Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Filosofi Gudeg


__ADS_3

Perlahan tapi pasti, Bintang mengemudikan mobilnya. Pelan-pelan mobil itu melewati kawasan Malioboro yang minggu itu terasa lengang, melaju lurus hingga mencapai titik 0 (nol) Kilometer Kota Jogjakarta, memasuki area Keraton Kasultanan Jogjakarta, lalu berbelok di area Sentra Gudeg Wijilan, Jogjakarta.


Hari masih pagi, tetapi beberapa penjual Gudeg sudah bersiap menjamu pembeli yang ingin sekadar sarapan Nasi Gudeg khas Jogjakarta yang begitu tersohor hingga ke Mancanegara.


"Gudeg yang deket pintu gerbang putih itu saja, Bin... rasanya enak, ada Blondo (olahan makanan dari ampas kelapa), Gudegnya juga enak. Mau enggak?" tawar Bulan sembari menunjuk salah satu rumah berbentuk bangunan tua yang menjual Gudeg Khas Jogjakarta.


Bintang memang tidak menjawab, tetapi terlihat dia mengurangi kecepatan mobilnya dan mengambil parkir di tepian jalan yang berada di tempat makan yang ditunjuk Bulan itu.


"Yuk ... kita makan di sini kan?" tanyanya begitu mobil berwarna merah itu telah terparkir sempurna di tepi jalan.


Keduanya lantas turun dari mobil dan Bulan memesan dua porsi nasi Gudeg untuk mereka berdua.


"Bu, mau nasi Gudeg komplitan nggih dua. Dimakan di sini." pesannya kepada Ibu yang menjual Gudeg itu.


"Monggo Mbak pinarak (Mari, silakan masuk Mbak)...."


Menunggu beberapa menit dan kini nasi gudeg komplit dan segelas teh hangat sudah tersaji di hadapan mereka. Bulan nampak meraih sendok garpu di hadapannya kemudian memberikannya kepada Bintang.


"Sendoknya Bin...." ucapnya sembari tersenyum.


"Ah iya ... makasih banyak ya." sahut Bintang sembari mengucapkan terima kasih kepada Bulan.


Perlahan keduanya menikmati sajian Nasi Gudeg yang komplit dengan Sambal Goreng Krecek (kerupuk dari kulit sapi), Ayam, Telor yang dimasak kecap atau biasa disebut Telor Pindang, dan Blondo yang membuat menu sarapan pagi itu terasa istimewa.

__ADS_1


"Kamu tahu filosofi Gudeg ini enggak, Bulan?" tanya Bintang di sela-sela obrolannya.


Bulan nampak menghentikan sejenak dentingan sendok dan garpunya lantas menatap pada Bintang. "Apa Bin? Setahuku ini menceritakan filosofi orang Jawa pada umumnya untuk selalu sabar karena proses memasak Gudeg yang sangat lama."


Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Bener banget. Memasak gudeg dipahami sebagai cerminan sempurna dari filosofi Jawa yang penuh nilai ketenangan, kesabaran dan teliti, tidak terburu-buru dan anti-sembrono." jelasnya sembari sesekali menyantap nasi Gudeg di hadapannya.


"Ternyata orang zaman dulu kalau membuat sesuatu itu sampai dipikirkan filosofinya ya Bin... bukan hanya sastrawan Barat aja yang membuat sesuatu dan kaya nilai filosofis. Di Indonesia pun sama. Aku yakin enggak hanya di Jogjakarta atau masyarakat Jawa pada khususnya, suku-suku lain di bangsa kita pun memiliki pemikiran dan filosofis yang tinggi." ucap Bulan dengan penuh keyakinan.


"Iya ... sudah pasti itu Bulan. Kamu pernah mencoba Gudeg Manggar?" tanya Bintang kepada Bulan.


Gadis yang saat ini duduk di hadapannya itu menggelengkan kepala. "Manggar itu bunga kelapa?"


Bintang menganggukkan kepalanya. "Iya ... bunga kelapa. Pernah coba belum? Dari wajah kamu keliatannya sih belum pernah mencoba ya?"


"Iya ... aku belum pernah mencoba." jawab Bulan.


