
Dengan tenang, Bulan menyantap menu buka puasanya di Legend Cafe petang ini. Mungkin karena dalam situasi pandemi, cafe yang biasanya terisi penuh dengan para anak muda itu terlihat lengang. Bahkan petang itu, hanya ada segelincir orang yang bersantap di tempat itu. Akan tetapi, untuk menghilangkan canggung, rupanya Bintang terlebih dahulu membuka obrolan dengan Bulan.
"Kamu suka ayam penyetnya, Bulan?" tanyanya dengan harap-harap cemas berharap gadis berparas ayu yang kini duduk di hadapannya itu akan menjawabnya dan bisa bersikap seperti biasa kepadanya.
"Iya suka, ini sambalnya cocok sih kalau menurut aku." jawab Bulan dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Walaupun jawaban yang keluar dari bibir Bulan tidak begitu banyak, dan gadis itu sering kali menunjukkan wajah datar, tetapi suara dari Bulan nyatanya sudah cukup membuat Bintang lega dan bahagia tentunya.
"Sama berarti, sambalnya juga cocok di lidah aku." sahut Bintang sembari melanjutkan makannya.
Merasa tidak enak, karena sejak tadi hanya Bintang yang mendahului untuk bertanya. Kali ini Bulan berusaha merangkai pertanyaan di pikirannya."Katamu tadi dari kantor kan? Berarti sudah mulai kerja dari kantor ya?" pertanyaan basa-basi sebenarnya, tetapi menurut Bulan itu jauh lebih baik daripada dirinya hanya bersikap pasif.
"Enggak ... ada kerjaan terkait server saja, jadi harus masuk ke kantor. Aku masih bekerja dari rumah kok. Oh, iya ... makasih ya Kue Bolunya kemarin itu.Kue Bolu buatan kamu selalu enak, dari sejak kita SMA rasanya tidak berubah. Ibu dan Bapak aja bilang kalau Kue Bolu buatan kamu enak." ucap Bintang yang tidak lupa berterima kasih dengan Kue Bolu yang sebelumnya dihantarkan Bulan ke rumahnya.
Nampak Bulan mengernyitkan keningnya. Diam-diam gadis itu berpikir.
Benarkah Kue Bolu buatanku enak? Apakah mungkin Bintang masih mengingat rasa dari Kue Bolu yang pernah kubuat di masa SMA dulu? Bukankah itu sudah berlalu begitu lama?
"Benarkah enak?" tanya Bulan seakan tidak yakin.
Bintang dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya ... enak banget kok. Bukan hanya aku yang bilang, tetapi Bapak dan Ibu juga bilang enak kok. Kapan-kapan kalau bikin lagi, aku mau ya. Beli pun aku gak apa-apa." ucapnya.
Tiba-tiba saja Bulan tersenyum."Hanya Kue Bolu tidak usah mengeluarkan uang, lain kali aku kasih lagi."jawab Bulan perlahan.
"Iya ... makasih ya. Kalau buat, biar aku saja yang mengambil ke rumah kamu." sahutnya dengan cepat.
__ADS_1
Tidak terasa disertai dengan obrolan, buka puasa keduanya pun tandas tak tersisa. Setelah itu Bintang berdiri di hadapan Bulan.
"Ayo, kita tarawih bersama."
Bulan hanya mampu menganggukkan kepalanya dan kemudian dia berdiri. Dia mengikuti langkah kaki Bintang menuju Mushola yang memang tersedia dibelakang cafe.
Keduanya melakukan wudhu, lantaran Mushola itu begitu sepi hanya ada Bintang dan Bulan, lantas Bintang pun berdiri beberapa langkah di hadapan Bulan.
"Aku imami ya ...." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Mata Bulan berkaca-kaca melihat Bintang yang kini berdiri di hadapannya dan menuntunnya untuk melakukan Tarawih.
Bulan Ramadhan tahun sebelumnya, Bulan dan keluarganya sering kali melakukan Tarawih secara berjamaah di Masjid yang berada di dekat rumahnya. Akan tetapi, di masa pandemi ini Tarawih pun dilakukan berjamaah di dalam rumah. Kesempatan langka, karena saat ini Bintang lah yang menuntunnya dan memberi diri untuk mengimaminya. Mendengar beberapa kali suara Bintang yang menuntunnya melakukan Sholat, tiba-tiba saja Bulan meneteskan mata. Mungkinkah hatinya bergetar karena sosok pria yang kini berdiri di hadapannya, ataukah Allah lah yang menggerakkan hatinya saat ini.
Begitu Sholat telah usai, Bintang kemudian mendatangi Bulan. "Sudah, yuk ...." ucapnya mengajak Bulan kembali ke dalam cafe.
