
Beberapa hari usai pertemuan Bulan dan Bintang, situasi di beberapa kota besar di Indonesia justru kian mencekam. Pun demikian dengan Kota Jogjakarta.
Deru ambulance terdengar di mana-mana, bendera merah berkibar di rumah-rumah warga (di Solo dan Jogja, bendera merah adalah tanda ada orang yang meninggal dunia), angka lonjakan Covid yang naik dengan signifikan, bahkan pusat perbelanjaan ditutup untuk sementara waktu.
Situasi tidak bisa terkendali. Banyak pasangan berpisah lantaran salah satu dari mereka terinfeksi Corona, anak-anak yang berpisah dari ibu dan ayahnya, semakin banyak pekerja yang di rumahkan, dan angka kematian yang tinggi membuat banyak anak-anak menjadi yatim piatu.
Bumi ini seolah terkena tulah. Dunia benar-benar berduka. Satu per satu korban berjatuhan, bahkan tenaga medis juga gugur satu per satu. Banyak manusia seolah kehilangan harapan. Tangisan, rintihan, bahkan keputusasaan seolah menjadi teman bagi manusia.
Di tengah situasi yang mencekam ini, mau tidak mau keluarga Bulan juga harus beradaptasi. Seiring dengan himbauan pemerintah daerah, Pasar Beringharjo tempat Bapaknya Bulan mengais rejeki pun harus ditutup.
"Hari ini Pasar Beringharjo mulai ditutup Bu." ucap Pak Hartono mengawali ceritanya kepada sang istri, Ibu Sundari. Terlihat kecemasan raut kecemasan di wajahnya.
Ibu Sundari hanya duduk dan menghela nafasnya yang seolah terasa berat. "Sudah tutup Pak? Sejak kapan?" tanya Bu Sundari.
Mendengar kedua orang tuanya yang tengah berbincang-bincang di teras rumah pun, Bulan turut bergabung dengan kedua orang tuanya. "Beneran ditutup kiosnya Pak?" tanya Bulan kepada Bapaknya.
"Iya Nduk ... di jalanan Malioboro memang ada segelintir pedagang yang berjualan. Akan tetapi sebagai besar memilih tutup. Jumlah pedagang di Malioboro dan Pasar Beringharjo yang jumlahnya ada 6.000 pedagang kiosnya akan ditutup. Tidak hanya Bapak, semua pedagang juga mengeluhkan penurunan omset. Kami semua benar-benar berada di titik nol karena Corona. Mengais Rupiah rasanya begitu berat. Membuka kios seharian penuh rasanya juga cuma dapat capek, karena tidak ada pembeli sama sekali." ucap Pak Hartono yang pagi itu terlihat lebih lesu.
Kelesuan itu tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu. Tidak hanya Pak Hartono sebagai salah satu dari banyaknya pengusaha Batik di Pasar Beringharjo, rekan-rekannya sesama pengusaha batik pun mengalami hal yang sama. Ingin menggerakkan sektor usaha rasanya sangat berat untuk Pak Hartono dan rekan pedagang Batik lainnya.
"Kami sebenarnya para penjual ini juga dilematis. Pemerintah mengimbau supaya semua warga mengurangi aktivitas di luar rumah supaya meminimalisir angka penyebaran virus Corona. Akan tetapi, kami juga punya para pegawai yang menggantungkan hidupnya kepada kami. Para pegawai juga membutuhkan gaji. Anak dan istri di rumah juga membutuhkan uang untuk makan, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Pasar Beringharjo dan Malioboro yang dulu ramai pengunjung, sekarang benar-benar sepi. Dipastikan Kios di Pasar Beringharjo 100% tutup. Sungguh ironis, sebelum Corona area Malioboro seakan selalu bersolek, padat dengan para wisatawan, sekarang sepi...." ucapnya.
Bulan dan Bu Sundari pun mendengar ucapan Pak Hartono. Menanggapi dan memberikan solusi agaknya juga susah, jadi lebih baik mereka memberikan telinga dan mendengar keluh kesah dari Sang Kepala Keluarga.
