
Tidak terasa sudah lima hari, Bulan menjalani Isolasi Mandiri. Selama itu pula, Bintang selalu setia mengirimkan makanan, buah-buahan, bahkan susu kaleng untuk Bulan.
Jika beberapa hari sebelumnya, Bulan hanya merasa demam dan batuk-batuk. Di hari kelima ini, Bulan merasa kehilangan indera penciuman dan perasanya. Kehilangan indera perasa dan penciuman ini sering kali disebut dengan Anosmia.
Bulan terasa panik saat bangun di pagi hari, dia tidak bisa menghirup inhaler yang biasa dia hirup untuk melegakan indera penciumannya. Selain itu, saat dia memakan buah Apel sebagai sarapan rasanya benar-benar hambar. Rasa manis, segar, bahkan asam dari buah Apel sama sekali tidak terasa di indera pengecapnya.
"Kenapa tiba-tiba aku tidak bisa merasakan apa-apa ya Tuhan...
Hidungku bermasalah...
Lidahku juga..."
Mulailah Bulan kembali berderai air matanya. Tidak tahu harus melakukan apa, Bulan hanya mampu menghirupi inhaler dengan hidungnya berusaha mengembalikan kembali indera penciumannya. Lantaran sekian waktu dia menghirupi inhaler dan tidak ada perubahan sama sekali, Bulan pun menghubungi Puskesmas terdekat meminta untuk diperiksa dan menyampaikan keluhannya.
Menjelang siang, barulah pihak Puskesmas datang dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Kali ini Bulan kembali diperiksa, sekaligus tes usap lima hari yang lalu akan dibacakan.
"Selamat siang Mbak Bulan, bagaimana kondisinya?" tanya petugas kesehatan tersebut.
"Tadi pagi saya bangun, justru indera penciuman dan indera perasa saya hilang. Gak bisa mencium apapun." jawab Bulan.
__ADS_1
Tenaga kesehatan pun mencatat keluhan kesehatan Bulan dalam sebuah buku. Tidak lupa, hasil tes usap Bulan dibacakan kembali. "Hasil tes usap, lima hari yang lalu masih positif ya Mbak ... jadi harus dilanjutkan isolasi mandirinya. Untuk kehilangan indera perasa dan penciuman itu disebut Anosmia. Coba terapkan beberapa langkah berikut: Pertama, bersihkan bagian dalam hidung Caranya tidak sulit, bilaslah bagian dalam hidung dengan larutan air garam. Cara ini membantu jika indra penciuman dipengaruhi oleh infeksi atau alergi. Kedua, Pelatihan penciuman melibatkan menghirup berulang-ulang dan sengaja mengendus satu set bau (biasanya lemon, mawar, cengkeh, dan kayu putih). Cara ini dilakukan selama 20 detik, masing-masing setidaknya dua kali sehari. Ketiga, konsumsi Vitamin A." penjelasan dari tenaga medis tersebut yang dicatat Bulan dalam fitur catatan di handphonenya.
"Apakah ada gejala lainnya?" lagi tanya tenaga kesehatan tersebut kepada Bulan.
"Saya agak mual rasanya, mungkin karena indera perasa sedang bermasalah sehingga makanan yang saya telan, rasanya hambar." ucap Bulan kepada tenaga kesehatan tersebut.
"Benar ya Mbak ... itu memang terjadi karena Anosmia. Beberapa langkah yang saya sebutkan tersebut bisa dilakukan. Bila gejala ringan ini berubah ke gejala berat, maka Mbak Bulan harus mengikuti karantina terpadu." ucap tenaga kesehatan tersebut.
Mendengar kata 'karantina terpadu' justru Bulan merasa harap-harap cemas. Dia berharap bisa sembuh dengan melakukan isolasi mandiri di rumah.
Setelah pengecekkan kesehatan bagi Bulan selesai, tenaga kesehatan pun berpamitan pulang. Mereka akan kembali lagi untuk melakukan tes usap di hari kesepuluh nanti.
...🌸🌸🌸...
Siang ini, orang tua Bulan pun melakukan panggilan videocall. Mereka sudah kangen dengan Bulan, tetapi belum bisa bertemu dan berkumpul lagi karena Bulan masih belum negatif.