"Iya ... sebisa mungkin Sholat. Kenapa?" tanyanya kembali kepada Bulan.
Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa ... aku hanya bertanya."
Begitu mereka telah kembali duduk bersama di kafe, tiba-tiba kedua netra mereka bertemu. Bulan tengah menatap Bintang, pun demikian Bintang pun tengah menyorot Bulan dengan manik matanya yang sepekat malam. Beberapa detik berlalu, hingga kemudian keduanya sama-sama berpaling dan menekankan diri mereka sendiri dengan perasaan yang entah hanya diketahui oleh keduanya.
"Coba pisang bakar cokelat kejunya ini loh ... enak ini." ucap Bintang yang mengalihkan sorot mata keduanya usai bertemu barang sejenak dengan menawarkan pisang bakar cokelat keju di hadapannya.
"Ah iya ... terima kasih." jawab Bulan dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Puasa kamu lancar, Bulan?" Bintang rupanya masih memiliki stok pertanyaan yang dia tanyakan kepada Bulan.
"Alhamdulillah ... sejauh ini lancar. Semoga tidak bolong sampai Idul Fitri nanti." jawabnya sembari tersenyum.
"Amin ... semoga lancar sampai Idul Fitri nanti. Ini bulan Ramadhan pertama di masa Corona ya?" ucap Bintang dengan kembali meminum Es Cokelat Klasiknya.
Bulan pun mengangguk tanda setuju. "Iya ... puasa pertama di masa pandemi. Awalnya aku merasa sepi, tidak bisa ngabuburit, Tarawih hanya bersama Bapak dan Ibu di rumah, suasana Ramadhan yang lengang. Akan tetapi, makin ke sini aku menyadari bisa menjalankan ibadah puasa di masa pandemi itu memiliki berkah tersendiri. Nikmat sehat yang Tuhan berikan terasa jauh melebihi segala nikmat yang ada di dunia ini." kali ini Bulan bertutur dengan begitu panjang lebar.
Bintang pun tersenyum mendengar perkataan Bulan. Di dalam hati, pria itu ingin selalu memberikan telinganya untuk mendengarkan suara Bulan, suara yang begitu dia rindukan siang dan malam.Suara yang ingin selalu dia dengar sepanjang waktu.
"Benar banget. Menjalankan ibadah puasa, dan kita tetap sehat itu berkah. Harapanku sih, bisa selalu sehat dan menjalankan ibadah dengan sepenuh hati."
"Amin ...." kali ini Bulan lah yang mengamini ucapan Bintang.
Beberapa menit berlalu, kemudian Bintang berdiri terlebih dahulu. Pria itu berinisiatif untuk membayar makanan mereka tanpa memberitahu Bulan. Setelah selesai membayar, Bintang kembali duduk di hadapan Bulan.
"Kamu naik apa ke sini?" tanyanya.
"Seperti biasa, aku naik sepeda motor. Untung saja malam ini tidak turun hujan, jadi aman bisa sampai rumah tanpa kebasahan." jawabnya dengan menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan.
Bulan lantas berdiri dan hendak membayar makanannya sekaligus berpamitan dengan Bintang. "Karena sudah malam, aku pamit duluan ya Bin ... mau ke kasir dulu. Semoga lancar ya puasanya."
Begitu sampai dikasir, rupanya petugas kasir memberitahukan bahwa makanannya sudah dibayar lunas. Dengan segera Bulan mendatangi Bintang yang saat itu berdiri tidak jauh di belakangnya. "Kenapa repot-repot Bin ... aku kan jadi enggak enak. Kita sharing yah ... bagi berdua." ucap Bulan dengan baik-baik.
Bintang pun menggelengkan kepala. "Sudah enggak apa-apa. Katamu mau pulang, ayo aku antar ya. Sudah malam, seorang gadis berbahaya naik sepeda motor sendiri malam-malam. Aku buntutin kamu dari belakang ya." ucap Bintang yang kali ini berinisiatif untuk mengantar Bulan kembali ke rumah.
__ADS_1
Ingin menolak pun Bulan merasa tidak enak, akhirnya dia membiarkan saja Bintang mengantarkannya kembali ke rumah. Membuntutinya dari belakang dengan sepeda motornya. Akan tetapi, dalam diam Bulan sesekali memegangi dadanya. memastikan bahwa hati dan jantungnya masih baik-baik saja. Rasanya kebaikan dan perhatian yang Bintang berikan kali ini begitu berkesan baginya. Bulan mengulas senyuman sembari mengingat bagaimana seorang Bintang menuntunnya menunaikan ibadah Sholat. Pemandangan dan momen yang begitu menggetarkan hati Bulan hingga gadis itu meneteskan air matanya saat menatap punggung pria yang tadi berdiri di hadapannya dan menuntunnya Sholat.