"Boleh ... kapan-kapan ya." sahut Bulan dengan antusias.


Mendengar bahwa Bulan nampak menyetujui ajakan Bintang sontak saja hati pria itu diam-diam merasa bahagia. Kebahagiaan yang hanya dirasakan oleh hatinya tanpa pernah dia bagi dengan siapapun.


Mungkin Bintang adalah cerminan dari masakan Gudeg itu sendiri. Sosok yang menunjukkan kesabaran. Sekian tahun mencintai seorang diri tanpa pernah mengatakan apa yang dirasakan hatinya oleh siapapun. Bersabar menanti, bersabar menunggu walaupun semua seakan tidak pasti. Bahkan Bintang juga bersabar saat sahabatnya sendiri justru yang menjadi kekasih dari gadis yang sudah dia cintai sekian waktu lamanya.


Bukan miris, tetapi memang Bintang benar-benar bersabar. Dia masih percaya bahwa jodoh tak akan ke mana. Mungkin dia salah karena mengharapkan Bulan karena Bulan telah berpacaran sekian waktu lamanya. Namun, apa yang dirasakan oleh hati tidak akan pernah salah bukan.

__ADS_1


"Hmm, jadi usai sarapan ini kita mau ke mana?" tanya Bintang sembari menatap Bulan.


"Sebenarnya aku pengen ke Air Terjun Kedung Kayang, Bin ... tetapi itu jauh banget enggak sih?" tanya Bulan yang mengatakan keinginannya untuk mengunjungi Air Terjun Kedung Kayang.


Sejenak Bintang mengecek peta digital di handphonenya, melihat apakah lalu lintas ke arah Air Terjun Kedung Kayang lancar dan tidak macet. Bagi Bintang ke mana pun Bulan ingin pergi, dengan senang hati dia akan mengantarkannya.


Setelah mengecek arus lalu lintas di peta digitalnya, Bintang sedikit tersenyum dan melirik pada Bulan yang saat itu tengah menyeruput teh hangatnya.


"Yuk, kita ke Air Terjun Kedung Kayang." ucapnya dengan sangat meyakinkan.


Bulan seketika tersenyum, wajahnya terlihat benar-benar bahagia. "Serius Bin? Jauh loh, itu ke arah perbatasan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu."


Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya... ayo kita ke sana. Ke mana pun kamu ingin pergi, aku akan mengantarkanmu. Hanya satu hari ini saja, dan yang penting sesuai pesan Bapak tadi, kita enggak pulang terlalu malam. Jadi cepat selesaikan sarapannya dan kita menuju Air Terjun Kedung Kayang. Mumpung masih pagi."


"Wah, terima kasih Bin ... aku sudah selesai kok ini, bentar aku bayar dulu." Bulan seketika bersiap berdiri.


Akan tetapi, Bintang lah yang terlebih dahulu berdiri dan menyergah Bulan supaya tidak membayar terlebih dahulu.


"Biar aku saja...." ucapnya dan kemudian membayar sarapan mereka pagi itu berupa Nasi Gudeg dan Teh Hangat.


Setelahnya keduanya pun berpamitan kepada penjual Nasi Gudeg itu dan bergegas masuk ke dalam mobil.


"Harusnya aku saja yang bayar. Kamu sudah ngajakin aku main, malahan masih bayarin makannya. Biar aku aja, Bin...." ucap Bulan yang tentu merasa tidak enak dengan Bintang.

__ADS_1


Bintang pun tersenyum. "Malu dong jadi cowok kalau cuma makan malahan cewek yang bayarin. Udah gak papa. Kamu gak perlu membayar atau apapun. Anggap hari ini adalah harinya kamu. Hari merayakan kesembuhanmu. Kita piknik hari ini." ucapnya dengan kedua tangan yang mengemudikan stir mobilnya.


Entah apa yang terjadi, Bulan merasakan Bintang begitu tulus padanya. Hatinya menghangat mendengarkan perkataan Bintang. Terlebih saat Bintang mengatakan bahwa hari ini adalah harinya, seolah Bintang menjadi salah satu dari kesekian banyak orang yang benar-benar bahagia dengan kesembuhan Bulan.


__ADS_2