Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Akhir Kisah Kita


__ADS_3

Jika ada perubahan drastis yang dapat terjadi di bawah kolong langit ini, salah satunya pasti karena keputusan Bulan yang memilih untuk mengakhir kisah perjalanan kasih mereka yang sudah terjalin 6 tahun lamanya.


Dua sejoli yang menjalin cinta sejak di bangku SMA ini sudah layaknya kisah Galih dan Ratna. Bersama-sama saling mencintai, saling mengerjar mimpi, saling mensupport, hingga banyak teman-teman mereka yang memprediksi bahwa hubungan keduanya akan berlanjut hingga ke pelaminan. Bahkan hubungan kedua pun digadang-gadang akan seperti Galih dan Ratna di era Milenial.


Sayangnya suratan takdir yang bergerak seirama dengan kata hati dan keputusan manusia telah menggariskan bahwa hubungan selama 6 tahun itu harus kandas begitu saja. Kandasnya sebuah hubungan yang tentunya amat menggoreskan luka di hati Surya dan juga Bulan.


Pria yang masih terduduk di kursi kayu itu perlahan menundukkan wajahnya, dia merasa apa yang diputuskan oleh Bulan terlalu kejam baginya. Tidak ada kesempatan kedua dengan dalih, tidak ingin larut dalam hubungan yang hanya tidak memberi kepastian. Perlahan pria itu, mengangkat wajahnya sejenak guna menatap kembali wajah ayu yang selalu dirindukan dan dicintainya siang dan malam itu.


"Jika memang itu keputusanmu, aku terima Bulan ...." ucap Surya berbesar hati menerima keputusan Bulan.


Keputusan yang sangat sulit dan berat untuk diterima oleh hatimu, tetapi Surya memilih untuk mau menerima apa yang sudah Bulan putuskan.


Bulan yang sedari tadi juga menunduk pun perlahan untuk mengangkat wajahnya perlahan, hingga kini dia pun bisa melihat sosok Surya di dalam sorot wajahnya. "Surya, aku juga minta maaf jika selama ini aku juga banyak salah kepadamu. Kesalahan yang kulakukan sengaja mau pun tanpa sengaja. Semoga setelah ini, tidak ada luka yang kita simpan ya ... doaku, kamu akan menemukan gadis yang sepadan denganmu. Aku harap, sekalipun tidak menjadi pasangan, kita bisa masih berteman." ucap Bulan yang tentunya dia pun merasa selama 6 tahun ini, tidak dipungkiri dirinya melakukan banyak kesalahan.


Saat kata maaf itu terucap, diharapkan akan direspons dengan sikap mau memaafkan. Tidak lagi menyimpan kesalahan yang lama, tetapi bisa sama-sama mulai lembaran baru. Sekalipun memang tidak bisa bersama sebagai pasangan, tetapi bisa bersahabat dan menjadi teman.


Kemudian Surya memilih bangkit dan duduknya, pria itu tersenyum dengan getir. "Aku pamit ya ...." ucapnya yang mengatakan pamit. Mungkin saja ini akan menjadi pamitnya yang terakhir. Ada hatinya yang masih terasa begitu sakit dan nyeri saat ini. Ada otaknya yang belum bisa sepenuhnya menerima bahwa kisah cintanya berakhir sudah.


Bulan pun turut bangkit, gadis itu lantas mengulurkan tangan kanannya kepada Surya. "Terima kasih buat 6 tahun ini ... terima kasih, bersamamu aku belajar banyak hal dan juga aku belajar apa itu bersabar. Terima kasih banyak buat semuanya. Aku harap kamu akan bahagia, Surya." ucap Bulan dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Ucapan yang sangat logis, selama 6 tahun bukan hanya duka dan sikap posesif yang diberikan oleh Surya. Akan tetapi, dari Surya jugalah Bulan belajar banyak hal baru dalam hidupnya. Belajar menunggu dengan sabar, belajar menerima keputusan, dan sekarang dia belajar untuk melepaskan.


Surya pun turut mengulurkan tangannya guna menjabat tangan Bulan. "Terima kasih juga Bulan ... terima kasih sudah bersabar denganku selama ini. Terima kasih sudah mau mengisi hari-hariku sepanjang 6 tahun ini tanpa pernah mengeluhkan kata bosan." ucap pria itu dengan haru. Bahkan wajahnya pun sekarang memerah, ada duka yang terpendam di sana.