"Nduk, piye kabare? (Nak, gimana kabarnya?)" tanya Bu Sundari begitu panggilan video telah tersambung dan memperlihatkan wajah Bulan di layar handphonenya.
Belum sempat Bulan menjawab, Bu Sundari terlebih dahulu telah menangis. Sementara Pak Hartono hanya menepuk-nepuk bahu istrinya yang tidak bisa lagi membendung air matanya saat melakukan panggilan video kepada putri satu-satunya, yaitu Bulan.
__ADS_1
"Bu, jangan menangis. Bulan tetap berjuang untuk sembuh." sahut Bulan.
Gadis itu bahkan menggigit bibir bagian dalamnya, berusaha menahan kesedihan dan air matanya. Bulan tentu saja rapuh, kangen dengan orang tuanya, kangen bisa berkumpul lagi. Apadaya dia masih harus melanjutkan perjuangan.
Mata Bulan pun memerah karena menahan tangis hingga terasa pedih rasanya. Bulan tidak ingin orang tuanya semakin kepikiran hingga akhirnya berdampak pada kesehatan mereka.
"Kamu kok kurusan, Bulan. Gimana pengen apa? Biar Bapak dan Ibu belikan dari sini." ucap Bu Sundari masih dengan terisak.
"Bulan mboten (tidak - dalam bahasa Jawa) pengen apa-apa, Bu ... Cuma pengen sembuh. Doakan Bulan nggih, supaya Bulan cepat sehat, cepat negatif." ucapnya dengan berusaha tersenyum kepada orang tuanya.
"Pasti Bapak dan Ibu berdoa buat kamu. Sama-sama berdoa ya, semoga segera negatif. Segera sehat. Supaya kita bisa berkumpul lagi. Bapak dan Ibu juga sudah kangen, Nduk." kali ini Pak Hartono lah yang berbicara kepada Bulan.
Bulan nampak menganggukkan kepalanya. "Bulan tetap berusaha sembuh, Pak ... doakan Bulan selalu, tanpa doa semuanya sia-sia. Biar Tuhan berbelas kasihan untuk menyembuhkan Bulan."
"Pasti ... tanpa kamu minta pun, Bapak dan Ibu selalu berdoa buat kamu. Obatnya jangan lupa diminum, olahraga, makan yang bergizi, dan berjemur, Nduk ... semoga gak lama lagi bisa sehat dan negatif hasilnya." lagi Pak Hartono yang mengingatkan Bulan.
"Amin Pak...."
Ketika panggilan video telah usai, barulah air mata Bulan tumpah ruah. Segala perasaan sakit, rindu, hingga kesepian mengalir menjadi satu melalui air matanya. Gadis itu duduk hingga merosot di lantai dengan kedua tangan yang seolah memeluk kedua kakinya. Bukan hanya sakit secara fisik yang dirasakan Bulan, secara mental dia pun tertekan. Ada hasrat ingin sembuh, kembali sehat, kembali bisa bertemu dengan kedua orang tua, bisa kembali beraktivitas. Akan tetapi, dia hanya bisa mengisolasi dirinya sendiri di dalam kamar. Hari-hari berlalu, pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam. Begitulah hari-hari berganti dan Bulan hanya bisa mengisolasi dirinya sendiri.
__ADS_1
Ketika waktu dalam satu hari terasa begitu lambat, saat seluruh aktivitas hanya bisa dilakukan di dalam rumah, saat kerinduan tidak terbalas karena harus seorang diri, Bulan hanya bisa menangis. Sungguh, air matanya tak terbendung lagi. Kendati demikian, Bulan masih memiliki satu asa yang tidak akan dia biarkan padam. Satu asa yang selalu dia perjuangkan dan harapkan setiap hari, yaitu asa untuk sembuh.
Harapannya tidak hilang. Bulan mengingat satu per satu orang yang menyayanginya, orang-orang yang selalu berdoa untuknya, dan orang-orang yang selalu mensupport dirinya saat dia benar-benar berada di titik nadirnya. Demi merekalah, Bulan mau berjuang. Demi merekalah, Bulan mau bertahan. Demi merekalah, Bulan tidak akan kehilangan asanya untuk sembuh.