
Pertanyaan yang diajukan sang Bapak kepada Bulan jujur saja membuat Bulan berpikir keras. Ya, apa yang ditanyakan Pak Hartono ada benarnya, saat memutuskan menikah dengan Surya nanti sudah pasti Bulan harus siap meninggalkan Jogjakarta dan mengikuti Surya. Sebab memang begitulah seyogyanya, jika memang Bulan tidak berencana mengikuti Surya maka mereka akan melakukan Long Distance Married.
"Jadi gimana kamu siap enggak ya meninggalkan Jogjakarta?" lagi tanya Pak Hartono kepada putrinya.
Bulan tersenyum kikuk lalu menghela napasnya sejenaknya. "Yang Bulan pikirkan itu, meninggalkan Jogjakarta tidak masalah. Yang masalah adalah harus jauh dari Bapak dan Ibu. Ya, sekalipun Bulan tahu kalau menikahi Surya nanti harus siap di tempatkan di seluruh Indonesia. Begitu Surat Keputusan Mutasi diberikan, maka harus siap pindah. Sementara bagaimana dengan pekerjaan Bulan?"
"Dalam hidup selalu ada pilihan Bulan. Ada kalanya kamu harus melepaskan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Ada kalanya tidak semua hal bisa kamu dapatkan. Maka dari itu, kamu harus mulai pikirkan dari sekarang. Kalau Bapak sendiri tidak keberatan kalau mengikuti Surya setelah menikah nanti. Seorang Istri memang lebih baik mendampingi suaminya. Menolongnya, mengurusnya, dan memperhatikannya. Itu adalah tugas seorang Istri. Juga, kamu harus siap di mana saja Surya akan ditempatkan nanti." Nasihat dari Bapak Hartono kepada anaknya.
Bulan pun menganggukkan kepala. "Iya Pak ... Bulan juga mulai memikirkan itu. Sementara kita melakukan Long Distance Married jika masih berdua rasanya tidak terlalu berat. Namun, kalau sudah mempunyai anak kasihan anak-anaknya nanti. Mereka membutuhkan figur, teladan, dan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Jadi ya memang susah Pak." ungkap Bulan dengan pemikirannya kepada Bapaknya.
Baru saja Pak Hartono akan melanjutkan pembicaraannya, rupanya Bu Sundari turut bergabung dengan mereka di teras rumah.
"Baru ngobrolin apa? Kok serius banget." tanya Bu Sundari yang mengambil tempat duduk di dekat suaminya.
"Gak apa-apa Bu ... Ngobrol saja sama Bulan. Bapak itu tanya apa Bulan siap meninggalkan Jogjakarta kalau nanti menikah dengan Surya?" Pak Hartono mengulangi pertanyaannya dan menceritakan kepada istrinya.
Bu Sundari nampak menganggukkan kepalanya dan seolah memikirkan pertanyaan yang diucapkan suaminya itu. "Yang Bapak tanyakan itu benar Bulan ... kalau Ibu pribadi, Ibu tidak mempermasalahkan jika kamu mengikuti Surya. Seorang Istri memang lebih baik mendampingi suaminya. Susah dan senang bersama. Sebab kehidupan pernikahan itu juga harus belajar, beradaptasi satu sama lain." ucap Bu Sundari yang memberikan nasihat juga kepada Bulan.
"Iya Bu ...." Bulan kemudian menjeda ucapannya. "Masalahnya Bulan sendiri tidak tahu kapan akan dipinang Surya, Bu. Pihak perempuan hanya bisa menunggu lamaran dari pihak pria Bu. Tidak ada lagi yang bisa Bulan lakukan." ucapnya seraya mencoba tersenyum, padahal hatinya berkecamuk.
Yang Bulan katakan memang fakta, dalam tradisi masyarakat Jawa, termasuk Jogjakarta pihak perempuan hanya pihak yang menunggu lamaran dari pihak pria. Sangat tidak elok apabila pihak perempuan meminta atau mengajukan lamaran. Sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi, keluarga Bulan pun sangat tahu jika mereka hanya bisa menunggu saja.
__ADS_1
"Ya yang sabar Nduk ... selama kita bersabar insyaallah semua akan terbuka satu per satu. Itu kuncinya." ucap Bu Sundari sembari menatap lekat wajah anaknya.
