Bintang mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah tissue kepada Bulan. "Ada sisa kecap di sudut bibirmu, Bulan." ucapnya sembari tersenyum.
Mengucapkan tentang bibir, sontak saja Bulan memejamkan matanya dengan dramatis. Mengingat kembali bagaimana Bintang mencium bibirnya dengan begitu lembut. Akan tetapi, Bulan segera menepis semua ingatan itu. Mencoba mengumpulkan kesadaran dan menerima selembar tissue yang diberikan Bintang, lalu menyeka sudut bibirnya.
"Terima kasih ...." ucapnya setelah menyeka sudut bibirnya yang terkena kecap.
Bintang pun mengangguk. "Sama-sama ... ayo, dimakan lagi. Atau sehabis ini kamu ingin mampir membeli makan malam? Kita baru makan pagi tadi, sudah pasti perut kamu lapar."
Merasa tidak enak dan juga masih canggung, Bulan pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Bin ... aku makan di rumah saja. Makan Mendoan dan Teh Panas saja sudah kenyang kok." ucapnya yang berusaha menolak secara halus.
"Oke, baiklah."
Usai menikmati Tempe Mendoan dan segelas Teh Panas, keduanya berniat untuk menyudahi makan camilan sore itu dan segera masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Bintang terlebih dahulu berdiri dan membayar Tempe Mendoan dan Teh Panas itu.
Bulan nampak mengekori Bintang dari belakang. "Sebenarnya aku saja yang bayar, Bin ...." ucapnya yang merasa tidak enak karena kali ini Bintang juga yang mengeluarkan uang.
"Mana ada, cowok keluar ngajak seorang cewek kok yang keluar uang ceweknya. Sudah, gak apa-apa." jawab Bintang dengan entengnya.
"Akan tetapi, aku yang enggak enak Bin ... aku malahan merepotkan kamu." jawab Bintang dengan lirih begitu mereka sudah sama-sama berada di dalam mobil.
Bintang tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jangan merasa merepotkanku, untukmu apa pun itu, aku tidak merasa repot. Sungguh. Kalau kamu sungkan, justru aku yang merasa tidak enak. Ya sudah, kita kembali ke Jogja sekarang? Tidak ada yang ingin kamu datangi lagi? Mumpung hari ini adalah harimu loh, aku siap menjadi Driver yang mengantarkanmu ke mana pun hari ini."
Setelah yang terjadi siang tadi, di bawah guyuran hujan bagaimana mungkin aku bisa bersikap biasa saja kepadamu, Bin?
__ADS_1
Pengakuanmu dan ciumanmu membuatku gelisah. Bagaimana aku harus menyingkapi semua ini, Bin?