
Di masa pandemi, bagi mereka yang bekerja dari rumah tetap merupakan sebuah anugerah. Sekalipun beberapa dari mereka tidak menerima penghasilan 100%, tetapi memiliki penghasilan tetap setiap bulannya sudah menjadi berkah tersendiri.
Namun, bekerja di rumah justru membuat beban pekerjaan lebih banyak dan durasi mengerjakannya juga melebihi jam bekerja harian di kantor seperti biasanya.
Beberapa hari berlalu, Bulan yang masih mengajar online nyatanya pekerjaannya justru semakin banyak. Di rumah pun dia harus membalas grup chat orang tua siswa untuk mengingatkan jadwal PR. Juga rencana dari sekolah untuk melakukan visiting ke rumah para siswa, tentu akan makin menyita waktu Bulan.
Sementara Surya di Makassar pun sama. Sebagai staf pajak yang dilakukan Surya sangat banyak mulai dari mencatat dan menghitung pajak yang perlu dibayar perusahaan, melapor dan membayar pajak tepat waktu, membuat rencana pajak, dan mencatat laporan keuangan serta data transaksi.
Kesibukan yang seolah membenamkan Surya pada berbagai data yang membuatnya harus bekerja ekstra hati-hati.
Di tengah-tengah kesibukan kesibukan pekerjaan mereka, ada salah satu yang turut terimbas yaitu pasang surut komunikasi keduanya. Jikalau di awal Long Distance Relationship mereka masih bisa berkomunikasi dengan intens, sekarang hanya sekadar membalas pesan saja rasanya tidak memiliki waktu.
Saat istirahat jam mengajar, Bulan nampak duduk dan mengamati handphone yang saat ini berada di atas meja kerjanya. Beberapa hari terakhir handphone hanya didominasi oleh para orang tua siswa yang mengumpulkan foto tugas dan berbagai pertanyaan tentang tugas sekolah. Dalam beberapa hari, intensitas pesan yang dikirimkan Surya juga berkurang.
Gadis ayu yang berprofesi sebagai guru itu nampak merasa ada sesuatu yang berkurang. Entah siapa yang memulai, tetapi komunikasinya dengan Surya nampak kacau. Jika biasanya baik dia dan Surya sama-sama mengirimkan pesan selamat pagi, pesan saat sedang makan, atau sekadar pesan yang dikirim untuk mengisi aktivitas mereka. Beberapa hari ini, rasanya pesan yang terkirim pun berkurang. Ada kekosongan di dalam hatinya yang Bulan rasakan. Akan tetapi, gadis itu tidak tahu. Bukan karena ada cinta yang lain. Bukan.
Dalam hening Bulan berpikir, tetapi dengan segera Bulan mengirimkan pesan untuk Surya.
[To: Surya]
[Kamu baru ngapain?]
[Aku baru istirahat mengajar.]
[Jangan lupa makan dan jaga kesehatan.]
Bulan kemudian menaruh handphonenya kembali ke atas meja. Kini Bulan melanjutkan pekerjaan yaitu menilai tugas-tugas yang sudah dikirimkan oleh muridnya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, hingga waktunya Bulan kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, Bulan nampak mengernyitkan keningnya. Kali ini pesan yang dia kirimkan untuk Surya bahkan belum terbaca. Centang dua di aplikasi pesannya belum berubah warna biru.
***
Sementara ini di Makassar, Surya sudah mulai bekerja dari kantor dengan jumlah 25% pegawai saja yang diharuskan work from office setiap harinya.
Kerjaan yang begitu banyak memang mengalihkan fokus pria berusia 23 tahun pada berbagai pekerjaan yang datang. Terlebih saat harus membuat rencana pajak memang dibutuhkan konsentrasi tinggi.
Hingga Surya tidak mengetahui bahwa Bulan mengirimkan pesan baginya dan juga menunggu jawabannya.
Merasa sudah waktunya jam makan siang, Surya memilih membeli makan siang di Rumah Makan Soto Ayam dan Gado-Gado yang berada di Sekolah Frater Kota Makassar. Dengan berjalan kaki beberapa meter, Surya telah sampai di rumah makan itu.