Sama halnya dengan Bu Sundari, Pak Hartono juga nampak menganggukkan kepalanya. "Selama kamu bisa bersabar dan perasaanmu tidak luntur, cobalah bertahan. Sekuatmu, semampumu. Kunci hubungan kan pada perasaan kalian berdua. Mau dibawa kemana juga pada akhirnya kamu yang menentukan."
"Iya Pak ... Makanya Bulan mencoba bertahan dengan keadaan. Kalau Surya setia, Bulan akan mencoba setia juga. Namun, kondisi yang sangat jauh dan ditambah pandemi itulah yang membuat kian terasa berat." ungkap Bulan dengan jujur kepada orang tuanya.
Saat mereka berbicara di depan rumah, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah gerbang rumah. Bulan pun menegakkan punggungnya, lalu berdiri. "Biar Bulan saja yang bukakan...." ucapnya dengan berjalan menuju gerbang rumahnya.
Begitu gerbang terbuka, Bulan nampak sedikit terkejut melihat siapa yang datang. Gadis itu pun tersenyum.
"Eh, Bintang ... kamu ke sini?"
Rupanya Bintang yang siang itu datang ke rumah Bulan.
"Sejak tadi aku mencoba telepon kamu enggak dijawab, makanya aku ke sini." Bintang lanjut berbicara dan wajahnya terlihat begitu tenang.
Di satu sisi, Bu Sundari ingin tahu siapa yang datang karena Bulan masih nampak berdiri di depan pintu gerbang.
"Siapa Nduk, yang datang? Ayo ... disuruh masuk." ucap Bu Sundari setengah berteriak menyuruh tamu yang datang untuk masuk.
"Nggih Bu ...." sahut Bulan.
__ADS_1
Bulan kemudian tersenyum dan membuka gerbangnya dengan lebih lebar. "Masuk aja Bin ... disuruh Ibu masuk tuh."
Barulah Bintang nampak kikuk. "Aku cuma sebentar Bulan...." sergahnya yang mencoba hanya datang sebentar.
"Masuk saja ... nanti Ibu marah, kamu gak boleh ke sini loh." goda Bulan yang sukses membuat Bintang akhirnya melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumah Bulan.
"Tamunya ini Bu ... Bintang yang datang." ucap Bulan sembari berjalan mendahului Bintang.
"Oalah Mas Bintang ... masuk-masuk Mas." Bu Sundari dan Pak Hartono nampak serentak menyuruh Bintang untuk masuk.
Di tempat duduk yang berada di depan teras rumah, Bintang membungkuk dan memberi salam kepada Bapak dan Ibunya Bulan. "Sugeng siyang (selamat siang dalam bahasa Jawa) Pak, Bu ...." sapanya dengan sopan.
"Ya ya Mas Bintang ... matur nuwun ya, kemarin waktu Bulan positif, Mas Bintang sudah nolongin Bulan. Bapak dan Ibu mengucapkan terima kasih untuk kebaikan Mas Bintang." ucap Pak Hartono.
Ya Pak Hartono berterima kasih karena selama Bulan positif, Bintang lah yang memberikan makanan dan berbagai obat dan vitamin. Bahkan Bintang juga datang nyaris setiap hari untuk sekadar menyapa Bulan dari jauh.
Bintang pun tersenyum. "Sama-sama Pak ... Saya juga senang bisa membantu Bulan. Bukan hanya Bulan, siapa pun yang membutuhkan bantuan, pasti saya akan menolong."
"Ibu juga berterima kasih ya Mas ... sudah turut menjaga dan memperhatikan Bulan. Bapak dan Ibu cuma bisa berterima kasih." Bu Sundari juga turut mengucapkan terima kasih kepada Bintang.
"Sama-sama Bu...." sahut Bintang sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bu Sundari pun lantas tersenyum. "Pasti repot ya Mas, harus mencarikan makanan dan bolak-balik ke sini?" tanya Bu Sundari sembari menatap wajah Bintang yang saat itu tertutupi masker.
Bintang tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu ... Tidak repot. Lagipula Bulan juga makannya tidak susah, apa saja dimakan. Tidak ada permintaan khusus, jadi saya hanya mengira-ira saja. Lagipula yang penting sekarang Bulan sudah sembuh." akunya dengan hati yang hangat karena Bintang memang tulus melakukan semuanya untuk Bulan.