__ADS_1
Bulan melirik kedua orang tuanya yang hanya diam dengan pikiran masing-masing.
"Euhm, Pak ... di saat seperti ini, kita diminta untuk sabar, ikhlas, dan tawakal. Seperti nasihat Bapak sebelumnya kepada Bulan. Manusia diminta untuk semakin dekat dengan Tuhan, memperbaiki diri. Insyaallah, nanti Tuhan akan memudahkan semuanya. Cobaan ini semua orang mengalaminya, tidak hanya kita. Sabar nggih Pak ... Insyaallah, semua cobaan dari Allah akan membuat kita kuat. Allah yang memberi cobaan, Dia juga yang akan memberikan jalan keluarnya. Dengan terus dekat dengan Allah, kita semakin diingatkan bahwa kita hanyalah ciptaan yang harus senantiasa bergantung kepada Sang Pencipta." ucap Bulan yang ingin mengingatkan kepada Bapaknya untuk selalu sabar, ikhlas, dan tawakal.
Pak Hartono pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... kita cuma bisa bersabar dan berdoa, semoga semua ini segera berlalu. Saat ini, nikmat sehat itu tidak terkira. Melebihi segala sesuatu yang kita punyai."
Ibu Sundari pun turut sependapat dengan suami dan anaknya. "Benar sekali, keadaan sudah sulit. Asalkan kita masih sehat, itu sudah nikmat yang terhingga dari Gusti."
...🌸🌸🌸...
Sementara itu di Makassar, Surya seolah tengah gabut dengan kesehariannya yang lebih banyak dihabiskan di dalam kamar kost.
Jika sebelum pandemi, Surya termasuk orang dengan mobilitas yang cukup tinggi dan kini hanya mendekam di dalam kamar kost, membuat Surya dilanda kebosanan.
Siang hari di Kota Makassar begitu terik, sejak pagi di dalam kamar kost dan belum sarapan. Akhirnya Surya memilih untuk membeli makan siang di tempat yang tidak jauh dari kostnya.
Pria berusia 23 tahun itu keluar dengan mengenakan masker dan mengantongi hand sanitizer di dalam saku celananya. Masakan khas Makassar seperti Coto Makassar, Buras, dan Es Pisang Ijo agaknya sangat nikmat di santap kala panas terik seperti ini.
Dengan berjalan belasan meter saja, akhirnya Surya telah di Rumah Makan khas Makassar. Surya segera memesan menu makanan yang dia inginkan.
Sembari menunggu makanan dihantarkan, Surya duduk-duduk sembari melihat-lihat aplikasi pesan di handphone. Segeralah dia mengirimkan pesan untuk Bulan.
[To: Bulan]
__ADS_1
[Kamu baru ngapain Bulan?]
[Sejak pagi kenapa tidak mengirimiku pesan?]
[Aku sedang makan di rumah makan khas Makassar.]
[Kamu di sana jangan lupa makan ya....]
Pesan-pesan itu meluncur dengan sempurna untuk Bulan, tetapi hanya sebatas terkirim belum terlihat.
Hingga akhirnya pesanan Surya pun datang. Dengan segera ia ingin menyantap makanan yang menggugah selera itu. Namun, sebelum ia mulai menikmati makanan itu, Surya mengernyitkan keningnya lantaran yang dia pesan adalah Coto Makassar, sementara yang disajikan di hadapannya adalah Sup Konro.
Dengan segera Surya memanggil sang penjual dan mengonfirmasi lagi pesanannya.
"Permisi Bu, saya pesannya Coto Makassar kok ini yang datang Sup Konro ya?" tanya Surya dengan ramah.
Setelah Surya ada pula seorang gadis yang juga menerima pesanan yang salah. Gadis berambut panjang itu juga berdiri dan memanggil penjualnya. "Bu, saya pesannya Sup Konro kok ini yang datang Coto Makassar ya? Buras yang saya pesan juga belum datang ya Bu...." ucap gadis itu.
Seperkian detik berikutnya, Surya dan gadis itu sama-sama menoleh. Mungkinkah pesanan mereka tertukar.
"Surya...."
"Arunika...."
__ADS_1