Setibanya di sana Surya memilih Soto Ayam dan segelas teh hangat. Betapa terkejutnya dia, saat ini dia kembali bertemu dengan Arunika yang juga telah makan siang di tempat itu.
"Hai Nika ... wah, enggak nyangka kita bertemu lagi di sini?" sapa Surya saat melihat Arunika telah duduk di salah satu meja.
Surya lantas menganggukkan kepalanya. "Iya, aku cuma sendirian. Karena enggak semua pegawai kerja dari kantor. Hanya boleh 25% pegawai aja yang boleh bekerja dari kantor. Boleh duduk semeja?" tanya Surya sebelum mengambil tempat duduk di meja Arunika.
Arunika pun menganggukkan, mengiyakan. "Iya boleh ... gabung aja. Udah pesen?" tanya Arunika.
"Iya, sudah...." jawab Surya.
"Kapan kamu pulang ke Jogja, Surya?" tanya Arunika di sela-sela waktunya menunggu pesanannya datang.
Surya hanya mengedikkan bahunya. "Entahlah ... susah untuk kembali pulang ke Jogja. Masih harus melakukan tes antigen untuk naik pesawat." jawab Surya.
Arunika nampak menganggukkan kepalanya. "Iya, bener banget. Dan, itu tidak menjamin kita aman selama dalam perjalanan ya. Karena virusnya ada di mana-mana. Bisa menular juga kan." sahut Arunika.
__ADS_1
"Hubungan kamu sama Bulan masih lanjut?" tanya Arunika kepada Surya.
Pria itu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. "Iya masih ... tetapi akhir-akhir ini kami sangat sibuk, komunikasi agak tersendat. Bersyukurnya masih bertahan." ucap Surya yang terlihat nampak tenang.
Tidak lama kemudian pesanan mereka berupa nasi dan Soto Ayam sudah tersedia di hadapan mereka. Dengan segera, Surya dan Arunika menikmati semangkok nasi Soto itu.
"Usahakan untuk selalu bangun komunikasi, Surya. Kunci hubungan jarak jauh ada di komunikasi. Jangan sampai sepertiku dan Bintang. Ya, walaupun aku tahu mungkin memang kami tidak berjodoh dan Bintang memang tidak menyukaiku." cerita Arunika.
"Iya ... aku tetep komunikasi kok sama Bulan. Setiap hari masih komunikasi. Beberapa hari lalu, Bintang ketemu loh Bulan." cerita Surya sembari mengunyah nasi Soto nya.
Arunika nampak menghentikan sejenak aktivitas makannya. "Oh ya ... dia baik kan?" tanya Arunika dengan nampak canggung.
"Mungkin baik. Kenapa kamu tidak mencoba menjalin hubungan lagi dengan Bintang?" tanya Surya dengan hati-hati.
Di sisi lain Arunika nampak tertawa. "Tidak Surya ... mencoba pun tidak akan mungkin karena kami berbeda prinsip. Aku ingin tinggal di Makassar dan dia ingin menetap di Jogja. Dari itu saja sudah terlihat jelas bagaimana kami ini tidak bisa bersama." ucap Arunika dengan senyuman di wajahnya.
Surya pun menganggukkan kepalanya. "Benar, kenapa harus ada jarak sejauh itu di antara dua orang yang saling menyayangi?"
Tidak terasa makan siang mereka telah usai, Surya pun berpamitan terlebih dahulu dengan Arunika karena pekerjaannya di kantor sangat banyak.
Begitu sampai di kantor, hal pertama yang dia cari adalah handphonenya. Betapa Surya cukup terkejut membaca deretan pesan dari Bulan.
Ah, betapa sibuknya aku sampai melewatkan membaca dan membalas pesanmu, Bulan...
Sejenak Surya merasakan ada sesuatu yang berkurang dari hubungan kedua. Mungkinkah rasa cintanya telah pudar?
Dengan segera Surya menepis semua perasaan itu, kedua matanya kembali menatap pada deretan pesan yang dikirimkan Bulan. Kemudian, Surya memilih menggerakkan jari jemarinya dan membalas pesan dari Bulan. Ya, mempertahankan komunikasi adalah satu-satunya cara yang bisa Surya lakukan saat ini.
__ADS_1