Usai saling berjabat tangan, Surya pun menghela napasnya panjang, kemudian memutar badannya dan perlahan dia berjalan keluar dari rumah itu. Sesekali pria itu memejamkan matanya, berusaha menerima akhir kisah cintanya yang memang tak sempurna. Pria itu terus berjalan tanpa mencoba untuk menoleh ke belakang, satu tangannya bergerak meremat kotak cincin yang tersimpan di saku celananya.


Usahanya kali ini tidak membuahkan hasil. Sia-sia. Akan tetapi, setidaknya masalah keduanya sudah sama-sama diselesaikan. Tidak ada hal yang mengganjal keduanya.


Sementara di depan pintu rumahnya, tanpa disangka tetesan air mata membanjiri wajah Bulan begitu saja. Gadis itu menangis dalam diam dengan satu tangan yang memegangi dadanya, berusaha menahan rasa sakit yang sebenarnya juga sangat menusuk dan menyakiti jantung hingga ulu hatinya.


Maafkan aku Surya ....


Berusaha konsisten dengan keputusanku sendiri.


Aku pun terluka, Surya ....


Sangat terluka.


Sayangnya, aku harus memilih untuk terus bersamamu atau sendiri.

__ADS_1


Saat ini, aku memilih mengakhiri semuanya


Bukannya aku kejam, sekali-kali bukanĀ 


Hanya saja, perlakuan kasarmu kemarin benar-benar membuatku takut


Bahkan untuk menghadapimu saja, butuh bagiku untuk mengumpulkan seribu keberanian.


Gadis itu menutup mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara tangisan, dan berlari menuju kamarnya. Tanpa sepengetahuan Bulan, rupanya Bu Sundari pun tahu bahwa putrinya tengah menangis.


Sebagai seorang Ibu, Bu Sundari sangat tahu bahwa Bulan pun sangat berat untuk memutuskan semua ini. Akan tetapi, saat ini Bu Sundari memilih diam, membiarkan putri satu-satunya yang dimilikinya itu untuk mencerna dan memahami semua situasi dan kondisi saat ini. Memberi waktu bagi Bulan untuk menenangkan hati dan pikirannya sendiri. Saat Bulan sudah terlihat tenang, barulah Bu Sundari akan memberikan nasihat dan juga semangat untuk putrinya itu.


Ada kalanya memang orang tua tidak terlalu mengintervensi anak. Ada kalanya orang tua memilih menunggu dan memberikan waktu bagi anaknya, setelah si anak merasa tenang dan merasakan waktu yang tepat, anak tentu akan berlari kepada orang tuanya dan berbagi kisah hidupnya. Itulah yang tengah dilakukan Bu Sundari saat ini. Tidak dipungkiri bahwa Bulan pasti bahwa bersedih, dan sebagai seorang Ibu, sudah pasti dia merasa tidak tega. Akan tetapi, biarlah Bulan mengurai semuanya terlebih dahulu.


Sementara itu, di dalam kamarnya, Bulan menjatuhkan badannya secara menelungkup. Menyembunyikan wajahnya yang penuh tetesan air mata pada bantal kamar tidurnya. Isakan tangis terdengar melingkupi seluruh kamar itu. Tangisan yang syarat kesedihan, tangisan kehilangan yang harus mau tidak mau dijalani dengan ikhlas.


Kisah kita telah usai, Surya ... sampai di sini, ya hanya sampai di sini. Tidak akan ada lagi kisah cinta yang melegenda dari bangku SMA antara Bulan dan Surya. Semuanya sudah berakhir. Sekali lagi, maafkan aku.


Gadis itu bergumam dalam tangisannya. Membiarkan dirinya menangis, terisak, hingga sesegukan menerima kenyataan perpisahan dengan Surya yang memang sudah dipilihnya sendiri. Inilah akhir dari cerita Bulan dan Surya, selama apa pun sebuah hubungan tidak akan bersatu jika memang tidak digariskan oleh sang Pemilik Alam Semesta.

__ADS_1


Sama halnya nama keduanya, Surya adalah matahari yang akan selalu menyinari Bumi di kala siang. Sementara Bulan adalah penjaga malam. Dua penguasa angkasa dengan waktu yang berbeda tidak akan pernah bersama.


__ADS_2